Untuk Astrid S. Susanto dan Andi Hakim Nasution
Dr. Astrid, Definisi bahwa “kritik sosial adalah penilaian ilmiah” (Prisma 10, Oktober 1977) sungguh sangat mengejutkan, apalagi dikaitkan dengan kendali sosial yang tidak pernah terdengar didevaluasikan dalam konteks penilaian ilmiah. Seakan-akan Dr. Astrid S. Susanto mengatakan, “Kuda adalah binatang berkaki empat.” Kemudian mulailah anda mengupas “kaki empat” tanpa menghiraukan kudanya. Bahwa anda tidak bisa konsisten dengan definisi itu muncul misalnya kalimat-kalimat seperti “kritik sosial biasanya dinilai sebagai barometer sosial-politik”, “kritik sosial tidak begitu disukai dan sering dikritik sebagai meresahkan ataupun tidak bermanfaat, terlalu teoritis dan lain-lain”.
Salah satu etika ilmiah adalah menerima konsistensi pemakaian istilah. Alangkah repotnya kalau setiap orang membuat definisi sendiri-sendiri tanpa merasa terikat pada konvensi, apalagi kalau pemberian arti istilah itu hanya sekedar dalam konteks suatu tulisan pendek.
Atau barangkali anda perlu merubah judulnya, karena judul sepenuhnya merupakan hak pengarang, misalnya “Fungsi dan Efektivitas Kritik Ilmiah mengenai Keadaan Sosial”. Dan bicaralah tentang kritik ilmiah, jangan tentang kritik sosial.
Saya merasa barangkali anda memaksakan diri untuk secara implisit mengatakan kritik yang tidak ilmiah adalah bukan kritik, yang kiranya sejalan dengan pendirian Prof. Andi Hakim Nasution. Dengan cara ini sebenarnya apa yang anda lakukan adalah membuka suatu boutique ilmiah, salon kecantikan dengan memajang etiket-etiket bonafid seperti Einstein, Mannheim dan lain-lainnya.
Anda hilang “Suatu penilaian yang walaupun masih dilandasi patokan ethos dan moralitas yang juga ditunjang oleh pengetahuan tentang kenyataan, merupakan pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan”. Bagi anda “ethos dan moralitas” hanyalah sekedar embel-embel, yang lebih penting bagi anda adalah “kenyataan”. Pendirian seperti inilah yang sering saya sebut kultus kuburan. Anda kurang menyadari bahwa ethos dan moralitas tidak bisa dilepaskan dari setiap kenyataan sosial dan setiap kenyataan sosial pada hakekatnya merupakan deskripsi dalam “ruang metrik valuasi”.
Kiranya anda telah terperosok ke dalam kultus positivisme ortodok yang ditentang habis oleh Gunnar Myrdal (Asian Drama, Vol. I). Selanjutnya jelas anda berpegang pada filsafat materialisme moral dari Huxley, yang berpendirian “ethos tidak memberi jaminan kepada individu apakah secara obyektif yang telah dilakukannya berdasarkan ethos dan hati nuraninya adalah mutlak benar atau salah”. Inilah hakekat relativisme moral dalam filsafat materialisme Barat, yang jelas bertentangan dengan filsafat moral Pancasila! Rupanya benar, bahwa banyak orang menolak filsafat materialisme akan tetapi terperosok jauh sekali ke dalam lubang materialisme. Jika kita tidak bisa berpikir dengan dua buah filsafat yang bertentangan, inilah yang saya sebut mental schizophrenik.
Anda mengemukakan kesimpang-siuran interpretasi mengenai kausalitas kemerataan. Benar, teori sosial ekonomi kontemporer tidak mampu memberikan kejelasan yang cukup tajam mengenai hal ini. Dapat diperlihatkan bahwa ketidakmampuan ini berakar pada filsafat materialisme dan relativisme moral. Sungguh istilah “kultus kuburan” bukan sekedar suatu olok-olok seorang kritikus urakan atau kritikus jahil. Banyak paragraf-paragraf yang tidak bisa atau sukar sekali dimengerti yang saya duga antara lain timbul sebagai akibat definisi “kritik sosial” yang tidak bisa anda pertahankan hanya dalam arti evaluasi ilmiah. Sebagai contoh anda tulis: “Berbeda dengan kritik sosial dalam alam tradisionil ataupun liberalisme, maka dalam situasi transisi yang penuh dengan kesukaran dan saingan pendapat dan saingan pengusulan nilai-nilai baru ini, kritik sosial perlu juga melepaskan diri dari ikatan komunal maupun kepentingan pribadi”. Saya tidak bisa melihat mengapa masyarakat tradisionil, masyarakat liberal, dan masyarakat transisi harus dibedakan dalam kaitannya dengan “melepaskan diri dari ikatan-ikatan komunal dan kepentingan pribadi,” khususnya dalam konteks “kritik sosial sebagai evaluasi ilmiah.”
Mungkin anda mendengar lonceng berbunyi, akan tetapi anda tidak tahu di mana lonceng itu tergantung; juga anda bingung apakah itu lonceng gereja, lonceng sekolah, atau lonceng pengecer bakmi di jalan.