Prisma

Kritik & Komentar

Teknologi moderen dan pemerataan

Saya tertarik sekali akan uraian Prof. Iskandar Alisjahbana (pada “Dialog”, Prisma nomor 1, 1979 halaman 48, 49, 50) mengenai masalah pemilihan penggunaan teknologi, terutama penggunaan teknologi moderen yang ditunjang dengan pembaharuan pengelolaan struktur pemilikan alat teknologi. Menurut hemat saya, ini dapat diterapkan di negara-negara yang sedang berkembang (seperti Indonesia), mungkin akan dapat dicapai dua sasaran sekaligus yaitu: Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan, asalkan didukung oleh kesempurnaan manajerial, organisasi dan mental individu-individunya.

Namun sayang sekali mengapa dalam uraian tersebut tidak disinggung implikasinya terhadap ekologi. Menurut hemat saya masalah ekologi adalah salah satu faktor penghambat diterapkannya teknologi moderen secara penuh di tiap negara, terutama di negara yang sedang membangun, termasuk negara kita.

Oleh karenanya, saya mohon penjelasan kepada Prof. Iskandar Alisjahbana bagaimanakah jalan ke luar untuk mengatasi dilema tersebut (pengaruh penerapan teknologi moderen terhadap kelestarian keseimbangan ekosistem) di negara kita.

Agus Edy Susilo Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman, Samarinda Jl. Niaga Timur 29 Samarinda

Pendapat dosen

Dari tulisan saudara Manuel Kaisiepo dalam Prisma Nomor 11, 1978, dengan judul “Sistem Pendidikan”, inti persoalan yang dapat saya simpulkan adalah sebagai berikut: metode pengajaran yang berlaku di Indonesia dewasa ini tidak/kurang terarah untuk mencapai tujuan-tujuan perubahan dalam masyarakat, karena mahasiswa digiring oleh bentuk pengajaran yang satu arah atau bersifat otoriter, hingga mahasiswa sendiri tidak memiliki kemungkinan untuk mengembangkan kepribadiannya.

Perkuliahan tidak lebih daripada sekedar mendengar dan mencatat pendapat sang dosen. Sekiranya si mahasiswa ditakdirkan menjadi dosen pula, maka pendapat itu pulalah yang akan diturunkannya kepada mahasiswanya kelak. Si mahasiswa mencatat segala perkataan dosen-atau kalau mungkin juga ocehannya-dengan anggapan bahwa segala sesuatu yang dari dosen itu adalah benar…, dan mutlak.

Gambaran ini memperkuat keyakinan bahwa si mahasiswa akan cenderung menjadi tukang sontek waktu ujian, tidak lain karena keragu-raguan si mahasiswa pada pendapatnya sendiri, sebagai hasil dari suatu sistem pengajaran yang otoriter.

Manuel Kaisiepo menulis antara lain (halaman 63-64): “Dalam bentuk pengajaran yang demikian, mahasiswa jarang diberi kesempatan mengemukakan pendapatnya atau mendebat pendapat dosennya, walau disertai dengan argumentasi yang logis sekalipun. Bentuk pengajaran semacam inilah yang cenderung mematikan kreativitas berpikir mahasiswa, tidak memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan kekuatan berpikirnya sebagai warga-akademis, calon intelektual yang seharusnya dibimbing sehingga memiliki kekuatan penalaran yang tinggi. Mahasiswa dianggap cukup dengan “menelan mentah-mentah apa yang dikuliahkan dosennya, atau cukup menghafal diktat-diktat yang dikeluarkan dosen tersebut.

Dalam keadaan demikian, mengapa kita harus menyalahkan mahasiswa sebagai tukang nyontek, kalau sistem yang ada “mengharuskan” mereka berbuat begitu? Buat apa bersusah payah membuka buku teks kalau yang ditanyakan diujian nanti tidak boleh ditafsirkan lain, harus sesuai a-b-c seperti yang diucapkan dosen dan yang tercatat dalam diktatnya?

Saya sendiri setuju dengan pendapat ini.

Namun ada sedikit cerita lain dari saya, (yang juga mahasiswa): seorang rekan saya memperoleh nilai angka 10 (memang hebat!) untuk salah satu mata kuliah ilmu-ilmu sosial. Saya kurang tahu, apakah memang rekan tersebut kuat menghafal atau memang juga pintar nyontek. Melihat kepada jawabannya sewaktu ujian, dugaan saya tidak salah bahwa dia benar-benar nyontek dengan sangat rapi dan pandai sekali, sehingga rasanya titik-koma pun tidak terluputkan. Dan semua jawabannya itu sangat benar dan sesuai dengan “hati” sang dosen… dan angka 10 buat rekan saya tadi.

Yang menjadi soal lain bagi saya adalah “bentuk pertanyaan” sang dosen yang diawali dengan kalimat “bagaimana pendapat saudara mengenai… dan seterusnya”.

Jelas di sini, dosen mengharapkan pendapat “saudara” atau mahasiswanya. Namun, si mahasiswa menjawab justeru dengan “menyontek pendapat dosennya secara utuh dalam diktatnya”, koq justeru dikasih nilai 10?

Apakah sang dosen lupa, bahwa tadi dia memulai dengan kalimat pertanyaan “pendapat saudara”? Kalau dosennya mengerti, tentu dia tidak akan mau bila pendapatnya sendiri dicaplok (dijiplak) oleh orang lain atau “mahasiswanya”.

Aneh memang! Kita mengharapkan “pendapat” orang lain, orang lain menjawab dengan “pendapat kita” sendiri, lantas dikasih nilai 10.

Harpalis Alwi Fis Universitas Muhammadiyah Jakarta

Setuju Pater Melchers

Saya sependapat dengan Pater Ch. JM Melchers dalam hal: kalau dalam diri seseorang ada angan-angan, bahwa yang terpenting baginya adalah mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya dengan mengabaikan kepentingan orang lain, maka orang itu tidak dapat digolongkan sebagai wiraswasta.

Memang truisme menghinggapi kita, bahwa jiwa wiraswasta bangsa Indonesia itu ada. Salah satu ilustrasi adalah apa yang menimpa pengusaha batik yang tergolong pengusaha kecil atau menengah, sebagian besar pribumi dan tak sedikit jumlahnya. Modal raksasa yang digunakan untuk mendirikan pabrik batik yang lebih besar, mematikan jiwa wiraswasta mereka untuk berinovasi. Mereka kalah bersaing karena kalah modal, dan kemudian gulung tikar. Mereka cenderung ke luar dari kewiraswastaan, dan menjadi buruh pabrik-pabrik raksasa tersebut. Dan pabrik besar itu pun hanya sedikit menggunakan tenaga manusia karena menggunakan tenaga mesin moderen.

Pada hakekatnya, kita sebetulnya belum pantas membeli mobil baru ke luar negeri karena mobil lama masih dapat diperbaiki untuk dipakai. Ia tidak mendidik. Dan dalam hal seperti ini, jika “guru kencing berdiri” biasanya “murid kencing berlari”.

A. Syarief Burhanudin Jl. Sahardjo 98 Jakarta Selatan

Prisma keliru

Dalam rubrik “Tentang Penulis Nomor Ini” Prisma, 10/1978, nama Ignas Kleden tercantum sebagai salah seorang penulis dalam edisi tersebut. Setelah membolak-balik halaman, saya tak menemukan artikel Ignas. Prisma keliru. Saya harapkan lain kali lebih teliti.

Paul Bongu, Seminari Tinggi Ritapiret Maumere, Flores Nusa Tenggara Timur

Memang keliru, Bung. Maaf. Redaksi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan