Prisma

Kritik dan Komentar

Tanggapan untuk Arief Budiman

Arief Budiman menulis dua setengah halaman untuk sebuah catatan kaki dari tulisan saya, Sjahrir, (Prisma no. 3, 1986 catatan kaki no. 3). Fungsi catatan kaki hanyalah memberi penjelasan lebih lanjut, mencatat sumber yang menjadi dasar penulisan pengarang dengan lebih rinci dan/atau mengkoreksi serta menambahkan perbaikan fakta menurut pengetahuan pengarang dalam kaitan dengan sumber penulisan. Dari awal tulisan sudah saya nyatakan sulitnya menulis sebagai participant observer. Karena itu, saya juga bercakap-cakap dengan beberapa participant sebelum memulai penulisan. Begitupun, percakapan saya dengan antara lain Jopie Lasut, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dan A. Razak Manan, tidaklah menggeser tanggung jawab sebagai penulis yang kini saya rinci karena komentar Arief Budiman.

1). F. Raillon menyatakan Arief Budiman sebagai pimpinan KAK. (hal. 68). Catatan kaki saya mengoreksi kesalahan F. Raillon. Tulisan Arief Budiman membenarkan koreksian saya: dia bukan anggota KAK.

2). F. Raillon menyatakan bahwa pemadaman lampu (hal. 81) berlangsung lima menit dalam Malam Tirakatan. Catatan kaki saya mengoreksi dan menyebut lima belas menit masa pemadaman lampu. Arief Budiman membenarkan bahwa masa pemadaman lampu adalah 15 menit.

3). Saya menulis bahwa Dorodjatun dan Rendra ditahan untuk beberapa hari. Arief Budiman menulis bahwa mereka hanya ditahan sehari. Kini saya tahu bahwa yang benar mereka ditahan dua hari satu malam.

Dengan tiga point ini soal komentar mengenai catatan kaki dari tulisan telah selesai. Arief Budiman menulis, entah disengaja, entah tidak, tulisan tersebut menimbulkan kesan negatif bagi diri saya. Ini amat saya sesalkan karena seharusnya penjernihan fakta dalam catatan kaki tak perlu menimbulkan kesan tersebut bagi kita yang berupaya menggali kebenaran. Tapi, karena tulisan Arief Budiman yang seraya mengomentari sebuah catatan kaki, juga menyinggung gerakan pemuda dan mahasiswa, maka saya merasa perlu mengomentari pandangan dan segi-segi yang menurutnya merupakan fakta dari gerakan mahasiswa, pemuda dan pelajar. Uraian saya adalah sebagai berikut:

1). Akan halnya peran “Balai Budaya” menurut hemat saya tak perlu dijelaskan karena tak relevan dengan topik karangan yang hanya membatasi diri pada gerakan MM, dan KAK.

2). Saya kira tidak tepat bila Arief Budiman menyatakan “orang-orang KAK, sendiri selalu datang ke Balai Budaya untuk bergabung” (hal. 92). Saya tahu pasti bahwa markas KAK pada waktu itu berada di harian KAMI (Kramat VIII no. 4/kini Jl. Jambrut no. 4) dan setiap hari di masa-masa demonstrasi KAK. Harian KAMI memuat ruang “dompet KAK” yang mencatat meluasnya keanggotaan KAK dan sumbangan uang yang diberikan oleh segenap lapisan anggota masyarakat dari seluruh Indonesia.

3). Akan halnya rencana kehadiran Saudara Arief Budiman di Malam Tirakatan, seingat saya ia mengunjungi tempat tinggal saya dulu (Jl. Sumbawa no. 11) dan menyampaikan tekadnya untuk melaksanakan Malam Tirakatan. Saya ingat, saya menjawab ini terserah dia karena dia bukan anggota KAK, dan karena itu tidak terikat dengan keputusan KAK, yang membatalkan acara Malam Tirakatan dan menggantikannya dengan rencana pemadaman lampu. Nyatanya ia tidak jadi ikut dan yang serta dalam “Malam Tirakatan” adalah seniman Rendra dan teman-temannya, serta Dorodjatun K.-Jakti.

4). KAK, sendiri berhasil menjaga disiplin anggota. Ratusan, bahkan mungkin ribuan anggota KAK, yang terdaftar patuh pada disiplin. Mereka tidak hadir di Malam Tirakatan tetapi turut memadamkan lampu selama 15 menit bersama sebagian terbesar masyarakat Ibu Kota.

5). KAK tidak pernah punya Ketua (menurut Arief ada!) dan hanya memiliki sekretaris-sekretaris yang kerjanya bersifat teknis melaksanakan keputusan anggota.

6). Karena itu pula saya heran dengan pengelompokan yang dibuat Arief Budiman yang seolah-olah membedakan kelompok yang bersifat spontan (yaitu yang menurutnya kelompok di mana Arief Budiman bergabung) dan yang “terorganisasi” (jadi tidak spontan?). Yang saya tahu pasti pencetusan kegiatan MM dengan spontan dimulai oleh orang-orang seperti Harry Victor, Hendro Budidarmo dan Benny Mamoto. KAK dengan rencana Malam Tirakatannya dicetuskan oleh antara lain almarhum Imam Waluyo, Chaidir Makarim. Kebetulan sekali saya tahu persis dalam kedua kegiatan yang relevan dengan artikel (MM dan KAK), Arief Budiman baru kemudian datang menyusul. Begitu banyak soal spontanitas.

7). Walhasil saya tak percaya dengan pengelompokan yang dibuat Arief Budiman. Saudara-saudara Yusuf A.R., Jessy Moninca, Jopie Lasut dan Julius Usman, nama-nama yang disebut Arief Budiman sebagai kelompoknya, selalu berjuang bersama-sama teman-teman lain dan saya sendiri dari 1966 hingga Peristiwa Malari. Mereka dengan teman-teman lain bahkan terus membantu saya dengan segala cara yang mungkin, hingga saya bebas dari tahanan di akhir 1977.

Alangkah baiknya bila hipotesa saya, bahwa “pemberantasan korupsi dapat menjadi faktor integrasi bangsa” yang dikomentari Arief Budiman. Mungkin ini lebih berharga daripada membahas sebuah catatan kaki. Sjahrir

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan