Prisma

Kritik dan Komentar

Soal Ivan Illich

Ivan Illich “menjadi mode untuk dikutip-kutip”, tulis Manuel Kaisiepo (“Topik Kita”, Prisma 2/1981) hanya berarti bahwa gagasan-gagasan Illich, seperti yang lain-lain, diperlakukan sebagai komoditi. Gagasan-gagasan Illich telah dijinakkan, lebih tepat, disangka telah berhasil dijinakkan, oleh kaum sekolahan kita. Sehingga mereka inilah yang memonopoli dan menafsirkan Illich, seolah Illich menujukan analisa-analisanya untuk mereka. Akhirnya, bahasa Illich itu, dalam penafsiran kaum sekolahan, telah menjadi bahasa kaum spesialis yang mandul. Bahasa yang dipisahkan (destorted) dari referensi obyektifnya atau konteks sosialnya, dan karena itu, kehilangan kekuatan untuk mengubah (praksis).

Dan mereka yang terjebak dalam upacara kaum sekolahan ini, yang memperlakukan konsep-konsep, gagasan-gagasan dan bahasa seperti yang “diajarkan” oleh guru-guru mereka di sekolah dan di luar sekolah, dalam bahasa koran yang ketakutan dibreidel, dalam bahasa komentar Saudara Widyarto (“Kritik dan Komentar”, Prisma 4/1981) yang abstrak dan distortif itu, yakni sebagai komoditi, sudah pasti tidak akan mendapati apa-apa dari membaca buku-buku Ivan Illich itu. Kecuali, tentu saja, satu lagi teori, satu lagi konsep, satu lagi “penjelasan”, dan satu lagi kredit-point dari guru-guru mereka itu, untuk mengukuhkan justifikasinya sebagai kaum sekolahan, atas kutipan-kutipan dari penulis dan dari bahasa asing itu. Coba perhatikan kutipan berikut ini :

(Apa gunanya pendidikan kalau hanya menghasilkan robot, tanya Kaisiepo. Rendra mengecam pencekokan ilmu-ilmu barat dengan kaku. Di Paris, . . . , Sartre mengatakan, “Hakekat intelektualisme harus ditentang.” Mahar Mardjono menjawab: sarjana yang merakyat. (“Kritik dan Komentar”, Prisma 4/1981) Garis bawah ditambahkan.

Demikianlah, kutipan-kutipan ini boleh ditambah terus dengan bebasnya. Tapi hasilnya hanya semakin tidak jelas dan tidak berarti karena telah didestorsi dari referensi obyektifnya, dijinakkan kekuatan katanya. Lebih serius lagi, apa yang kemudian dilakukan Saudara Widyarto dengan statemen-statemen yang telah didestorsi dari sasarannya itu, adalah membikin struktur baru (Struktur Widyarto sendiri, misalnya, Kaisiepo “bertanya,” Mardjono “menjawab”,). Dari sinilah lahirnya monopoli dan manipulasi kaum sekolahan atas bahasa dan pesan-pesan!

Bahasa kaum sekolahan ini, akibat destorsi-destorsi itu dan restrukturisasi realitas itu, penuh konsep-konsep asing yang ditarik-tarik dari realitas sehari-hari (abstrak), sedemikian jauh, sampai kehilangan relevansinya. Bahasa kaum sekolahan, bukan lagi menjelaskan realitas sehari-hari, sebaliknya menutup-nutupi realitas itu bagi orang banyak dan menciptakan struktur realitas baru bagi mereka dan dirinya sendiri. Inilah bahasa kaum spesialis, yang hanya bisa dipakai di kalangan kaum itu sendiri, dengan “tahu sama tahu”, tapi menjadi rahasia dan menakutkan bagi orang kebanyakan.

Coba perhatikan bagaimana kaum sekolahan, kaum spesialis itu, merumuskan persoalan nya sendiri:

Yang ditolak Ivan Illich adalah sistemnya, sedang kita mempersoalkan hasilnya (Hasil Sistem Sekolah). Jalur yang mempertemukan keduanya adalah persetujuan bahwa harus ada sesuatu yang diberikan kepada seseorang supaya ia menjadi lebih berbobot seraya berkembang ke arah kedewasaan. (Garis bawah ditambahkan).

Taruhlah ini bukan bahasa yang terasing (alienated) dari realitas yang dihayati orang kebanyakan. Tapi, gagasan sebesar apa gerangan yang ingin disampaikan Saudara Widyarto dalam bahasa yang begini abstrak? Siapa “kita” yang ingin di-claim itu? Apa itu “persetujuan”? Apakah setiap orang adalah “kita”? Apakah “persetujuan” itu adalah transaksi antara penjual dan pembeli atau antara penjual dan makelar yang cari laba? Hanya “kita” kah, dosen, guru, produk-produk sekolah lainnya, yang boleh mendefinisikan persoalan pendidikan bangsa? Jika ya, apa dasarnya? Apa “seseorang” itu adalah setiap orang? Jika tidak, apa syarat-syaratnya untuk menjadi “seseorang” itu? Apa itu “sesuatu”? Apa itu “berbobot” Apa pula tolok-ukurnya dan siapa yang kuasa menentukannya? Apa itu “kedewasaan”?

Karena memperlakukan konsep-konsep sebagai komoditi dan sikap kaum sekolahan adalah sikap konsumen, maka bahasa bagi mereka menjadi perhiasan dan intelektualisme (idiologi kaum sekolahan) menjadi kegenitan. Coba perhatikan kutipan berikut,

(Mahar Mardjono menjawab: sarjana yang merakyat.) Bukan yang mengunci diri dalam kotak kaca, bercekak pinggang dan menengadahkan muka di dalamnya, tapi impoten begitu keluar kotak. Bukan yang menciptakan garis tegas yang melarang orang luar masuk dalam lingkungan pendewaan terhadap berhala ilmu.

Ada berapa gagasan dalam kalimat-kalimat yang meliuk-liuk ini? Hanya ini: Ojo Dumeh (Jangan Sombong). Tapi bahasa kaum sekolahan yang genit, polluted dan kehilangan kepercayaan kepada kekuatan kata, memerlukan tiga puluh kata untuk ekspresi yang cukup diungkapkan dalam dua kata. Selebihnya, bukannya “sarjana yang merakyat”-nya Mahar Mardjono menjadi semakin jelas, tapi menjadi ungkapan kejengkelan dan frustrasinya sendiri.

Suatu pemahaman atas ide “Hidden Curriculum” yang merupakan inti analisa Ivan Illich, tidak pernah membawa kepada kesimpulan mental sebagai sebab. Mental selalu akibat! Suatu pemahaman (knowing) dan bukan ingatan (memorizing) atas “Kurikulum Tersembunyi” Illich, tidak pernah bicara tentang pengandaian adanya mental yang terpisah (destorted) dari konteks sosial, tapi bicara tentang mental yang sudah dimanipulasi. Ivan Illich menyebutnya dengan “Underdevelopment“.

Sekali kita melihat bahwa sekolah itu sendiri dalam persoalan, bahwa persoalannya adalah sekolah. Dalam perspektif ini, “ijasah palsu” dan “kelas feodal elite baru,” adalah konsekuensi dari monopoli dan manipulasi oleh sekolah. Soal “ijasah-palsu,”? Sekolah memonopoli suplay untuk hampir semua lapangan pekerjaan di kota-besar. Gejala “kelas feodal-elite baru,”? Sekolah, melalui sertifikat yang dikeluarkan, melalui tingkat-tingkat yang tak bisa dijangkau kebanyakan orang, demikian Illich, “memberi justifikasi atas pengkastaan masyarakat dengan jauh lebih keras dari gereja zaman dulu.” Jelaslah soalnya tidak cukup diterangkan dengan makian “mental kerdil! Mengatasinya tidak cukup dengan program Kuliah Kerja Nyata atau Pengabdian Sosial yang pernah kita kenal !.

Sebaliknya, kami berpendapat, kesimpulan Widyarto (“Mental: Soal Utama”) dan konsekuensi dari padanya, sepanjang kesimpulan itu cukup mengaji “Hidden Curriculum” Ivan Illich, adalah misleading! Sebaliknya tuduhan “mental-kerdil,”, tak lebih dari pengandaian kaum sekolahan yang berbicara di luar konteks sosial di mana untuk bisa bekerja orang musti melalui pintu sekolah. “Mental sebagai sebab”, adalah verbalisme, predjudice kaum sekolahan belaka. Kami telah tunjukkan bagaimana itu terjadi, Kesimpulan Widyarto adalah konsekuensi dari pemahaman yang distortif atas Kaisiepo, Rendra, Sartre, Ivan Illich. Dari destorsi-destorsi itu, ia membikin struktur baru yang lepas dari realitas (referensi obyektif Kaisiepo, Rendra), dan menjadi abstraksi yang tidak bermanfaat (verbalisme). Pengabaian yang sama atas konteks sosial di mana “ijasah palsu” terjadi, itulah yang membawa kesimpulan kepada “mental kerdil”.

“Dan jika itulah yang didapat Saudara Widyarto dari sekolahnya, jelaslah apa yang dimaksud “Hidden Curriculum”, itu. Hidden Curriculum mengajarkan kepada siswa-siswa untuk mendistorsi bahasa, konsep, kutipan, dari referensi obyektifnya. Hidden Curriculum mengajarkan kepada siswa-siswa untuk memaki-maki, menuduh dan predjudice terhadap orang lain. Hidden Curriculum mengajarkan kecerobohan sekaligus kompetensi untuk ngomong, kepada lulusan-lulusan sekolah. Dan siswa-siswa mempelajari hal itu, misalnya, dari penulisan paper dengan kutipan-kutipan yang fungsinya sebagai perhiasan belaka, yang tidak ada relevansinya dengan analisa dan kesimpulan. Siswa-siswa mempelajari hal itu, misalnya, dari cara guru mengajarkan konsep yang didestorsi dari metode dan teorinya. Lantas apa relevansi Illich terhadap situasi dan dialog persekolahan dewasa ini?”

Suatu pemahaman atas ide “Kurikulum Tersembunyi” akan memberikan apa yang oleh Paulo Freire disebut Concientization (penyadaran), atas realitas-sosio-kultural yang membentuk kehidupan siswa-siswa dan kapasitas mereka untuk mengubah realitas itu. MS Baron  & M Farid, Pusat Pengembangan Budaya, Jln. Katamso Selatan 57 Pav, Yogyakarta.

Masalah Pengusaha Pribumi dan Non-Pribumi

Pada Prisma no 4 April 1981, isinya ramai memperbincangkan tentang pengusaha pribumi dan non-pribumi. Mulai dari bagian I (Topik) oleh penulis R.A.J. Kaptin Adisumarta, H.W. Dick, Christianto Wibisono; bagian II (Dialog) oleh Thee Kian Wie, R.H.S. Bratanata, Siswono Judo Husodo; dan bagian III (Buku) oleh T. Mulya Lubis. Mereka semuanya meninjau masalah pengusaha pribumi dan non-pribumi dari segi-segi yang berlainan, bahkan ada tulisan di antara mereka yang saling “tonjok-tonjokan”.

Tonjok-tonjokan tersebut dapat dibaca dalam tulisan saudara Christianto dan saudara Mulya (masing-masing dalam artikel “Antara Mitos dan Fakta” oleh Christianto Wibisono dan “Pleidoi Bagi Pengusaha non Pribumi” oleh T. Mulya Lubis). Pertarungan pena mereka berkisar dalam hal mengemukakan dan mempertahankan argumentasi masing-masing dari segi yang berlainan terhadap masalah dominasi pengusaha non pribumi dalam sektor ekonomi. Saudara Christianto dari segi fakta otentik yang tertulis dan saudara Mulya dari fakta praktis yang berada pada sisi lain dari fakta otentik tertulis. Pendapat saudara Christianto dan Mulya masing-masing memiliki kebenarannya. Kita tidak bisa menyatakan bahwa pendapat saudara Christianto tentang penelitian PMA/PMDN yang berdasarkan data dari TBN RI tidak meyakinkan dan semata-mata menjadi mekanisme mencari pembenaran seperti yang dinyatakan oleh saudara Mulya. Riset tersebut tujuannya bukanlah untuk mencari kebenaran ataupun pembenaran seperti hal yang lazim terjadi pada ruang sidang di pengadilan antara terdakwa dengan hakim. Tetapi tujuan riset tersebut adalah untuk menghitung secara cermat besarnya persentase pemilikan saham oleh berbagai golongan di Indonesia berdasarkan fakta dan data yang nyata dan sah (TBN RI). Hasil riset tersebut bukanlah dikarang/diciptakan sedemikian rupa hingga menyangkal pendapat masyarakat awam dan intelek bahwa pengusaha non-pribumi mendominasi perekonomian Indonesia.

Jadi pendapat saudara Christianto tentang hasil penelitian tersebut dapat dinilai cukup obyektif. Di samping itu pendapat saudara Mulya juga tidak dapat dikatakan menentang fakta otentik yang sah (TBN RI). Dalam hal ini pendapat saudara Mulya adalah bertitiktolak dari segi fakta praktis dalam kehidupan sehari-hari, yang menyatakan bahwa data dan fakta otentik yang tertulis dalam TBN RI tidak representatif dalam penelitian tersebut karena TBN RI ternyata hanya mewakili sebagian data dari semua data kongkrit dan abstrak dalam dunia bisnis yang penuh likuliku sehingga dinyatakan bahwa TBN RI bukanlah tempat yang tepat untuk menebak teka-teki ini. Hal ini memang tidak dapat disangkal lagi, tidak semua yang tertulis itu sudah sempurna dan representatif. Ada kalanya sesuatu itu juga terjadi dan berjalan di luar dari ketentuan yang tertulis.

Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh sederet ahli masalah sosial dalam Prisma tersebut, jika ditarik suatu garis penghubung kearah masalah pengusaha pribumi dan non pribumi, maka ada baiknya kita mengikis habis semua anggapan tentang dominasi pengusaha non primaupun bumi anggapan lain yang berkaitan kearah tersebut dan melepaskan kambing hitam serta gencatan polemik. Dalam polemik-polemik tentu akan menimbulkan efek sampingan, yang menjadi korban adalah pihak ketiga dan kita akan terlibat dalam suatu keadaan lingkaran setan yang tidak berujung pangkal. Pengikisan anggapan-anggapan (mitos) dan kambing hitam adalah lebih baik daripada membiarkannya bercokol dan hidup subur, yang akan menyebabkan kerugian bagi diri kita.

Anggapan (mitos) dan kambing hitam yang kita pelihara bukan mendorong kita maju kedepan tetapi sebaliknya memperlemah semangat juang dan kreativitas. Dengan terkikisnya dan hilangnya anggapan dan kambing hitam tersebut, kita tidak membiarkannya berlalu, tetapi berusahalah mencari mitos baru yang lebih positif, yang dapat mensugesti bangkitnya semangat juang dan mencari kambing tunggangan yang dapat mendorong kita ke depan (bukan kambing hitam). Jadi kesimpulannya adalah berusaha untuk mengintrospeksi diri, menjalin kerja sama antar golongan untuk menciptakan keuntungan mutual. Kemungkinan cara yang terbaik untuk keluar dari kemelut ini adalah masing-masing bekerja/berkaya, berupaya menciptakan dan mengemukakan ide-ide baru menuntun kebangkitan kaum pengusaha lemah dari berbagai golongan serta mengajak kaum pengusaha kuat dari berbagai golongan untuk bekerja sama dengan kaum lemah demi kelancaran dan kesuksesan pembangunan Republik Indonesia. JIM ROY YAM

Jawaban Mulya Lubis

Saudara tidak teliti membaca tinjauan saya. Saya tidak bertolak dari yang saudara namakan “fakta praktis”. (Saya tidak menyebut istilah itu). Saya bertolak dari yang saudara namakan “fakta otentik” (juga saya tidak pergunakan istilah itu) atau yang benar adalah saya meninjau laporan penelitian Christanto Wibisono, yang oleh penelitinya sendiri datanya ditafsirkan secara tidak metodologis, dengan kata lain manipulatif, atau dengan kata lain lagi menyesatkan. T. Mulya Lubis LBH, Jakarta.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan