Kenapa Ogah Pada “INDO”?
Bermukabalah perihal perbenturan nilai-nilai di latar kebudayaan kita, memang senantiasa menarik hati. Dari dirinya mencuat keinginan mengenal diri lebih dalam dan lugas. Sayang pembicaraan senantiasa tak sudah, maka menyimak PRISMA no. 11 – 1981 yang membincangkan hal tersebut, saya ketemu dengan berbagai pengulangan “ramuan” yang kian hari terasa kian cemplang. Tinjauan yang berpretensi necis macam begitu, mana bisa menggetarkan jagad kebudayaan kita yang penuh lumpur?
Pertanyaan perihal apa itu “nilai-nilai Indonesia” yang terlontar lewat alinea ke enam Topik Kita, Manuel Kaisiepo (“Potret Diri”), serta kecurigaannya terhadap pendekatan-pendekatan dalam membahas permasalahan ini, barangkali mewakili sebuah rasa kegelisahan yang panjang, bukankah kebisingan pembicaraan atas topik macam ini adalah sebuah kesia-siaan, karena kita tak pernah sampai terminal gagasan?
Adalah jitu kesimpulan Manuel Kaisiepo bahwa manusia Indonesia persis potret diri garapan Basuki Abdullah, kalau cuma sampai di situ. Karena hal itu sebenarnya sudah jelas mengejawantahi keindonesiaan kita. Sayang masih diberi embel-embel lebih indah (tetapi bisa juga lebih buram) dari warna aslinya. Sayang, karena embel-embel ini menunjukkan bahwa kita serba ragu menerima keberadaaan kebudayaan dengan nilai-nilai yang Indonesia. Kita menampik realitas bahwa buruk atau baik, indah atau tak indah, berbobot atau ampang, adalah keindonesiaan itu sebuah hasil asembling. Kebudayaan kita dan seantero nilai-nilainya adalah hasil perakitan. Kenapa mesti dihujat?
Cobalah kita tengok lagu kebangsaan kita Indonesia Raya. Adakah konsepsi musikal yang “asli” Jawa, Sulawesi, Sumatera, Bali di sana? Tidak. Bahkan musikus Amir Pasaribu pada tahun 1950-an menunjukkan beberapa kesamaan notasi lagu tersebut dengan sebuah lagu jazz Lekka-Lekka, Pinda-Pinda. Namun, apakah hal itu menurunkan rasa hormat atau rasa haru atau rasa bangga kita tatkala mendengarnya? Tidak. Karena kita merasa hati-nurani kita terwakili oleh lagu kebangsaan itu. Lagu itu telah menjadi amanat suci bangsa dan negara ini. Dia sebuah hasil asembling. Antara disiplin teori musik yang barat, serta kelembutan perasaan timur yang sarat renungan. Nilai barat dan timur yang bukan sekedar hubungan penjajah dengan yang terjajah, menemukan harmoni dalam daya cipta Wage Rudolph Supratman, dan hasilnya adalah sebuah lagu yang menggerakkan bangsa!
tidak, apapula bahasa Indonesia? Bukankah bahasa ini lahir oleh sebuah semangat yang dilandasi nilai asembling? Suatu hari, Kris Biantoro, pembaca acara Pelangi, sebuah program TVRI, mengajukan pertanyaan pada dua Nyonya ayu serta dua Tuan yang sarjana, kata bendera yang sudah jadi bahasa Indonesia itu, sebenarnya berasal dari bahasa apa? Pasangan tuan dan nyonya itu, kebanyakan menjawab dari bahasa Jawa. Barangkali dilandasi semangat sok asli. Ada yang bilang dari bahasa Sansekerta, barangkali lantaran ingat bahwa yang keramat-keramat biasanya diambil dari bahasa itu. Eh, ternyata yang benar adalah dari bahasa Portugis. Ini contoh alit saja. Kalau mau diutak-atik, kita barangkali boleh sepakat bahwa bahasa kebangsaan kita itu adalah asembling dari Capcay (Cina), Martabak (India), Kurma (Arab), serta Hamburger (Barat). Jangan kuatir, semua santapan lezat.
Belum lagi pilar-pilar kebudayaan yang lain. Apakah itu Politik, Ekonomi, atau Kemasyarakatan. Semua ini bukan tidak kita sadari. Apakah dia Politisi, atawa Akademisi pasti paham betul perkara ini. Kakek kita, Tuan S. Takdir Alisyahbana, bahkan dengan begitu telatennya memaparkan nilai-nilai macam apa saja (yang luhur atau yang buram) yang telah menggebrak sejarah kita, dan kita mengerti itu. Kita ini bangsa yang paling cepat paham untuk kemudian manggut-manggut. Namun sampai di situ saja. Selanjutnya kita ogah, emoh, malu menerima realitas itu, karena dengan sendirinya, kita harus meragukan keaslian kita sebagai satu kebangsaan. Polemik kebudayaan tak pernah usai, cuma semakin hari kian melorot. Generasi Gelanggang pada tahun lima puluhan sudah siap menerima kenyataan keindoan kebudayaan kita, namun lima tahun kemudian, sebuah angkatan terbaru dalam kesusastraan Indonesia memproklamirkan diri sebagai generasi yang ingin mendalami keindonesiaan dari khasanah sastra daerah saja. Tak perlu sibuk dengan sastra dunia.
Kita ternyata takut pada realitas, bahwa kita ini bangsa yang menyandang nilai-nilai yang asembling. Yang Indo. Saya rasa, inilah kunci problematik kebudayaan kita. Bangsa Filipina, tak punya rasa minder begituan. Kalau mereka bicara tentang Filipinos, maka mereka percaya di sana bermuara tradisi Melayu Polynesia, Negrito, Mongol dan Bule, karena itu dengan bangga mereka akan bilang bahwa mereka adalah bangsa Mestizo. Generasi baru mesti berpijak pada landasan nilai-nilai dari kemestizoan itu. Mereka sadar diri. Ini kunci untuk bisa tahu diri.
Nah, terpulang pada kita sekarang, untuk maukah kini kita menerima realitas, perihal diri kita, sebagaimana yang telah banyak diungkapkan para ahli kebudayaan kita, dengan lebih jujur. Paradigma Baru kebudayaan kita pertama-tama haruslah bermula dari kejujuran. Kalau tidak, maka kita akan senantiasa ngambang, sebagaimana termaktub dalam esei Gunawan Mohammad – Kesusastraan Indonesia dan Kebimbangan: “dari lingkungan kebudayaan yang belum sudah, yang bernama Indonesia, berada di antara masa silam yang menjauh dan masa depan yang belum pasti.” Arthur John Horoni Radio ARH – Cikini Raya 73 Jakarta Pusat