Kegaguan intelektuil
Salah satu kondisi sial Indonesia sekarang: makin sedikit orang yang bisa menulis dan mengutarakan fikiran dengan mantap, jernih, logis dan menarik. Sementara itu, makin banyak ide yang harus diberitahukan ke segala sudut, makin cepat dibutuhkan pertukaran fikiran supaya masak. Saya cemas Indonesia sedang menghadapi proses pemiskinan artikulasi. Di sekolah mana kini masih ada mata pelajaran mengarang sebagai mata pelajaran utama? Di universitas mana sebagian besar skripsi ditulis secara tidak brengsek? Majalah Prisma adalah salah satu dari sejumlah kecil penerbitan yang mudah-mudahan dapat menyelamatkan kita dari kegaguan intelektuil. Berabe kalau itu terjadi.
GOENAWAN MOHAMAD Senen Raya 83. Jakarta.
Ruang pembaca
Membaca Prisma Nomor 1/1975, saya tertarik akan isi dan cara penyajian dari para ahli tersebut. Tetapi satu hal yang ingin saya tambahkan adalah ruang pembaca yang menanggapi isi dari tulisan dalam Prisma. Hal ini kiranya sangat penting, agar kita tidak terlanjur menelan apa yang kita baca. Tapi juga melihat dan mengetahui hal-hal baru dari sudut pandangan logika yang benar.
HIDAYAT EKO SAPUTRO Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada Yogyakarta
Nomor khusus tentang obat-obatan
Saya sudah mengikuti Prisma mulai tahun 1973 hingga sekarang. Selama penerbitan tersebut saya belum pernah melihat penyorotan masalah obat-obatan. Bersama ini saya mohon pertimbangan Redaksi agar Prisma dalam salah satu penerbitannya yang akan datang, menerbitkan nomor khusus tentang obat-obatan beserta permasalahannya di masyarakat Indonesia. Saya mengusulkan penulis-penulisnya terdiri dari sarjana farmasi, pertanian, ekonomi, dan tentu saja dari farmakologi.
DR. A. AGOES Ketua III Ikatan Ahli Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Jln. Jendral Sudirman, P.O. Box 170 Palembang
Keracunan bahan makanan
Lebih dari 70% bahan makanan untuk umum, diolah dan dibuat dalam perusahaan rumah tangga. Ambillah contoh tempe, tahu, oncom, kecap, tauco, dan sebagainya. Di Indonesia sejak lama berlaku peraturan yang menyangkut kontrol kwalitas dan kontrol keselamatan di bidang bahan makanan. Tetapi pelaksanaannya untuk perusahaan rumah tangga belum atau sama sekali tidak mengenai sasarannya. Akibatnya tidak mengherankan kalau insiden keracunan yang disebabkan oleh jenis-jenis makanan tersebut sering terjadi. Sebagai majalah yang memiliki pengaruh besar di banyak lapisan masyarakat, terutama untuk golongan yang memegang tampuk pimpinan di Indonesia, alangkah baiknya kalau Prisma dalam salah satu edisinya memuat tulisan mengenai insiden keracunan bahan makanan yang sering terjadi di Indonesia, aspek-aspek tertentu yang menyangkut kehidupan masa depan bangsa serta cara dan usaha penanggulangannya. Saya percaya tulisan tersebut akan merupakan bahan untuk penanggulangan di masa mendatang dan lebih jauh lagi merangsang diaktifkannya peraturan-peraturan yang menyangkut kontrol kwalitas dan keselamatan dalam bidang bahan makanan di Indonesia.
DRS. UNUS SURIAWIRIA Laboratorium Mikrobiologi ITB. Jl. Ganesa 10 Bandung