Prisma

Kritik & Komentar

“Penafsiran” Bung Gafur

Membaca “Dialog” Prisma, 2, Februari 1980 dengan Abdul Gafur menimbulkan “penafsiran” tersendiri dalam benak saya. Sungguh memprihatinkan! Bagi Bung Gafur, titikberat pengabdian masyarakat harus sesuai dengan misi perguruan tinggi yakni memberi penjelasan kepada rakyat seperti dalam KKN. Selanjutnya dikatakan:

“Tapi ada yang salah penafsiran bahwa kalau terjadi kepincangan dalam masyarakat kita juga harus turun demi pengabdian masyarakat”.

Bagaimana seandainya turun di sini saya “tafsirkan” sebagai demonstrasi atau aksi poster—menurut Bung Gafur turun demi pengabdian masyarakat adalah salah tafsir. Ini berarti “pengabdian masyarakat” para mahasiswa tahun 1966 dengan aksi turun ke jalan untuk menumpas Orde Lama/G.30.S-PKI tidak dapat dibenarkan dalam rangka misi perguruan tinggi, sementara sebagai mahasiswa itu, Bung Gafur-pun turun demi “pengabdian masyarakat”.

Memang kita tidak pungkiri bahwa turunnya mahasiswa tahun 1966 saat itu memiliki nilai-nilai tersendiri, tetapi kita pun tidak mengelak bahwa pada saat situasi berputar dalam kurun waktu berselang tuntutan sistem berpikir atas nilai-nilai tersebut pudar!

RICARDO IWAN YATIM Tidak. Mahasiswa 579/Fil UGM Fakultas Filsafat Yogyakarta.

Angkatan Baru Bakri Siregar

Titiktolak untuk menentukan periodesasi dalam sastera dapat bermacam-macam, yang akhirnya bergantung pada argumentasi juga-ketahanannya. Ajip Rosidi, Jassin, Umar Junus, Nugroho Notosusanto atau pun Bakri Siregar sendiri, telah diketahui lewat tulisan mereka (dulu), memiliki titiktolak yang berlainan. Tentu saja yang mereka anggap paling baik, paling dikenal dan dikuasai. Buat orang lain, kekurangan selalu tampak.

Titiktolak penulis mengenai telah munculnya suatu Angkatan Baru dalam Sastra Indonesia, yaitu protes sosial yang ditujukan kepada penolakan otoritas total dalam segala bidang—yang dinyatakan dalam karya sastra—menjadi agak membingungkan, setelah melihat contoh yang dikemukakan (nama-nama di halaman 44 dan halaman 46). Apakah hanya sekian itu luas cakupan Angkatan Baru itu? Bagaimana pembatasan selengkapnya? Atau, karena tulisan ini hanya berupa ikhtisar, sehingga sifatnya hanya untuk “perkenalan” saja?

Tulisan itu sendiri, menurut saya merupakan pembelaan lagi yang positif tentunya, terhadap gejala sastera pop di Indonesia. Ini gejala baik, sebab memang sudah seharusnya “orang-orang tua” lebih cermat dalam melihat perkembangan kaum muda, tidak asal melontarkan sikap a priori.

Sebagai arena promosi buku Angkatan-angkatan dalam Sastra Indonesia yang akan terbit, kiranya majalah Prisma ini cukup meyakinkan. Walaupun ternyata, tulisan itu sendiri sangat menarik dan menimbulkan rasa ingin tahu selanjutnya!

Hendry Ch. Bangun 0777011743 – FSUI Jakarta

Pergantian generasi: bukannya terlampau dibesar-besarkan

Tanggapan saya atas pendapat saudara Asmara Nababan dalam Prisma, No.2, Februari 1980, mengenai pergantian generasi: adalah wajar apabila pergantian generasi mulai ramai dibicarakan, bukan saja oleh orang awam/masyarakat luas atau sekelompok mahasiswa tetapi juga oleh tokoh-tokoh nasional seperti Ali Moertopo, Jenderal Widodo dan Adam Malik. Jadi janganlah menganggap ini suatu isyu politik yang terlampau dibesarkan, karena masalah generasi ini sangat menentukan bagi berlangsungnya kehidupan suatu negara.

