Prisma

Kritik & Komentar

Tentang Soedirman dan Sjahrir

Saudara Nurman Diah memang benar bahwa sejarah tidak bisa didongengkan. Tugas sejarah hanya menunjukkan apa yang benar-benar terjadi saja, seperti kata Leopold von Ranke beserta sejarawan-sejarawan yang lain. Tetapi A.F. Pollard berpendapat lain, “sejarah adalah ilmu dan juga ‘seni’, sehingga subyektivitas sejarawan sulit dihindari.” Maka skeptisme pada setiap pembaca sejarah menjadi hal yang wajar, asal tidak mengembangkan diri menjadi sikap yang “ingin mencela belaka.” Sebagai pengagum Mao, Giap, Ho Chi Minh dan mungkin juga pengagum Fidel Castro dan Trotsky, Saudara Nurman Diah hendaknya paham pula bahwa dalam menilai sejarah, orang sangat tergantung dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: sikap berat sebelah pribadi; Prasangka Kelompok; penafsiran yang berlainan tentang faktor-faktor sejarah; dan Weltanschauung yang berlainan. Asal tahu saja, falsafah negara kita berlainan dengan falsafah negara lain, demikian juga tentang pafam perang dari negara kita. Lepas dari masalah tersebut, saya hargai sepenuhnya kritik Saudara Nurman Diah, karena saya yakin bahwa Saudara ingin mencari obyektivitas sejarah. Maka kritik itu akan bernilai kritik, andaikata Saudara pun menulis sejarah itu dari segi penilaian Saudara, hingga tulisan itu akan merupakan suatu alternatif lain dari penilaian sejarah kita. Dan marilah kita uji bersama sejarah kita sendiri, kita pun tahu bahwa kita semua adalah sedang berkembang dalam segala bidang. Sejarah merupakan source of inspiration, dan guide to action bagi bangsa yang sedang berkembang itu sendiri. Di sini saya kutip salah satu petuah panglima besar yang berparu-paru satu itu, dan sejarahlah yang akan menilai besar atau kecilnya dia.

… “Ingatlah pada firman Tuhan. Jangan kamu merasa rendah, jangan kamu bersusah hati, sedang kamu sesungguhnya lebih tinggi jika kamu mukmin! Janji sudah kita dengungkan, tekad sudah kita tanam. Semua ini tidak akan bermanfaat bagi tanah air kita, apabila janji dan tekad itu tidak kita amalkan dengan amalan yang nyata …”

Tentang Bung Sjahrir, dapat dilihat dari “pengakuan sang lawan” yaitu Schermerhorn dalam buku Mengenang seorang Pejuang, Prof. Dr. Ir. Schermerhorn yang ditulis Mohamad Rum. Dengan tulisan ini saya menunggu tulisan-tulisan Saudara Nurman tentang sejarah pemimpin-pemimpin kita, yang saya yakin bahwa anda tak akan “mengerdilkan” arti perjuangan semesta yang mereka rintis. Tak ada pengecualian, siapapun dia. Mudah-mudahan andapun mukmin.

Stefanus Rb Mangoenpoerojo Karo Hubmas/SU-5 Kopur II/Kostrad Cibulan I/21 A Jakarta

Kejujuran berpendapat

Sejarah, konon adalah politik di masa lalu, atau politik masa lalu adalah sejarah di masa kini. Politik dan sejarah hampir tidak bisa dipisahkan, walau tidak bisa dikatakan identik. Sejarah dan politik diibaratkan orang sebagai dua sisi koin yang sama. Kalau tidak salah, Cicero mengatakan, historia vitae magistra, sejarah adalah guru kehidupan. Orang Yunani menyebutkan, historia … panta rei, selalu mengalir, atau selalu berulang. Dan bagi kita sejarah tentunya bukan sekedar “pokok dan tokoh”. Bukankah begitu? Dua kali nomor Agustus Prisma untuk dua tahun terakhir ini, menggugah kesadaran kita buat melihat dan memahami sejarah. Ataukah kita begitu terperangkap kepada blessing in disguise, dan terkukung dalam jebakan irrelevansi sejarah itu sendiri. Apakah romantisme sejarah hanya sekedar nostalgia pada hari, peristiwa, yang pernah dilalui dan diperbuat para pelaku sejarah, ataukah katup pembuka realisme patriotik, heroik, dan nasionalistis warga negeri ini? Dalam Injil, Yohanes 8:32 tercatat: Barang

