Tentang Soedirman
Dalam tulisan Saudara Alfian tentang Tan Malaka dalam Prisma no. 8, disebutkan bahwa: Sesudah Kongres Persatuan Perjuangan di Solo, Jenderal Soedirman mewakili TKR (tentara), duduk sebagai anggota sub-komite penyempurnaan organisasi Persatuan Perjuangan (hal. 73). Dan pada halaman 74 tertulis: Yang menarik perhatian ialah sikap yang diambil pimpinan militer (Pak Dirman) atas penangkapan itu (Tan Malaka cs.). Dalam pengumumannya pimpinan militer (Pak Dirman) menyatakan bahwa penangkapan itu sekali-kali bukan dilakukan atas perintah mereka. Sejak rapat Persatuan Perjuangan yang pertama di Purwokerto awal Januari 1946, Panglima Besar Soedirman memang sepenuhnya di belakang Tan Malaka mengenai kemerdekaan 100%. Pak Dirman mengakhiri pidatonya: “Lebih baik diatom daripada tidak merdeka 100%.” Pak Dirman sering membicarakan politik dengan pendukung-pendukung PP, seperti almarhum Ki Bagus Hadikusumo, Farid Ma’ruf, Dr. Sukiman, Mr. Sartono, Ibu Mangunsarkoro, dan lain-lainnya. Tan Malaka sendiri pernah datang ke rumah beliau dan membicarakan perundingan RI-Belanda selama lebih kurang 2 jam. Pengaruh oposisi begitu kuat sehingga Pak Dirman dalam pidatona pada rapat raksasa di Pekalongan dan Tegal dan di depan Dwi Tunggal serta menteri-menteri, mengucapkan kata-kata antara lain: “Saudara-saudara, ketahuilah bahwa ada pemimpin-pemimpin kita yang mau menjual negara kita!” Bagi pemerintah dan pihak oposisi jelaslah bahwa Pak Dirman berada di pihak oposisi. Akan tetapi Pak Dirman tidak pernah mengikut-sertakan tentaranya dalam oposisi tersebut. Jadi tidak benar bahwa Pak Dirman berhubungan dengan PP sebagai wakil tentara, bahkan secara pribadi pun Pak Dirman tidak pernah jadi anggota sub-komite PP. Justru Kongres PP di Solo itulah merupakan titik balik (point of return) bagi Pak Dirman. Kongres tersebut diadakan kira-kira 2 bulan sesudah Kongres Purwokerto. Pak Dirman juga hadir dan turut berpidato (walaupun semula ditolaknya). Hampir semua pembicara yang merupakan pengikut Tan Malaka mengritik dan mencaci Pemerintah dan tentaranya habis-habisan tanpa dasar sedikitpun. Bagi Pak Dirman kongres tersebut merupakan hasutan dan fitnahan yang menjijikkan. Satu-satunya pembicara yang simpatik pada saat itu adalah Saudara Usman, yang tak lain adalah Bung Tomo. Waktu istirahat, sebelum Tan Malaka sendiri berbicara, kami pulang. Setibanya di Yogya Pak Dirman mengadakan rapat dengan staf. Kemudian mengutus Mayjen Notoatmojo dan saya menghadap Presiden Sukarno untuk menyampaikan pertanyaan (bukan pernyataan) mengapa Tan Malaka cs. tidak ditangkap saja. Paginya datanglah Menteri-menteri Mr. Amir Sjarifudin, Dr. Soedarsono cs. untuk bertemu dengan Pak Dirman. Hari itu juga Tan Malaka cs. ditangkap, disusul dengan pengumuman bahwa pemerintah menangkap Tan Malaka sesudah berunding dengan Panglima Besar Soedirman. Pak Dirman yang merasa namanya dicatut oleh Mr. Amir Sjarifudin mengadakan kontra pengumuman yang membantah bahwa tentara tidak turut memerintahkan penangkapan tersebut.
