Prisma

Kritik dan Komentar

Semoga Ini Bukan Prestasi

Membaca keseluruhan isi Prisma No. 12, 1981 tentang partai politik, saya lantas punya kesan, bukan cuma Partai Demokrasi Indonesia dan Partai Persatuan Pembangunan yang keropos dalamnya, sebab Golongan Karya juga ikut-ikutan seperti itu. Cuma barangkali, kepandaian orang-orang di Golkar ini cukup terpuji untuk menyimpan “kekeroposannya”, sehingga walau pun sudah dalam kondisi yang tidak jauh berbeda dengan kedua partai yang ada dari hasil fusi, peranannya di negeri ini masih amat jauh meninggalkan kedua partai lainnya. Malah, baik PDI maupun PPP tampaknya merasa perlu untuk bernaung di bawah kerimbunan daun pohon beringin itu.

Kalaulah ini saya hubungkan dengan ucapan Menteri Dalam Negeri Amirmachmud bahwa dalam partai politik sedang terjadi krisis kepemimpinan, dan apa yang dikatakan Ketua Umum DPP-PDI Soenawar Soekowati, bahwa partai politik sekarang ini makin menciut, maka kita pun perlu bertanya, sampai seberapa jauh ciutnya peranan parpol ini. Di masa lalu, pada zaman Soekarno, menciutnya peranan partai-partai politik (kecuali PKI), membuat kultus individu terhadap Pemimpin Besar Revolusi semakin besar. Semua suara pada zaman itu saya nilai sudah senada, walaupun di sana-sini masih ada “gerutu-gerutu” karena tidak-sejalannya pendapat dengan Pemimpin Besar Revolusi. Tetapi “gerutu-gerutu” itu pun tetap terpendam. Lantas dengan menciutnya peranan partai politik sekarang ini, saya khawatir kultus terhadap seseorang bisa hidup lagi, padahal ketika Orla tumbang, dan Orba tampil, kehidupan partai politik seakan-akan berlari dengan full speed untuk mengejar kemelempemannya dulu. Kalau benar apa kata Soenawar Soekowati, tentunya karena kelewat full speed lantas jadi mogok akibat “mesin” yang keliwat tua.

Tetapi mungkin hal itu terjadi karena fusi baru berusia muda. Belum lagi tua. Sembilan tahun memang belum apa-apa, seperti kata Sabam Sirait ketika mengomentari ucapan Mendagri. Cuma, apakah usia PNI yang sudah cukup tua masih perlu 100 tahun lagi untuk tidak terus-menerus mengalami krisis kepemimpinan. Memang masih muda kalau misalnya mau hidup “seribu tahun lagi” seperti kata Chairil Anwar. Tapi apakah bisa hidup selama itu, kalau terus-menerus dirundung krisis kepemimpinan, yang oleh Ridwan Saidi, krisis kepemimpinan dalam partai politik dan kericuhan yang tak pernah padam namun masih terus hidup dianggap sebagai prestasi? Kalaulah memang kita mau menganggap itu sebagai prestasi, bersiap-siaplah untuk terus-menerus membuat kericuhan, karena barangkali itu pula yang termasuk salah satu seni kehidupan partai. Mungkin, ciutnya peranan partai politik dalam kehidupan politik kita juga bisa dianggap sebagai prestasi yang patut dicatat. Apakah begitu? Semoga tidak! E. SIMANDJUNTAK, Jakarta Timur

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan