Bantahan Menteri Mashuri
Berhubung dengan ungkapan Ny. Gedong Bagoes Oka termuat dalam majalah bulanan Prisma no. 2 tahun ke V (bulan Maret 1976) di bawah bab “Dialog – Serba Pandangan tentang Pendidikan”, sub-judul “Gedong Bagoes Oka: Pendidikan untuk Melahirkan Manusia yang Bebas dan Mampu Berdiri Sendiri”, atas petunjuk Bapak Menteri Penerangan saya minta perhatian Saudara akan hal-hal sebagai berikut:
- Ungkapan Ny. Gedong Bagoes Oka khususnya bahwa: “Tatkala Mashuri masih menjadi Menteri P & K dengan rasa sedih mengemukakan di depan DPR bagaimana orang-orang tua di desa begitu bodoh dan begitu tega mengeluarkan anaknya yang baru kelas III SD untuk kembali bekerja di rumah”, adalah tidak masuk akal, tidak berdasar dan sama sekali tidak benar.
- Tidak masuk akal apabila Bapak Mashuri sebagai Menteri P & K waktu itu mengaitkan perasaan sedihnya dengan tuduhan seolah-olah orang-orang tua di desa begitu bodoh. Karena dalam mengetengahkan masalah drop-outs, beliau selalu berpegang pada hasil penelitian Prof. Santoso S. Hamidjojo (sekarang Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah) mengenai sebab-sebab drop-outs dalam ukuran persentase (seperti sekian % karena alasan-alasan sosial ekonomi, sekian % karena kawin muda, dan lain-lain). Sehingga secara obyektif telah diketahui baik oleh beliau maupun oleh masyarakat sebab-sebab adanya drop-outs tersebut.
- Bapak Mashuri sejak kecil hidup dan dibesarkan di tengah-tengah masyarakat serta keluarga kaum pergerakan dan selalu berkecimpung dalam pergerakan, oleh karenanya beliau mempunyai pengalaman dan menghayati serta memiliki pengertian yang mendalam tentang permasalahan rakyat. Maka ditilik dari pengalaman beliau sebagai orang pergerakan ini saja, tidak masuk akal jika beliau melontarkan tuduhan mem”bodoh”kan orang-orang tua di desa-desa, apalagi dengan pengetahuan beliau tentang kondisi obyektif yang menyebabkan drop-outs tersebut.
- Dengan memberikan ungkapan tersebut di atas, Ny. Gedong Bagoes Oka dalam hubungan ini melontarkan kesan, betapa bodohnya Menteri P & K waktu itu perihal masalah rakyat di bidang pendidikan yang langsung ada kaitan tanggung jawab dengan pelaksanaan tugas kewajibannya. Hal ini sangat disesalkan karena kesan tersebut jelas-jelas didasarkan atas anggapan yang keliru.
- Dalam hubungan ini menjadi tanda tanya bagi kami apakah ungkapan Ny. Gedong Bagoes Oka tersebut diambil dari catatan notulen resmi DPR-RI atau hanya sebuah tafsir pribadi belaka dari Ny. Gedong Bagoes Oka tentang uraian Menteri P & K (di depan DPR) waktu itu. Ungkapan berdasar tafsir pribadi (yang nota bene keliru) mengenai uraian seseorang Menteri di depan forum Perwakilan Rakyat dengan implikasi-implikasinya yang jauh, patut disayangkan sekali.
- Juga mengenai “timing-nya“, ungkapan tersebut sangat disesalkan pula mengingat bahwa hal ini baru dikemukakan sekarang pada waktu Bapak Mashuri tidak lagi menjabat sebagai Menteri P & K. Mengapa tidak dikemukakan pada waktu-waktu terdahulu pada saat Bapak Mashuri masih bertanggung jawab di bidang pendidikan rakyat sebagai Menteri P & K?
- Oleh karena alasan-alasan yang dikemukakan di atas kami menilai ungkapan Ny. Gedong Bagoes Oka tersebut tendensius dan insinuatif.
- Dalam menjunjung tinggi hak jawab Bapak Mashuri terhadap ungkapan tendensius dan insinuatif Ny. Gedong Bagoes Oka itu, kami mengharap tanggapan ini dapat dimuat dalam edisi Prisma berikutnya. Terima kasih.
Sukarno S.H Direktur Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika Departemen Penerangan R.I. Jakarta.
Kecurigaan bukan pembinaan
Memang disadari masalah pembinaan mahasiswa menjadi hal yang cukup penting dalam pendidikan. Apa yang dikemukakan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi P & K, Prof. Dr. M. Makagiansar, saya kurang sependapat (lihat Prisma No. II/1976, halaman 50). Dikatakan antara lain bahwa alasan utama pembinaan mahasiswa adalah untuk menjamin ketenangan. Ketidak sependapatan saya semakin nyata dengan ucapannya: “Banyak masalah kemahasiswaan timbul karena mereka mengalami frustrasi dalam kampus sebagai akibat hubungan yang kurang baik antara dosen dan mahasiswa.” Di negara yang sudah berkembang di mana sistem kehidupan sosial masyarakat relatif stabil, maka lingkungan kehidupan masyarakat kurang menggerakkan kepekaan idealisme dan jiwa patriot mahasiswa. Sebaliknya konflik hubungan antara dosen dan mahasiswa akan mengambil proporsi utama: (baca: Universities Life in London & Student Revolt). Keadaan berbeda untuk negara sedang berkembang. Justru masalah utama timbul akibat kehidupan masyarakat yang relatif labil, sehingga memanggil mahasiswa untuk menuntut keadilan. Kepincangan sosial, hak-hak demokrasi, kebebasan mimbar, korupsi adalah merupakan contoh yang menggerakkan kepekaan idealisme dan jiwa patriot. Jadi kalau dikatakan adanya frustrasi di kalangan mahasiswa, maka pengaruh utama bukanlah akibat hubungan yang kurang harmonis antar dosen dan mahasiswa. Tapi lingkungan kehidupan sosial yang lebih mempengaruhi. Bukankah perjuangan mahasiswa tahun 1966 diwarnai kepincangan sosial masyarakat waktu itu? Karena itu konsep pembinaan kampus dengan nama “Dinamika dan Ketenangan”. Kelihatannya agak berbau kecurigaan. Sehingga apa yang sering dikatakan pendekatan keamanan lebih menonjol. Mungkin konsep yang “ideal” itu tidak saja harus ditujukan pada mahasiswa. Tapi buruh, tani, nelayan, perajurit, barangkali tepat juga untuk mendapat pembinaan seperti itu. Tentang tulisan Dr. Soedjatmoko, dalam banyak hal saya sependapat. Analisanya yang mengatakan: “Kebanyakan mahasiswa mengharapkan suatu karir di pemerintahan dan hidup di kota-kota besar”, memang benar. Namun kalau dikatakan tidak ada usaha universitas menurut saya kurang tepat. Jangankan kebijaksanaan universitas, dewan dan senat mahasiswa saja sebagai wadah kemahasiswaan sudah menyadarinya. Untuk itu beberapa program kerja yang berorientasi pada pengabdian masyarakat telah dilaksanakan di luar program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Hal ini semakin disadari dan mahasiswa sendiri sekarang sedang memeras otak dalam memilih dan meningkatkan kegiatannya.
Dipo Alam Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia Jakarta.