Baik pemerintah, maupun pihak oposisi tetap mengira bahwa Pak Dirman betul-betul di pihak oposisi. Yang menjauhkan lagi dari PP ialah peristiwa pada kongres/pertemuan PP di Magelang, di mana Pak Dirman dan staf dilucuti anak buah Tan Malaka waktu mau masuk ruang pertemuan. Sebaliknya ada beberapa peristiwa yang mendekatkan kembali Pak Dirman dengan pemerintahan Sjahrir-Amir:
- Pertemuan langsung dengan PM Sjahrir, di mana oleh Bung Sjahrir dijelaskan mengapa pemerintah dalam perundingan RI-Belanda mengusulkan hanya de facto Jawa dan Sumatera saja, karena tentara hanya ada di dua pulau itu. Jawaban itu ternyata dapat diterima Pak Dirman.
- Waktu Kabinet Sjahrir I (RI II) dijatuhkan oleh Persatuan Perjuangan, mereka menolak menjadi formatur sehingga Bung Sjahrir lagi yang tampil ke depan. Dua peristiwa ini membuka mata Pak Dirman dan mau tak mau beliau mengakui bahwa PM Sjahrir seorang yang pandai, berani, jujur, sportif, dan sama sekali bukan penjual negara. Sebaliknya tokoh-tokoh PP dianggapnya kurang jantan dan tidak konsekwen, meskipun tetap menghargai Tan Malaka pribadi. Tetapi perubahan sikap itu tidak diketahui oleh Pemerintah maupun PP sampai dengan terjadinya Peristiwa 3 Juli 1946. Pada peristiwa itu nama Panglima Besar Soedirman diikut-sertakan oleh Mayjen Soedarsono. Setelah dicek oleh Pak Hatta sendiri (Wakil Presiden) ternyata tidak betul, dan gagallah “Petisi” Pak Darsono tersebut. Penjelasan saya ini kiranya dapat digunakan pula atas pertanyaan yang berhubungan dengan ceramah Mohamad Roem SH mengenai “Schermerhon-Sjahrir” yang dimuat di beberapa suratkabar, yaitu mengenai sikap pimpinan tentara terhadap perundingan “Schermerhon-Sjahrir” dan Peristiwa 3 Juli oleh Pak Soedarsono. Dalam tulisan Saudara Nugroho Notosusanto, Soedirman lahir tanggal 24 Januari 1916. Di zaman BKR-TKR Banyumas, Pak Dirman sendiri bicara dengan saya, bahwa waktu menjadi Daidanco (Dan Yon Peta) umurnya 32 tahun. Pak Dirman adalah Daidanco tahap kedua yaitu: dalam tahun 1944, jadi beliau lahir tahun 1912. Semenjak meninggalnya (29 Januari 1950) sampai akhir 1976, Pak Dirman dikenal sebagai tokoh yang lahir pada tanggal 7 Februari 1912 dan itu dicatat dimakamnya di Yogyakarta. Lebih dari 25 tahun lamanya dan tidak ada yang menggugatnya. Dalam buku Monumen Tempat Lahir Jenderal Soedirman yang diterbitkan Panitia Pembangunan Monumen Jenderal Soedirman Kabupaten Purbalingga, diceritakan proses penentuan tempat dan tanggal lahirnya dan pengangkatannya sebagai anak oleh Asisten Wedono (Camat) Rembang, Purbalingga. Dibaca secara teliti tidak dapat disimpulkan bahwa Pak Dirman dilahirkan pada tahun 1916, bahkan 3 orang saksi yang dipergunakan oleh penggugat dan Mahkamah Hakim, menyaksikan bahwa mereka waktu masih kecil (kira-kira umur 10 tahun) melihat bayi Soedirman sebelum tahun 1916. Saksi-saksi tersebut sudah tua, yang termuda lebih kurang berumur 75 tahun dalam tahun 1975/1976. Jadi lahirnya sekitar tahun 1900. Saksi Moh. Samingan meskipun adik kandung, juga tidak meyakinkan, bahkan agak istimewa untuk dipercayai begitu saja. Harus diketahui bahwa hubungannya dengan kakaknya tidak sedekat seperti kakak-beradik biasa. Selama Bu Dirman jadi isteri Pak Dirman beliau tidak mengetahui dan tidak kenal iparnya Moh. Samingan. Seingat saya Pak Dirman tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya atau jarig-jarigan. Jadi kurang masuk akal kalau adiknya yang jarang berkumpul mengetahui/mengingat hari lahirnya.
