Prisma

Kritik dan Komentar

Komite Anti Korupsi (KAK) Dan Malam Tirakatan

Sjahrir dalam tulisannya “Pengamanan Dana dan Daya Negara” (Prisma, No. 3, Maret 1986) pada catatan kaki nomor 3, halaman 14, menulis sebagai berikut:

“Selain itu pengarang (maksudnya Francois Raillon, penulis buku Politik dan Ideologi Mahasiswa, Jakarta: LP3ES, 1985, AB) secara salah menyebut Arief Budiman sebagai anggota KAK (hal. 81), inipun salah. yang terjadi adalah bahwa Arief Budiman tak jadi hadir di Malam Tirakatan dan sebagai gantinya dosen UI Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan penyair W.S. Rendra muncul di Jl. Thamrin dan langsung ditangkap beberapa hari.”

Entah disengaja, entah tidak, tulisan tersebut menimbulkan kesan negatif bagi diri saya. Seakan-akan saya yang mendapat nama, padahal orang lain yang bekerja/berjuang dan menderita. Karena itu saya merasa perlu memberikan penjelasan tentang masalah Malam Tirakatan dan KAK tersebut.

1. Tentang Keanggotaan KAK

Sjahrir memang benar, bahwa saya bukan anggota KAK alias Komite Anti Korupsi. Pada saat itu, pada tahun 1970-an, gerakan anti korupsi merupakan gerakan dari pelbagai kelompok pemuda dan mahasiswa. Ada yang bersifat spontan tanpa pakai organisasi-organisasian, ada yang pakai ketua, sekretaris dan sebagainya seperti gerakan dari Sjahrir dan teman-temannya. Saya kebetulan termasuk pada kelompok yang pertama.

Pada saat itu, tidak penting apakah seseorang menjadi anggota KAK atau tidak, untuk bergerak melawan korupsi. Yang lebih penting adalah siapa yang dapat menggerakkan massa. Kebetulan, saya tergabung dalam kelompok bersama eks pemimpin-pemimpin KAPPI dan KAPI, yakni Yusuf A.R., Jessy Monintja, Julius Usman. Mereka masih menguasai pelajar-pelajar yang dapat mereka gerakkan. Dan ini sudah mereka buktikan sejak gerakan “Mahasiswa Menggugat” sampai nantinya pada gerakan Anti Taman Mini dan Golput (Golongan Putih).

Kebetulan lagi, saya menjadi Direktur Yayasan Indonesia yang berkantor di Balai Budaya. Sejak tahun 1966, Balai Budaya sudah menjadi semacam “markas” sekelompok pemuda dan mahasiswa yang aktif dalam gerakan mahasiswa tahun 1966. Pada tahun 1970-an, Balai Budaya, khususnya Yayasan Indonesia menjadi semacam “markas” gerakan pemuda dan mahasiswa ketika itu. Para wartawan yang mau mencari berita tentang gerakan pemuda dan mahasiswa biasanya datang ke Balai Budaya untuk mengetahui “acara” hari itu. Orang-orang KAK sendiri selalu datang ke Balai Budaya untuk bergabung.

Pada saat itu, kami tidak pusing apakah kami anggota KAK atau bukan. Dan kami juga tidak ambil pusing kalau koran memberitakan gerakan kami sebagai gerakan KAK. Yang penting adalah bergerak untuk (mencoba) mengganyang korupsi. Bahkan kami sempat tersenyum dulu, ketika KAK dibentuk secara begitu formal, dengan ketua dan sejumlah sekretaris segala. Baru sekarang, pada tulisan Sjahrir ini, masalah keanggotaan KAK dipersoalkan. Padahal pada waktu itu, kalau orang menyebut KAK, yang dimaksud adalah gerakan secara keseluruhan, bukan organisasi formalnya. Tidak berlebihan kalau saya katakan, KAK sebagai organisasi formal tenggelam di dalam KAK sebagai simbol gerakan anti korupsi. Karena itulah tidak mengherankan kalau Raillon mengira saya anggota KAK.

