Prospek Mubyarto
Tulisan Prof. Dr. Mubyarto dalam Prisma no. 1, Januari 1979, halaman 3-12; telah membahas secara tuntas dan jelas masalah-masalah yang dihadapi perekonomian Indonesia selama Repelita I dan II. Bahkan dibahas pula pengaruh Kenop 15 secara terperinci, tanpa usaha-usaha menggurui.
Dalam halaman 9 Mubyarto menekankan pentingnya peningkatan efisiensi pembangunan. Oleh karenanya dirasa perlu oleh penulis untuk mengingatkan bahwa “Presiden Soeharto dalam pidato paling resmi, misalnya pidato kenegaraan atau pidato penyampaian RAPBN kepada DPR selalu menekankan bahwa masyarakat adil dan makmur baru akan tercapai setelah 4-5 kali Pelita, bahwa pembangunan memerlukan keprihatinan luar biasa, bahwa kita harus bekerja keras untuk mencapai hasil-hasil pembangunan yang kita inginkan.”
Berdasarkan hal itu, maka: “Strategi baru dalam pembangunan ekonomi Indonesia, bukan lagi perlu dipertimbangkan dalam Pelita III, tetapi sudah merupakan keharusan, (hal. 11). No, karena memang namanya strategi yang ada sekarang: “artinya teori yang menganggap bahwa pertumbuhan-pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada sektor moderen akan dengan sendirinya menetes pada sektor tradisional, dengan demikian meninggalkan golongan miskin, harus tidak dipergunakan lagi dalam pemikiran para perencana (hal. 11).
Ada dua hal yang ingin saya persoalkan di sini. Pertama, penulis menegaskan bahwa : “strategi baru ini harus ditekankan pada pemerataan,” (hal. 11). Kita hendaknya bukan saja meningkatkan hasil pembangunan, tetapi juga meratakannya, terutama kepada kelompok miskin di pedesaan. Ini tujuan utama dan tentu kita semua sependapat.
Yang belum jelas, model pembangunan macam bagaimana yang diusulkan oleh Prof. Mubyarto untuk mencapai tujuan tersebut. Sayang sekali, dalam tulisannya tersebut hal yang penting ini belum dipaparkan secara gamblang dan konsekwen.
Kedua, masih menyinggung soal strategi pembangunan, boleh saja penulis kurang setuju dengan model yang ada sekarang. Tetapi, seperti juga yang penulis sendiri ungkapkan, Presiden Soeharto telah menegaskan bahwa masyarakat adil-makmur akan tercapai setelah 4-5 kali Pelita, yang artinya sekitar 20-25 tahun lagi. Kalau saja kita percaya akan hipotesa “U-shaped” dari Kuznets yang telah diuji kebenarannya oleh Felix Paukert terhadap 52 negara di tahun 1973 dan kemudian membolak-balik ramalan Williard Hanna ataupun proyeksi Sumitro Djojohadikusumo; perataan pendapatan-khususnya bagi kaum miskin; tampaknya akan tercapai juga setelah kurun waktu yang panjang tersebut. Artinya dengan strategi yang ada ini, akan tercapai juga suatu masyarakat adil dan makmur (menurut perasaan saya, ini kok mirip seperti golden age dari teori perkembangan ekonomi kaum neo-klasik). Sudah tentu sederetan asumsi perlu juga membatasi. Antara lain, seperti ucapan Presiden Soeharto; diperlukan keprihatinan luar biasa, kerja keras, dan mungkin perlu ditambahkan usaha mencegah pemborosan serta penggerogotan atas kekayaan negara maupun hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai selama ini.
Saya setuju sekali akan ungkapan jer basuki mawa beya, asal saja yang basuki itu bukan hanya segelintir manusia Indonesia, sementara rakyat banyak yang memikul beya-nya. Untuk ini, perlu kita berterima kasih kepada penulis yang telah membeberkan secara mudah dan jelas beya yang telah kita bayar selama era pembangunan yang lalu.
Prijono Tjiptoherijanto Jl. Salemba Raya 4, Jakarta Pusat