Remaja, dan Bingung
Setelah membaca artikel-artikel “Remaja Masa kini Penerus Siapa?”, dalam majalah Prisma no: 9 Th. 1985, berbagai kesimpulan dan koreksi terhadap kekurangan-kekurangan para penulis telah saya dapatkan. Kesimpulan yang saya dapat ialah, para penulis hanya menyajikan kesalahan-kesalahan yang diperbuat remaja-remaja berbeda dengan remaja sebelumnya. Barangkali para penulis senang menyinggung perasaan saya sebagai seorang remaja. Banyak di antara penulis menyalahkan remaja sebagai pemegang tanggungjawab masa datang dengan segala perbuatannya sekarang ini. Namun ada dua kemungkinan dari bukti-bukti itu.
Pertama: Penulis hanya mengungkit masalah remaja dalam konteks remaja (masyarakat) yang dengan kesalahan-kesalahannya yang tak bisa terampunkan lagi, bukan sebagai pelajaran bagi sang remaja. Akhirnya masalah remaja sukar dipecahkan! Keadaan ini diperberat lagi dengan berbagai makalah yang bisa membingungkan remaja itu sendiri sehingga mereka mengambil sikap masa bodoh. Akhirnya kegoblokan remaja itu jadi keuntungan bagi penulis makalah, bukan mencarikan jalan keluar untuk memecahkan permasalahan mereka yang semakin sulit itu.
Remaja tak akan mungkin memecahkan persoalan sosialnya sendiri. Namun, generasi tua (sepertinya para penulis makalah) hanya mengatakan yang ini salah “jika” memang salah dan yang ini betul “jika” memang betul. Semua “jika”. Tapi supaya jangan “jika” salah, bagaimana? Jangan hanya menunjukkan muka masam dan kritik yang menghunjam diri remaja dalam masa transisinya. Mereka masih sangat lemah …
Kedua: Peranan orang tua sangat penting dalam membentuk remaja karena mereka belum lagi terlepas dari sikapnya yang khas yaitu skeptis, masa bodoh, apatis, dan memberontak. Sikap yang paling ditonjol-tonjolkan ialah sikap masa bodoh dan apatis. Para penulis umumnya hanya menyalahkan orang gedongan dan para orangtua bergaji gede. Bagaimana dengan remaja yang keadaan sosialnya kebalikan dari anak gedongan? Mungkin prospeknya akan lebih suram lagi jika tak cepat diatasi.
Sebagian besar makalah dalam Prisma no. 9 Th. 1985 itu hanya menyampaikan permasalahan remaja itu sebagai anggota masyarakat tanpa jalan untuk mengatasi masalah yang ada.
Namun secara garis besar, tulisan dalam majalah Prisma no. 9 Th. 1985 cukup menarik perhatian saya, walau terasa terlalu singkat sehingga banyak hal-hal yang penting terlewatkan begitu saja. Hanya saja, besar kemungkinan para penulis menjadikan remaja lebih bingung, dan akhir dari semua itu adalah, kegoblokan remaja!. Al Chaidar Smp Neg. I Lhok Seumawe Kelas III/B. Jl. Diponegoro No. 59 Lhok Seumawe, Aceh.