[image_973983.jpg]

siapa yang mengenal kebenaran, maka kebenaran itu akan membebaskannya/memerdekakannya. Apakah ini juga berlaku dalam hubungan dengan sejarah, yakni untuk menolak kesangsian, keragu-raguan dan kekakuan terhadap siapa saja yang menjadi obyek sejarah, dan tanpa berburuk sangka terhadap penulis sejarah? Kutipan Injil ini sesungguhnya senada dengan apa yang dituntut oleh/dalam sikap intelektuil dalam dunia yang membutuhkan kebebasan bersuara dan kejujuran berpendapat. Biarlah hari dan masa depan kita serahkan pada sejarah untuk mencatatnya. Tentang apa yang telah dan yang sedang kita buat kini.

Harry J. Tampi Jl. IKIP 24 Manado

Dr. Ong dan buah pikiran Sukarno

Untuk pertama kalinya Prisma tampil dengan ungkapan tentang manusia dengan edisi nomor 8, Agustus 1977. Dan lebih menarik lagi, karena artikel yang pertama mengungkapkan tentang Sukarno yang ditulis oleh Dr. Onghokham. Intro artikel Dr. Ong betul-betul memukau. Di situ ditulis: “Sukarno adalah pribadi yang kompleks. Dia lahir di bawah naungan bintang Gemini yang menurut pendapatnya sendiri memberi corak yang beraneka-warna pada pribadinya. Persoalan Sukarno erat sangkut pautnya dengan persoalan bangsa kita sendiri.” Lebih jauh Dr. Ong berusaha menempatkan Sukarno dalam perkembangan sejarah Indonesia yang terakhir; berusaha meneliti pemikiran-pemikiran almarhum proklamator itu dalam pertumbuhan pergerakan nasional Indonesia; melihat kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatannya serta peranannya dalam pergerakan, revolusi dan zaman kemerdekaan. Tampaknya penulis kurang berhasil dalam meneliti pemikiran-pemikiran Sukarno. Saya nilai demikian, karena literatur yang mendukung bertitik-berat pada penilaian orang asing—Dahm dan Legge. Memang ada wawancara dengan Dr. Mohamad Hatta, Dr. Roeslan Abdulgani serta diskusi dengan Dr. Sudjatmoko dan Karjoso SH. Sparring dalam wawancara dan diskusi itu bukannya tidak berbobot dan representatif, atau kurang memahami pemikiran Sukarno. Tetapi mengapa Dr. Ong tidak mempelajari pemikiran Sukarno dari Sukarno sendiri? Jawabannya bisa jadi, “Orangnya sudah meninggal.” Namun, menurut saya beberapa literatur Sukarno, baik yang ditulisnya maupun yang diucapkannya, ada baiknya dijadikan bahan dalam penelitian. Misalnya rangkaian artikel yang dihimpun dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, pidato (tanpa teks) Lahirnya Pancasila, tanggal 1 Juni 1945 (telah dibukukan), kumpulan beberapa tulisan dan ceramah yang dihimpun dalam buku Kepada Bangsaku, rangkaian kuliah dalam buku Sarinah, dan kuliah Pancasila sebagai dasar negara yang disampaikan Sukarno di Yogyakarta tahun 1958. Seandainya literatur-literatur ini dipelajari secara seksama, niscaya kita melihat adanya kekeliruan dalam tafsiran pada penulisan Dr. Ong, yang antara lain di halaman 9 ditulis sebagai berikut: “Sukarno mengabaikan golongan-golongan seperti lurah, pamong desa, atau marhaen-marhaen yang memiliki milik besar ataupun tengkulak dan juragan-juragan batik yang kaya. Pun tidak dipersoalkan Sukarno jutaan rakyat yang tidak memiliki tanah tetapi kerja sebagai penggarap atau buruhtani, karena mengemukakan hal-hal ini hanya akan berarti memecah belah.” Dalam penulisan, Dr. Ong memang ada mengutip dua artikel Sukarno sebagai dukungan literatur, yakni Nationalism, Islam and Marxism terjemahan K.H. Warouw dan Peter D. Weldon dengan introduksi Ruth T. McVey (Cornell University Modern Indonesia Project Translation, Ithaca, New York, 1969) dan Indonesia Menggugat (Departemen Penerangan RI, Penerbitan Khusus 168). Dilihat dari kurun penulisan, Nationalism, Islam and Marxism lahir tahun 1926 melalui suratkabar Suluh Indonesia Muda, tatkala Sukarno baru terjun ke dunia pergerakan melawan kolonialisme Belanda. Sedangkan

[image_973945.jpg]

Indonesia Menggugat ditulis dalam penjara sebagai pidato pembelaan di hadapan pengadilan kolonial tahun 1929. Tentunya faktor-faktor lingkungan ikut mewarnai penulisan kedua tulisan tersebut. Manakala telah ada penyempurnaan keseluruhan itu sebagai totaliteit baru boleh kita ajukan pertanyaan, “Di mana tempat Sukarno dalam sejarah?” Bukankah begitu Dr. Ong?

Sri Rahayu Bukit Duri Tanjakan Jakarta Selatan

Paparkan lagi tokoh yang lain

Prisma nomor 8, Agustus 1977, merupakan bacaan bermanfaat untuk membukakan lapangan pikiran dan memperluas cakrawala pandangan pembaca tentang sejarah perjuangan bangsa kita; mengenai gagasan dan tindakan beberapa tokoh Indonesia, yang sedikit banyak mempengaruhi jalan dan mewarnai corak sejarah bangsa dan negara. Prisma menampilkan artikel-artikel yang melukiskan mereka sebagai manusia biasa yang memiliki segi-segi yang kuat dan lemah. Para penulis karangan kelihatan mempunyai tanggungjawab moril untuk menulis dengan terbuka tentang tokoh-tokoh itu, menghayati kebebasan menyatakan pendapat masing-masing, berlandaskan kepada dan demi ikut membina demokrasi di kalangan bangsa kita. Sikap para penulis mengingatkan saya kepada sebahagian ungkapan Dr. E. Brongersma dalam buku Voorproef in Spanje 1919-1939 di halaman 7, yang antara lain berbunyi sebagai berikut: “Penulisan sejarah berarti: dari suatu jajaran kenyataan yang tiada terbilang banyaknya, memilih suatu jumlah terbatas dan mengelompokkannya. Ukuran apa yang dipakai orang dalam melakukan pemilihan dan pengelompokan ini, kenyataan mana yang ditonjolkan ke muka sebagai yang penting, bergantung sekali kepada paham sosial, politik, falsafah dan agamanya. Jadi, penulisan sejarah yang tidak memihak adalah suatu ilusi, bahkan suatu mollusca rohaniah pun tidak akan berhasil berbuat demikian, dan sang penulis mempermudahkan tugas kritik para pembacanya dengan tidak menyembunyikan pendirian yang diambilnya. Akan tetapi, sikap memihaknya yang tidak dapat dielakkan, tidak perlu sama sekali mendorong sang sejarawan kepada subyektivitas yang disengaja, suatu hal yang merupakan sebuah asma, yang muluk bunyinya untuk sebutan ketidak-jujuran. Barang siapa, yang tiada bersedia untuk bersuka-hati mengenai kesetiaan para musuhnya, atau menjadi bérang terhadap perbuatan-perbuatan jahat para sahabatnya, maka janganlah ia memberanikan diri mengemukakan pandangan-pandangan tentang sejarah dewasa ini.”

Saya pikir dalam hubungan ini adalah besar manfaatnya, jika Prisma mengundang penulis-penulis lain untuk memaparkan peran yang dilakukan tokoh-tokoh nasional yang lain, yang sudah almarhum, dan menetrapkan prinsip “memimpin adalah menderita.” Misalnya mendiang Prof. Muhammad Yamin SH, yang pikiran dan amal perbuatannya di bidang politik, sastra dan penulisan sejarah cukup besar.

Azwar Lokman Jalan Brigjen Katamso Gang Nasti 6, Kampung Baru Medan

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan