Budaya Batak dan Jawa
“Kritik & Komentar” Prisma no. 8, Agustus 1979, Dalton Sembiring, Mahasiswa Fakultas Sospol Universitas Katolik Parahyangan Bandung, memberikan tanggapan atas tulisan Muhammad Firdaus AP (Prisma, 6, 1979).
Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya, sekitar anggapan “Batak phobi di Jawa”; adakah ini? Dikatakannya sebagai hasil penelitian (ilmiah) dan dipergunakan untuk memperkuat suatu pendapat ilmiah, ditambah lagi dimuat melalui “koran kampus” Universitas Gadjah Mada (Gelora Mahasiswa, no. 2 tahun V). Menurut kelayakan dalam dunia penelitian undangan ini patut mendapatkan perhatian kita, sekurang-kurangnya tidak pantas dibiarkan berlalu begitu saja. Sekalipun undangan ini—dari Muhammad Firdaus AP—telah dibantah sedikit oleh Dalton Sembiring. Dari pembantahan mereka, kita dapat menyatakan kenyataan pada masa sekarang ini, banyak sekali orang Batak dari berbagai sub-suku Batak menyebar ke lain-lain daerah Indonesia, tidak hanya di Sumatera dan di Medan saja, tetapi juga ke lain-lain tempat di Indonesia terutama di Jawa, khususnya Jakarta.
Menurut pengamatan saya, orang Batak dan orang Jawa, sama-sama teguh pada kebudayaan masing-masing. Orang Jawa punya “budaya-Jawa”. Orang Batak punya “budaya-Batak”. Baik “budaya-Jawa” maupun “budaya-Batak” sama-sama dipengaruhi oleh konsep-konsep supra-alamiah melalui dewa-dewa, hormat pada nenek-moyang, serta senantiasa terikat pada kosmos yang dinamis, yang di dalamnya tersembunyi sesuatu yang “hidup”. Dasar kehidupan pribadi dan sosialnya sangat bersifat “batiniah” yang merupakan dasar kepercayaannya. Karena merasa hidupnya dikelilingi oleh kekuatan-kekuatan “gaib” yang potensial, dan mungkin bisa berbahaya, maka adalah wajar bagi orang Jawa maupun orang Batak, mencari cara-cara yang bersifat magisreligius untuk mempertahankan diri dan kuasanya.
Suku Jawa maupun suku Batak telah sama-sama menerima warisan dari kebudayaan Hindu dan Budha. Bahkan konon dikatakan pada masa lalu telah ada hubungan dengan orang-orang Hindu-Jawa, sebagian besar pada daerah pesisir dan daerah-daerah perbatasan wilayah yang didiami orang Batak. Oleh sebab itu, kalaupun ada perasaan Batak-phobi di Jawa, maka tentunya ada hal-hal lain yang patut kita perhatikan, sampai terjadinya hal itu. Sebagai contoh dapat kita sebutkan, suku Jawa tentunya akan tersinggung dan marah kalau saja “agama leluhurnya” diganggu, disusupi, apalagi dirasakan akan diganti (ditukar) dengan “agama leluhur Batak” lama maupun Batak baru. Begitu juga sebaliknya. Masalah kedudukan sosial di Jawa, menurut struktur masyarakat Jawa, sangat lain. Orang berpangkat akan lebih dihormati dari orang tidak berpangkat. Oleh sebab itu kedudukan “lurah” di Jawa, sangat penting artinya dan mempunyai arti strategis dalam mengukur kepemimpinan di Jawa. Yang penting dan mempunyai arti strategis ini akan dibelanya dengan sepenuh jiwa dan raganya.
Ada suatu perenungan lain bagi orang Jawa sekarang ini, apabila memperhatikan simbol-simbol kewibawaan budaya-Batak yang tersimpul dalam kuasanya melalui kualitas yang dinamakan “sahala”. Dr. Andar Lumban Tobing menyamakan konsep (pengertian) “sahala” itu dengan “mana” dalam etnologi Melanesia dan Polynesia. Sebagai tambahan pengetahuan kita, konon kabarnya terungkap budaya-Batak, sebagai berikut: “Seseorang yang memiliki kewibawaan, kekayaan dan keturunan adalah orang yang memiliki sahala. Sahala seseorang bertambah bila hal-hal tersebut bertambah.” Kemudian Vergouwen menyamakan paham sahala Batak (Toba) itu dengan perolehan kekayaan, penghormatan dan penghargaan, yang dari padanya dapat timbul kuasa, seperti pengertian Barat tentang sukses, berbanding langsung dengan keberanian kefasihan berbicara dan kekuasaannya.
Suku Batak, dengan anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia sekarang memang tampak aktif di mana-mana, dan menunjukkan tanggungjawab yang besar di bidang kepemimpinan di Indonesia moderen. Pada saat-saat belakangan ini, memang masyarakat Batak telah memperlihatkan suatu kekuatan balik yang dramatis, dari yang terbatas di daerah (wilayah) Batak, telah tersebar ke seluruh Indonesia, dari kesenian yang tertutup menjadi kesenian terbuka, dari lingkungan pagar tradisional kepada suatu perubahan moderen.
Masih merupakan tanda tanya dalam mene-benturan budaya-Batak dengan budaya-Jawa, terutama dalam menjejaki percampuran antara yang tradisional dan yang moderen itu, tampak sangat kuat melalui ketiga pengaruh kekuatan, yaitu: pembaratan (Westernisasi), pengkristenan (kristenisasi), dan moderenisasi, seperti yang diungkapkan oleh Paul B. Pedersen, yang menyandang gelar Ph.D dalam Asian Studies dari Claremont Graduate School di Claremont, California, dalam bukunya yang berjudul Batak Blood and Protestan Soul, yang diterjemahkan Ny. Maria Th. Sidjabat dan Dr. W.B. Sidjabat, Darah Batak dan Jiwa Protestan; BPK Gunung Mulia, 1975.
Horas! Teguh dalam budaya masing-masing!
Ki Marman, Jl. Kadipanten Kidul 87, Yogyakarta
Untuk Siti Rohana N. Daeng Parawi
Bila dilihat dari segi peran dan fungsinya sebagai partai politik maka sulit sekali Golkar disebut sebagai partai politik. Dari beberapa fungsi partai politik Golkar hanya menjalankan fungsi rekrutmen politik yang menyangkut masalah penempatan orang-orang tertentu ke dalam jabatan khusus dalam pemerintahan. Itulah antara lain menurut Siti Rohana N. Daeng Parawi (Prisma, 8 Agustus 1979 dalam rubrik “Dialog”). Kalau saya perhatikan apa yang telah diketengahkan oleh orang-orang yang turut menyiarkan kehadiran Golkar di negeri ini, berikut orang-orang yang berperan aktif hingga saat ini, para pengamat politik maupun politikus yang ada menunjukkan bahwa pada hakekatnya Gokar itu sama dengan Partai Politik yang berarti pula partai politik, Undang-undang Partai Politik dan Golongan Karya sendiri memperlakukan dua organ ini sama dan sederajat kedudukannya. Fungsi rekrutmen politik, artikulasi dan agregasi di dalam partai politik juga ada dan dilaksanakan di dalam Golkar. Jadi Golkar tidak hanya menjalankan fungsi rekrutmen politik saja sebagaimana anda katakan. Bahkan fungsi rekrutmen politik itu oleh Golkar masih dilaksanakan secara non-organisatoris dan menurut hemat saya lebih banyak secara individual approach antara pejabat dengan aktivis. Apalagi kecenderungan penempatan orang-orang tertentu dalam jabatan tertentu itu yang paling berperan dan berpengaruh adalah di kalangan eksekutif. Fungsi artikulasi bagi Golkar masih dilaksanakan secara tertentu dengan fungsinya ini Golkar telah berusaha mendewasakan pemerintah. Lebih-lebih di dalam hal ini terjadi open management sehingga memungkinkan pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan secara baik. Sedangkan fungsi agregasi bagi Golkar dilaksanakan dengan aturan permainan tertentu pula mengingat kehadiran Golkar itu sendiri antara lain membantu memperkuat kewibawaan pemerintah.
Sri Hartati Jalan Barat 25 Maospati Madiun