Melihat sejarah dan tokohnya
Penulisan tentang peristiwa dan tokoh sejarah di abad lalu ketika orang masih gandrung akan kemampuan intelek memang dituntut agar “obyektif, bebas dari subyektivisme.” Kini orang lebih banyak mengerti tentang diri manusia dan masyarakat beserta keterbatasan dan kenisbiannya. Diakui, mau tak mau penulisan tentang sejarah selalu dan hanya bisa subyektif. Selalu di dalam suatu interpretasi, entah “pagi-pagi ada hubungan batin” dengan peristiwa/tokoh bersangkutan entah sebaliknya. Pemilihan topik itu saja, mengapa kok justru Sutan Sjahrir yang dipilih, dan bukan Ali Sastroamidjojo misalnya atau Sukiman (bukan oleh saya, melainkan oleh Redaksi Prisma), sudah merupakan buah interpretasi pagi-pagi subyektif. Ternyata de facto redaksi (dan kalangan-kalangan banyak lain) menganggap (implisit) Sjahrir pernah mewarnai sejarah, sehingga perlu (eksplisit) dibicarakan khusus. Saya tidak berkeberatan saudara Nurman Diah menganggap Sjahrir tidak pernah mewarnai sejarah. Namun bila kita melihat bahwa sampai begitu jauh di sekitar Malari (sebagai contoh) dan sesudah itu, nama PSI (populer: orang-orangnya Sjahrir) dijadikan hantu isyu begitu besar. Padahal PSI sebagai badan kompak terorganisir dapat dikatakan sudah lama tidak ada. Maka jelaslah, di belakang nama Sjahrir itu ada “sesuatu,” mungkin ide, mungkin sikap politis, yang terus menerus membayang. Dan karenanya menantang setiap pemikir kritis untuk paling sedikit diteliti lebih serius, serta tidak hanya ditabukan belaka atau disingkirkan dengan penilaian “tidak mewarnai.” Orang misalnya berkata: Sepuluh tahun lebih PKI sudah disikat dan Orde Baru yang Pancasilais sudah tidak diwarnai lagi oleh Karl Marx. Betulkah itu? Kita harus berhati-hati, sebab “warna” ultraviolet atau infra-merah memang tidak kelihatan, tetapi …
Tokoh tidak pernah berdiri sendiri seolah-olah (Hitler-lah yang merancang Perang Dunia II, Mac-Arthur-lah yang mengalahkan Nippon, Sukarno-lah yang menyelewengkan Pancasila dan sebagainya dan seolah-olah tokoh-tokoh itulah yang membawa kuas merah-hijau-kuning dan tinggal “mewarnai” sejarah rakyat/masyarakat yang kurang lebih dianggap polos putih atau kelabu netral belaka. Ada sesuatu warna atau angin situasi atau kacamata watak di dalam masyarakat dan dikalangan tokoh-tokoh banyak yang saling mempengaruhi dalam suatu gerak dialektik yang kompleks, sehingga seorang tokoh A menjadiA3 atau A10, bahkanP2 atau Q13.
Pengertian historis (artinya interpretatif) kita justru semakin utuh dan berarti, bila kita melihat Sukarno plus Hatta plus Sjahrir plus Sukiman plus Sastroamidjojo plus Tan Malaka plus Sudirman plus Sakirman, plus Muso, Aidit, plus Kartosuwirjo dan seterusnya dalam pembandingan yang suplementer. Samasekali tidaklah penting siapa dari mereka itu yang “paling hebat” atau “paling mewarnai”, bahkan dalam dinamika inter action itu mustahil ditemukan. (Berguna mana: ayam atau ulat. Hebat mana: gajah atau bakteri, dalam visi total ekologis?)
Dulu orang terlatih untuk melihat kejayaan Caesar, Napoleon dan panglima-panglima atau bajak laut seperti Francis Drake atau J.P. Coen, pendeknya perang atau gerakan massal pemberontakan sebagai tokoh/peristiwa yang mewarnai sejarah. Sekarang orang sadar, bahwa konsep demikian adalah dangkal bahkan nista. Socrates, Aristoteles, Sidharta jauh lebih mewarnai sikap dan kebudayaan bangsa manusia daripada Iskandar Agung, Vitruvius sang arsitek jauh lebih berkadar historis daripada Caesar. Nietzche atau Kant atau Beethoven jauh lebih membentuk sekian generasi daripada Napoleon atau Hitler. Dan Keynes atau Gandhi lebih “negarawan” daripada Churchill atau Nehru. Penemuan percetakan buku dan bombardemen atom oleh Rutherford tiada taranya mewarnai sekian abad daripada kemenangan Napoleon di Austerlitz atau keputusan Truman menjatuhkan bom atom di Nagasaki. Dalam banyak hal Sjahrir jauh lebih melampaui horison sejarah daripada Sukarno dan dalam banyak hal ia kalah. Tergantung dari mana orang melihatnya.
Bagaimana pun saya berterimakasih atas kritik saudara Nurman Diah yang saya nilai sangat berharga, karena bisa lebih memperjelas masalah.
Y.B. Mangun Wijayapasturan salam Magelang