Banyak teman dan kenalan yang waktu mudanya sering bergaul dan ketemu Pak Dirman, tidak percaya dan tidak dapat menerima bahwa Pak Dirman lahir tahun 1916, seperti:
- Kyai H. Muslich, Rawamangun Jakarta, lahir tahun 1910 di Banyumas. Satu-satunya swasta bukan bekas Peta yang turut membentuk BKR.
- Eks. Kol. Soetirto, Gersik, lahir tahun 1910, di Banyumas, partner membentuk BKR dan yang mengganti komandan devisi TKR/Komandan Pertempuran Ambarawa.
- Brigjen Purn. H. Bahrun, Yogya, lahir tahun 1911 di Banyumas.
- Mayjen Purn. Brotosewoyo, Jakarta, lahir tahun 1912 di Banyumas.
- Sjoehada Martosuseno, Magelang lahir tahun 1916, 1 tahun lamanya pernah jadi guru bersama-sama Pak Dirman di satu sekolah di Cilacap. Berhubung dengan adanya perubahan tahun kelahiran Pak Dirman, telah ada wawancara Drs. Nugroho Notosusanto di TVRI, di mana dijelaskan bahwa selisih 4 tahun itu (1916-1912), karena Pak Dirman pada pernikahannya mencatatkan umurnya 4 tahun lebih tua dari yang sebenarnya, bahkan disebut 25 tahun dan 21 tahun. Maka dengan ini saya minta dengan hormat serta sangat, jawaban dan ketegasan dari Saudara Nugroho Notosusanto mengenai selisih 4 tahun dari 25 tahun dan 21 tahun. Kalau itu betul, dapat dipastikan bahwa tahun 1916 itu salah dan mustahil. Kecuali itu tertulis, bahwa Pak Dirman terpilih pada bulan November 1945 sebagai Panglima Besar. Memang buku Sejarah Militer menyebut dengan tegas 12 November 1945. Karena saya ingat betul peristiwa itu, saya tegaskan bahwa itu tidak betul. Yang betul adalah permulaan Desember 1945. Kalau saya menyebut tanggal berarti saya “bohong.” Karena saya memang tidak ingat. Saya ingat betul bahwa pemilihan tersebut terjadi di pertengahan masa (waktu) berlangsungnya Palagan Ambarawa (22 November-15 Desember) dan sesudahnya Kolonel Isdiman gugur, 26 November. Sesudah tanggal 26 November, Pak Dirman masih terus menjalankan tugas sebagai Komandan Pertempuran kira-kira seminggu lamanya. Jadi, jelas bukan November. Permulaan Desember disebut pula oleh buku sejarah Kodam Diponegoro (hal. 252) Mayjen Kaprawi juga waktu itu memimpin pemilihan tersebut, menutup dengan: “Terpilihnya Kolonel Soedirman tepat, karena jasa-jasanya memimpin BKR di Banyumas dan pertempuran di Ambarawa.” Di buku yang diterbitkan oleh pejabat Pusjarah Hankam Drs. Saleh Asad Djamhari D, terpilihnya Soedirman mencerminkan prestisenya yang tinggi di kalangan tentara berdasarkan prestasinya yang dicapai dalam mengusir pasukan Inggeris dari Ambarawa (hal. 7). Demi kebenaran dan kemurnian sejarah, saya akan dengan senang hati dikonfrontir dengan pemberi data dan saksi-saksi dari peristiwa-peristiwa tersebut. Pak Muslich dan Pak Sjoehada sanggup pula memberi pernyataan tentang umur Pak Dirman di bawah sumpah demi kemurnian sejarah.
Abimanju Cijantung II/F. 64 Jakarta