Belum ada konsep hidup sederhana
Topik Prisma bulan November 1978 tentang “hidup sederhana” sangat menarik sehingga saya membaca dan mengaji seluruh isinya sampai dua kali berturut-turut. Dari tulisan-tulisan tersebut saya berkesimpulan bahwa para penulis pada umumnya cenderung sependapat bahwa hidup sederhana dan hidup bermewah-mewah adalah dua kategori ukuran pola konsumsi. Masri Singarimbun mengungkapkan pula bahwa pola konsumsi sangat erat hubungannya dengan pola pendapatan. Sudjoko menambahkan, bahwa pola konsumsi bermewah-mewah lahir dari sikap mental ingin bermewah-mewah. Menurut Sudjoko, sikap mental ini terdapat pada kebanyakan orang Indonesia, terlepas dari apakah ia berpendapatan tinggi atau rendah. Contoh yang dikemukakan Sudjoko mengenai tukang becak yang membeli sepeda motor “puch” memang dapat diakui “mewah” bagi ukuran kelas pendapatan si mamang tersebut, akan tetapi jelas tidak mewah bagi seorang jutawan. Jadi klasifikasi pola konsumsi sederhana dan mewah ditinjau secara berbeda untuk berbagai kategori masyarakat menurut tingkat pendapatannya.
Kalau pemerintah dalam anjuran hidup sederhana memberlakukan satu ukuran hidup sederhana bagi seluruh masyarakat, maka hal itu jelas sulit dicapai tanpa perataan pendapatan. Kalau dalam anjuran ini diberlakukan kriteria hidup sederhana yang berbeda untuk setiap kategori masyarakat menurut tingkat pendapatannya, maka saya berpendapat bahwa persoalan yang melahirkan isyu hidup sederhana itu tidak akan terpecahkan. Hal ini disebabkan karena anjuran hidup sederhana yang dibedakan menurut kelas pendapatan akan merupakan penglestarian daripada “rasa iri hati” majoritas masyarakat Indonesia berpendapatan rendah. Sebab pada tingkat pendapatannya yang wajar, jangankan membeli mobil, membeli sepeda motor pun belum mampu. Dengan membaca Prisma bulan November 1978 tersebut, terutama tulisan Soedjatmoko, saya berkesimpulzn bahwa kita sebenarnya belum memiliki konsep yang matang mengenai apa yang saya maksudkan dengan “hidup sederhana” itu.
YAN PIETER KARAFIR, FPPK Universitas Cenderawasih Manokwari Irian Jaya
Keringat dan penghargaan
Membaca “Dialog” Saleh Iskandar Poeradisastra (Prisma No. 11, Desember 1978) saya merasa dibawa ke dunia yang paling terbuka. Pertanyaan awal tentang penghargaan sosial saya nilai sangat tepat, karena dari sebelah sanalah titik awal sebagian besar manusia Indonesia dalam berbuat. Dan itulah fitrah manusia. Kalaupun di sana-sini bertebaran “ksatria-ksatria yang ikhlas”, itu terjadi karena mereka mengharapkan penghargaan dari yang “paling tinggi” dan memperoleh status yang “lebih tinggi”. Hanya saja, dari 29 tanya-jawab yang saya baca, tidak ada satupun yang secara langsung mengaitkan konteks antara mental yang tercermin dalam sikap dengan penghargaan sosial. Saya merasa bahwa di sekitar kita banyak anggota masyarakat yang memberikan penghargaan dalam bentuk tertentu terhadap anggota masyarakat yang “ringan tangan” dan mencerminkan keikhlasan. Satu hal lagi, saya tidak sependapat kalau ada anggapan bahwa “keringat selalu dipandang hina”. Kita bisa melihat kenyataan, keringat yang disertai social standing justru akan dihargai sebaliknya. Sekurang-kurangnya ini terjadi di pedesaan. Orang-orang tua di desa akan menyatakan penghargaan yang tinggi terhadap seorang mahasiswa asal daerahnya yang menyelesaikan studi dengan biaya keringat sebagai sopir taksi atau pelayan hotel ketimbang terhadap mahasiswa yang terus menerus dibiayai orang tuanya. Ketika saya pulang kampung dengan memakai jaket mahasiswa yang mentereng banyak anggota masyarakat yang menunjukkan sikap antipati, tetapi ketika duduk di tingkat tiga saya pulang dengan pakaian sederhana dan jual petasan di kaki lima untuk mencari dana “lebaran” banyak hartawan di desa saya yang bermaksud “mungut mantu”. Terakhir dapat saya kemukakan bahwa teramat jarang anak-anak lulusan sekolah menengah yang merasa ideal dan bangga dengan cita-citanya untuk masuk fakultas Sospol dan yang sejenis. Setelah usahanya untuk masuk IPB, ITB dan fakultas-fakultas eksak lainnya patah di tengah jalan atau merasa tidak mungkin menembusnya sebelum mencoba baru mereka masuk ke sana. Namun pada akhirnya, merekalah yang dengan sukarela atau terpaksa mau mengotori kakinya di desa menyatukan diri dalam BUTSI.
DRS. DIDIN BURHANUDIN HARDJAIS Jl. Letjen Suwarto 99 Banjar Jawa Barat