2. Tentang Malam Tirakatan

Ide Malam Tirakatan datang dari kelompok KAK. Ide tersebut mendapat sambutan yang hangat, juga dari kelompok Balai Budaya. Kami semua bekerja mempersiapkan hal tersebut. Kehangatan ini menjadi “panas” ketika almarhum Subchan ZE, salah seorang Ketua NU membuat pernyataan pers yang mengatakan dia akan menurunkan ribuan pemuda Ansor untuk mendukung Malam Tirakatan yang akan diselenggarakan pada tanggal 15 Agustus itu.

Pada titik inilah Jenderal Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib menyatakan larangannya. Di kalangan kami, terjadi dua sikap. Yang pertama adalah sikap Sjahrir dan kawan-kawannya yang berusaha mencari cara lain untuk menghindarkan “clash terbuka” dengan Kopkamtib. Mereka lalu menghubungi Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta ketika itu), dan kemudian mereka bersetuju untuk mengganti Malam Tirakatan dengan kampanye mematikan lampu selama 15 menit.

Saya dan teman-teman saya berpikiran lain. Buat kami ketika itu, mundur dari Malam Tirakatan akan sangat memalukan, karena artinya begitu “digertak” oleh Kopkamtib kami mundur. Karena itu, kami ingin melaksanakan terus Malam Tirakatan di Jalan Thamrin itu, dengan memperketat pengamanan supaya tidak disusupi oleh unsur luar untuk menjaga perjuangan kami.

Saya ingat ketika itu, beberapa orang datang ke Balai Budaya (antara lain Umar Kayam dan Marsillam Simandjuntak) untuk “membujuk” kami membatalkan tekad kami. Saya dan teman-teman tegas-tegas menolak membatalkannya. Pada waktu itu, yang kami khawatirkan adalah, bila Malam Tirakatan dibatalkan, dan kampanye memadamkan lampu dilaksanakan, bagaimana kalau terjadi orang-orang tidak memadamkan lampu? Bukankah suatu “kekalahan” total bagi gerakan anti korupsi tersebut? Koran pasti akan menyiarkannya, dan dengan mudah gerakan anti korupsi dituduh sebagai gerakan dari segelintir orang yang frustrasi saja. Karena itu, saya dan teman-teman saya tetap bertekad melaksanakan Malam Tirakatan, hanya pengamanan diperketat.

Beberapa kali saya didatangi para wartawan, dan di muka pers saya tetap menyatakan bahwa Malam Tirakatan akan terus dilaksanakan. (Periksa koran-koran ketika itu). Baru pada waktu menjelang tanggal 15 Agustus, saya mundur sedikit, yakni dengan menjadikan Malam Tirakatan sebagai gerakan simbolistis belaka. Yang muncul bukanlah orang-orang seperti saya, tapi orang-orang yang dianggap “murni” seperti W.S. Rendra, Dorodjatun Kontjoro-Jakti, dan beberapa orang lainnya.

Untuk menjaga keamanan mereka, saya bersama Jopie Lasut dan Henk Tombokan pergi menemui seorang perwira tinggi Kodam Jaya untuk menjelaskan rencana kami. Juga untuk minta perlindungan, supaya kami tidak disusupi oleh unsur lain yang mau memancing di air keruh. Saya menjamin kemurnian gerakan kami, yakni bahwa kami hanya ingin melihat kebersihan pemerintah Orde Baru, tanpa ada maksud politik lainnya.

Ketika Malam Tirakatan berlangsung, saya juga ada di Jalan Thamrin. Saya membuat selebaran stensilan yang saya bagikan kepada para wartawan yang hadir, yang isinya menjelaskan tujuan dari Malam Tirakatan ini. Saya melihat ketika sebuah mobil militer datang dan membawa orang-orang yang melakukan tirakatan di jalur hijau Jalan Thamrin (kalau tidak salah, jumlahnya 9 orang).

Kemudian, kalau tidak salah juga bersama Jopie Lasut dan Henk Tombokan, kami pergi mencari ke mana Rendra dan kawankawan ini dibawa. Baru sekitar pukul satu pagi, kami tiba di Skogar (sebelah gedung Kostrad) dan ketika kami menanyakan tentang orang-orang yang tirakatan, kami langsung dibawa ke suatu ruang untuk menemui mereka dan … sekaligus ditahan. Saya lihat Dorodjatun sedang berbicara dengan seorang kapten tentang gerakan mahasiswa di AS, Rendra sedang berbicara tentang hak melakukan kritik, dan sebagainya.

Pada saat itu, saya berusaha meyakinkan salah seorang komandan jaga bahwa kami yang datang belakangan adalah wartawan, bukan demonstran. Karena itu kami tidak patut ditahan. Usaha ini saya lakukan, karena kalau kami bisa keluar dari sana, kami dapat mengurus pengeluaran teman-teman kami ke aparat militer yang lebih tinggi.

Usaha saya berhasil, dan setelah menunjukkan kartu pers, kami diperbolehkan pulang kira-kira pukul 5 pagi. (Hal ini sempat menimbulkan salah pengertian pada Rendra, yang menganggap saya tidak solider).

Setelah keluar, karena masih pagi, saya dan Jopie bersepakat untuk pulang dulu ke rumah. Pagi harinya, kami akan bertemu lagi di Balai Budaya untuk menentukan langkah apa yang akan dilakukan untuk mengeluarkan teman-teman. Tapi, sebelum ada tindakan dari pihak kami, teman-teman yang tirakatan sudah dilepaskan pada hari itu juga oleh Skogar. (Jadi tidak benar tulisan Sjahrir yang mengatakan bahwa mereka ditahan beberapa hari. Mereka hanya ditahan satu malam).

Begitulah, pada akhirnya segala sesuatu selesai dengan selamat. Dan yang penting, Malam Tirakatan tetap dilangsungkan. Bagi saya ini sebuah kemenangan moral bagi gerakan, karena kami tidak menyerah pada ancaman kekuatan. Saya dengar juga, kampanye pemadaman lampu berjalan dengan sukses. Sebagian besar penduduk Jakarta memadamkan lampunya pada jam yang ditentukan, termasuk mereka yang tinggal di daerah Menteng. Ini menunjukkan bahwa gerakan anti korupsi memang mendapat dukungan yang meluas, paling sedikit dari penduduk Jakarta.

Masih banyak sebenarnya hal yang menarik yang dapat diceritakan, tapi untuk tujuan tulisan yang sekarang ini, saya kira keterangan saya ini sudah lebih dari cukup. Arief Budiman Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga


Wanita dan Emansipasi

Setelah saya membaca tulisan-tulisan yang terdapat dalam majalah Prisma No. 10, 1985, terutama pada “Dialog”, maka, saya berpendapat banyak dari tulisan itu diisi oleh kaum wanita sendiri, tapi mungkin tak ada yang beragama Islam, ataupun hanya Islam kulit-nya saja.

Salah satu ciri yang paling dominan bagi setiap wanita Islam ialah berbusana Jilbab. Tampaknya inilah yang saya namakan humanisme yang tak dipakai pada tempatnya. Dehumanisasi, yang menandai bukan saja mereka yang telah dirampas kemanusiaannya, tetapi juga mereka yang telah merampasnya, sebagai sebuah penyimpangan fitrah untuk menjadi manusia sejati.

Tampaknya mereka ini rugi sekali memperjuangkan “emansipasi” para kaum wanita, walau hanya untuk menyamakan derajat dengan kaum pria. Padahal buat apa susah-susah berjuang menyamai derajat, karena dalam Islam, wanita itu lebih tinggi derajatnya dari pada lelaki. Buktinya Tuhan menyuruh kaum lelaki melindungi kaum wanita.

Umumnya tulisan dalam Prisma, terutama “Dialog”-nya itu, seakan-akan lelaki itu saingannya atau lawannya wanita. Saya menjawab “ya”, jika ditinjau dari segi bahasa Indonesia. Kata wanita merupakan lawannya (lawan kata) pria. Tapi sebenarnya hal itu adalah kawan. Dengan jalan ini dapatkah dijadikan sebuah refleksi mendalam mengenai jalan pembebasan wanita? Jika kita mau berpikir sejenak, wanita dan pria itu memang memiliki beberapa perbedaan. Tapi juga laki-laki dan wanita tak ada beda. Al Chaidir, SMT Neg. I. Lhok Seumawe Kelas III/B Jl. Samudra, Lhok Seumawe Aceh Utara

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan