Untuk Aris Tanone
Kini anda tahu bahwa hipotesa saya benar, yakni andaikata saya dilahirkan pada zaman Copernicus pasti nasib saya berakhir di unggun api yang disulut oleh dogmatisme yang menyala di dada Aris Tanone-Aris Tanone, seperti juga Copernicus yang telah menerima wangsit setan. Tidakkah Redaksi merasakan rasa nyeri dan haru yang timbul dari harga diri dan nasionalisme yang terbakar di jantung saya, setelah membaca makian yang dilontarkan oleh orang itu, saudara saya, bangsa saya, yang tidak bisa membedakan antara kritik dan makian, antara kesombongan dan harga diri, atau antara heroisme dan pelacuran? Sayang pembaca Prisma yang budiman telah disuguhi dengan cacian yang ditujukan pada tulisan yang tidak pernah dikirimkan ke Prisma. Tentunya para pembaca tidak tahu apa yang menjadi igauan Saudara Aris Tanone. Mengapa Saudara Aris Tanone tidak menanggapi langsung pada penulis? Saya ragu apakah Saudara Aris Tanone pernah membaca argumentasi klasik mengenai lenturan cahaya pada medan gravitasi matahari. Kalau sudah, tentunya tidak akan begitu ngawur menuduh penyalahgunaan matematika. Ingatlah, bahwa bagaimanapun jeleknya simplifikasi model yang saya ajukan, saya telah sampai pada kesimpulan yang sama seperti yang telah diturunkan para fisikawan klasik, yang tentunya masih lebih pintar dari Saudara Aris Tanone. Juga kiranya jelas bagi anda bahwa saya tidak bermaksud membuat textbook fisika baru, sehingga saya harus secara eksak menampilkan semua asumsi yang mendasari perhitungan-perhitungan tersebut. Silakan baca dulu textbook yang diperlukan sebagai modal. Tulisan saya ditujukan pada para ahli, bukan pada mahasiswa yang baru belajar fisika elementer. Baiklah saya persilankan para ahli memperbaikinya, karena saya tidak pernah mengaku sebagai ahli fisika.
Hidajat Nataatmadja, Lembaga Pusat Penelitian Pertanian, Jl. Merdeka 99, Bogor.