Komentar bagi karya Partini
Pada Prisma nomor 2, Februari 1979, dimuat artikel saudari Partini, yang diberi judul “Sikap Orang Jawa Tengah terhadap Makam: Penelitian di Jakarta Timur (halaman 29-36).
Karya sebagai hasil penelitian tersebut telah dibuatnya dengan lebih banyak menggunakan pendekatan “kwantitatif” atau sistem random sampling, dengan biaya secukupnya dan waktu yang relatif singkat, ditambah pula dengan “wawancara mendalam” dan metoda “pengamatan”, sehingga sudahlah cukup ditampilkan sebagai karya ilmiah. Sasaran penelitiannya adalah sikap orang Jawa Tengah di Jakarta terhadap nilai makam, dan pembatasan eksistensi makam; pola tingkahlaku orang Jawa Tengah terhadap seorang keluarganya yang meninggal dunia. Masalah pokok dalam karya tersebut adalah perubahan norma yang menyangkut 4 faktor; agama, lingkungan, ekonomi, dan keterlibatan diri seseorang dalam menghadapi masalah ini.
Menurut analisa lebih lanjut, karyanya cenderung memperlihatkan tindakan penerapan kebijaksanaan Pemerintah DKI Jakarta Raya tentang lokasi dan aturan pemakaman di wilayahnya, serta implikasi sosial yang ditimbulkan, dan reaksi yang terwujud sebagai sikap dan tindakan responsif dari sejumlah anggota masyarakat yang bersangkutan. Di satu pihak Pemerintah DKI Jaya membutuhkan tanah dalam kota guna pembangunan fisik perkotaan sehingga terpaksa menggusur sejumlah pemakaman, di lain pihak sejumlah individu mempertahankan kelestarian pemakaman sebagai suatu yang berfungsi bagi kehidupannya, yang mana hal ini merupakan bagian dari pengetahuan keagamaan dan atau pengetahuan kebudayaan.
Konflik yang timbul dalam proses sebagai serangkaian aksi dan reaksi ini, tidak hanya berlaku bagi orang Jawa Tengah saja. Suatu bangsa mana pun, beragama apapun di Indonesia ini, akan menanggapi tindakan penggusuran makam oleh siapapun sebagai sesuatu tidak berperikemanusiaan. Mengapa demikian? Karena hal tersebut tidak sesuai dengan pengetahuan keagamaan dan atau pengetahuan kebudayaan yang mereka miliki.
Mengenai sikap orang Jawa Tengah di Jakarta terhadap makam sebagai sesuatu yang keramat, hal ini tidak saja dilihat dari struktur pemikiran yang didasari oleh pengetahuan keagamaannya, tetapi juga peranan dari pengetahuan kebudayaannya, sebab agama bukanlah suatu gejala yang berdiri sendiri namun berkaitan dengan unsur-unsur yang ada dalam pengetahuan kebudayaan manusia yang bersangkutan.
Sehubungan dengan agama yang dianut orang Jawa, saya kurang sependapat terhadap penggolongan yang dilakukan Partini dalam (Santri, Islam Kejawen, dan Kristen). Penggolongan ini tidak mewakili secara menyeluruh pandangan orang Jawa Tengah tentang kematian dan makam. Mengapa pilihan bukan pada 5 kategorisasi, misalnya: Islam beraliran Syafeiah, Muhammadiyah, Syiah dan seterusnya—Kristen beraliran Katolik, Protestan, Baptis dan sebagainya—Hindu beraliran Hindu Dharma, Hindu Bali dan sebagainya. Budha beraliran Mahayana, Hinayana, Yogacara dan sebagainya—serta Kejawen, yang mana, masing-masing memiliki interpretasi yang berbeda atas doktrin-doktrin utamanya, khususnya yang menyangkut konsepsi kematian dan penghormatan makam.
Suatu hal yang perlu dikaji lebih mendalam dan yang tidak ditampilkan dalam karya tersebut; yaitu hubungan konsepsi kematian, mitos, struktur pemikiran, dan kenyataan sosialnya, yang secara keseluruhan menunjukkan betapa berperannya pengetahuan keagamaan sebagai sistem budaya suatu masyarakat yang sekaligus mempengaruhi sikap dan tingkahlaku sosialnya. Mitos yang mempengaruhi dan memantapkan pemikiran manusia selanjutnya akan menimbulkan penilaian terhadap sejumlah hal yang ada dalam etos suatu masyarakat; karakter, moral, estetika, perasaan, kwalitas, dan pandangan hidupnya Sehingga berimplikasi lebih hakiki, yaitu manusia akan menilai dirinya dan lingkungannya. Apabila penilaian terhadap isi etos itu telah berkembang lebih jauh, maka berarti hal ini menyangkut sikap dan tingkahlaku sosialnya yang praktis dan pragmatis. Semuanya didasari oleh nilai kebenaran rasional sebagai hasil pemikirannya (dirasionalisasikan), dan juga sebagai landasan pegangan hidup dalam kehidupan yang nyata serta hubungannya dengan dunia gaib.
Dengan demikian mitos sebagai bagian dari suatu kebudayaan dan atau agama yang merupakan pengetahuan yang didapat manusia secara empiris akan mempengaruhi struktur pemikirannya, yang kemudian digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan pengalaman dan lingkungan sosialnya, serta digunakan untuk mempengaruhi sikap dan tingkahlaku sosialnya. Sehingga ia secara keseluruhan merupakan hakekat kebenaran yang ada dalam struktur pemikirannya sebagai hal-hal yang rasional menurut anggapan masyarakat yang bersangkutan. Inilah sebenarnya yang juga harus ditampilkan dalam karya tersebut, yaitu yang menyangkut pengetahuan keagamaan dan atau pengetahuan kebudayaan dalam hubungannya dengan respons yang terwujud sebagai sikap sosial dan pola tingkahlaku seseorang.
Selanjutnya dikatakan bahwa masyarakat semakin kompleks, maka peranan pengendalian sosial menjadi lemah, begitu pula perubahan sosial terjadi oleh karena pengawasan sosial lemah. Berbicara mengenai perubahan sosial tentunya tidak akan terlepas dari peranan pengetahuan kebudayaan suatu masyarakat, justeru kita harus melihat adanya hubungan fungsional, yaitu jika norma-norma baru yang ada dianggap lebih berfungsi bagi kehidupannya maka yang bersangkutan akan merasionalisasikannya dan sekaligus kemudian dimasukkan ke dalam pengkategorisasian yang ada pada pengetahuan kebudayaan, sehingga norma-norma tersebut kini menjadi miliknya. Lalu apabila norma-norma baru tersebut dianggap sama sekali tidak berfungsi, maka yang bersangkutan akan menolak atau menentangnya, apalagi kalau norma-norma baru tersebut diterapkan secara paksa maka akan timbul hubungan konflik sehingga berimplikasi lebih luas.
Penelitian mengenai satu atau sejumlah unsur pengetahuan keagamaan ataupun pengetahuan kebudayaan suatu masyarakat, baik sebagai ideal maupun yang terwujud, rupanya tidaklah cukup dengan menggunakan metoda “kwantitatif” saja, namun peranan metoda “kwalitatif” seperti partisipan observasi dan analisa jaringan-sosial adalah sangat membantu dalam penelitian semacam ini.
Wahyu Purwinto Studi Antropologi FS-UI Rawamangun Jakarta