Relevansi Teori
Pandangan Paul Streeten diungkapkan oleh Roekmono Markam dalam Prisma, No. 1, Januari 1980: kekuatan kerak tradisi intelektual lebih kuat daripada tendangan. Dibutuhkan model dan menendang model, yakni teori dan model yang baru menumbangkan teori dan model yang lama (lihat hal. 16). Sementara itu Emil Salim mengatakan bahwa model selalu sama dan valid, sedangkan isi dan asumsinya berbeda-beda (hal. 57). Juga Emil Salim mengatakan bahwa karena asumsi di negara maju tidak cocok dengan yang dipakai di negara berkembang jangan kita berkata bahwa dalam hal ini teori yang salah. Isi variabel untuk Jepang berbeda dengan isi variabel untuk negeri kita. Kenyataan kedua masyarakatnya berbeda. Ini penting untuk dijelaskan karena kadang-kadang orang keliru dalam menanggapi apa teori itu yang sesungguhnya (hal. 58).
Pada hemat saya, jika benar ada pandangan yang berbeda tentang teori dan model itu perlu dibicarakan lagi, mungkin dalam hal ini barangkali perlu pula buat dipertanyakan: apa dimaksudkan dengan teori dan model menurut Emil Salim dan mana yang disebut model dan teori menurut Roekmono Markam? Kiranya penjelasan dari kedua pihak itu perlu dimekarkan atau dijelaskan lagi supaya pembaca akan lebih memahaminya. Karena terkadang orang sulit menggapai dasar pijak pengertian.
Relevansi teori
A.A. Walters, dalam buku An Introduction to Econometrics (Mac Millan, 1968) menyebut bahwa suatu teori yang baik itu membe-rikan lebih banyak keterangan tepat dan benar mengenai suatu kenyataan. Dan teori yang baik tentulah lebih baik dari teori yang hanya menunjukkan arah-arah umum semata-mata. Pandangan ini senada dengan Paul Streeten di atas.
Sementara itu menurut L. Robbins, An Essay on the Nature and Significance of Economic (Macmillan, 1935): suatu teori dikatakan baik haruslah andaian-andaiannya sesuai atau menggambarkan kenyataan dengan baik.
Untuk menerangkan kenyataan dan pengalaman-pengalaman di negara kita dan untuk meramalkan kejadian ekonomi yang akan berlaku, tidak akan tercapai dengan meminjam begitu saja hukum-hukum dan teori-teori ekonomi yang berlaku di negara-negara lain. Masanya sudah tiba bagi para ilmuwan ekonomi di Indonesia untuk menguji teori-teori yang ada dengan menggunakan data Indonesia dan untuk mencari teori baru jika teori yang ada sekarang ternyata tidak berlaku di negara kita. Pandangan ini menunjukkan bahwa teori harus selalu diperkembangkan atau dibuat up to date. George Soele juga menekankan teori dan cara lama dalam menentukan politik ekonomi negara adalah seperti mengemudikan suatu kereta dalam gelap tanpa ada lampu depan.
Sementara itu menurut Ben. W. Lewis dalam “Understanding of Economic Problem” (Selected Readings in Economics, Prentice Hall, 1958), kehidupan ekonomi dari insan manusia yang dari waktu ke waktu yang karena kemanusiaan harus mengalami perubahan, penyesuaian dalam seni hidup bersama kearah yang lebih baik. Dalam penyesuaian itu tentu akan mengalami hambatan atau usaha yang tidak menyenangkan dari kaum yang mempertahankan statusquo atau kalangan vested yang mempertahankan keistimewaannya. Perubahan itu haruslah menempatkan value judgments pada fokus yang utama, untuk melihat mana yang kontras dan tidak cocok dan mana yang baik. Untuk memahami persoalan ekonomi dalam rangka value judgment yang diberlakukan secara praktis adalah dengan memperhatikan penerapan pada struktur, pada operasi, lembaga ekonomi, mekanisme, penentuan besar pendapatan, pemanfaatan serta pengarahan akan sumber-sumber ekonomi dan geliat pemerataan pendapatan yang berproses. Hal ini dapat kita kaitkan dengan pandangan Ekonom John Maurice Clark dalam The development of Economic Thought yang mengatakan bahwa si ekonom yang tidak bermoral itu sama juga seperti politisi yang tidak bermoral, sementara mereka hanya mengejar kepentingan diri saja sembari merusak kepentingan masyarakat tanpa ada rasa keadilan dalam kehidupan bersama.
Penentuan variabel dan komitmen
Hemat saya soal penentuan variabel-variabel dalam suatu modelpun adalah juga soal visi dan komitmen dari orang yang memakai model itu. Karena hal itu bukan hanya persoalan perhitungan teknis semata tapi menyangkut juga warna latarbelakang orang yang melakukan option. Dalam suatu perhitungan dengan model yang sama ada yang memakai 4 variabel, ada yang 8 variabel. Jelas hasilnya berbeda, misalnya yang memasukkan 4 variabel karena membuat laporan “asal bapak senang,” sedang yang membuat 8 variabel orang yang lebih serius karena punya komitmen moral dan ia ingin menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi. Penggunaan aneka variabel yang berlainan ini dalam ekonometrika antara lain dapat juga dilihat dengan apa yang disebut dengan variabel stokastik, maksudnya adalah variabel-variabel yang sebenarnya dimasukkan tetapi tidak dimasukkan atau pula yang sebetulnya tidak perlu masuk tetapi dimasukkan. Rasanya pula hal ini juga harus dipertimbangkan dalam memakai suatu model supaya bisa mencapai hasil yang layak.
Thoby Mutis, Jl. Jenderal Sudirman 49 A Jakarta Selatan