Saya pun mengerti bahwa pergantian generasi bukan hanya karena segi usianya tetapi juga segi integritasnya (hal. 61). Tetapi bukankah faktor umur seseorang akan mempengaruhi fisik maupun psikisnya? Dalam umur 40 sampai 65 tahun kemampuan fisik seseorang mulai berangsur-angsur menurun. Secara alamiah apabila umur bertambah tua maka daya pikir juga mulai berkurang dan tidak dapat lagi memenuhi tugas-tugasnya seperti waktu-waktu sebelumnya. Tetapi sebaliknya seperti yang anda katakan—walaupun usia muda tetapi tidak memiliki integritas tidak akan memiliki peluang, dapat dibenarkan. Tetapi apakah anda sudah tahu betul bahwa generasi yang akan menggantikan generasi tua tidak memiliki integritas? Anda bukannya pesimis (hal. 61) melainkan meragukan keberhasilan generasi sekarang membawa perubahan atau pembaharuan karena generasi sekarang belum pernah membuktikan apa-apa yang berarti. Ternyata anda sendiri sebagai generasi sekarang sudah hilang kepercayaan kepada diri sendiri, generasi sekarang bukannya tidak dapat membuktikan apa-apa tetapi kesempatan belum ada.

Dalam hal kepemimpinan persepsi generasi muda Kristen juga sama dengan generasi muda lainnya. Dalam Agama Islam seorang pimpinan harus benar-benar bertaqwa kepada Allah, jujur, harus betul-betul melaksanakan demokrasi. Menurut anda, Nabi Daud dan Nabi Musa ketika diutus oleh Tuhan untuk menjadi pemimpin umat kebetulan berusia muda tetapi bukan mudanya yang dilihat oleh Tuhan melainkan ketaatannya. Tetapi menurut saya Tuhan menciptakan mereka dalam usia muda secara kebetulan; mereka dipilih oleh Tuhan yang maha tahu bukan saja karena ketaqwaannya kepada Allah, tetapi karena yang berusia muda itu tangguh dalam segala hal.

Tidak perlu diragukan lagi kemampuan generasi kini untuk diberi tanggungjawab kepemimpinan, walaupun ada yang menamai generasi sekarang sebagai generasi santai. Percayalah, setiap kurun waktu akan muncul tokoh-tokoh baru yang mampu diserahi tanggungjawab kepemimpinan dan tipe kepemimpinan tersebut tidak mungkin sama sebab setiap zaman membutuhkan pemimpin yang berlainan.

Mien Usman Jalan Selaparang Gg. VII No. 5 Pajang Barat Mataram Lombok Barat.

Sampel tidak representatif

Tulisan Daniel Dhakidae (Prisma 2, Februari 1980) cenderung berupa pelepasan uneg-uneg di hati, daripada ingin mencari jawab. Apakah peremajaan berlangsung dengannya sendirinya atau tidak hanya dibandingkan 2 buah daftar umur anggota DPR di tahun 1971 dan 1977, seolah-olah negara ini baru lahir tahun 1971. Sampel tidak representatif.

Pernah tanam pohon salak? Sekali salak ditanam, ia akan produktif sepanjang masa, sepanjang abad. Tidak diperlukan regenerasi. Tidak ada yang keberatan salak tidak diregenerasikan. Kenapa manusia perlu regenerasi? Karena ia tidak bisa seperti salak. Masa produktifnya terbatas. Berapa tahun? Seperti kata Ortega, 30 tahun. Dari umur 30 sampai umur 60. no, kalau kita ingin mencari jawab apakah ada regenerasi atau tidak pakailah kurun waktu 30 tahun. Cari daftar umur anggota DPR selama 30 tahun. Bukan membandingkan 2 buah daftar yang selisihnya hanya 6 tahun. Sampel tidak representatif. Dalam 6 tahun mereka masih datang dari generasi yang sama.

Tapi kalau begini lain lagi ceritanya: kenapa manusia perlu regenerasi? Supaya orang lain/generasi berikutnya punya kesempatan. Produktivitas bukan faktor penentu. No, kalau begini anda bisa hanya membandingkan 2 daftar yang selisihnya hanya 6 tahun, bahkan selisih 1 tahun pun boleh. Tapi buatlah dalam bentuk tulisan pop, jangan tulisan penelitian. Sebab tulisan penelitian memiliki tanggungjawab ilmiah.

Darmastuti Tanjung Duren V/44 Jakarta Barat.

Catatan penulis

● Negara ini mungkin sudah didirikan sejak masa Majapahit. Tetapi pemilihan umum yang menjadi landasan sirkulasi elite atas dasar kehendak massa rakyat baru terjadi di tahun 1971. Tahun 1955 ada pemilihan umum. Akan tetapi dengan dibubarkannya konstituante hasil pemilihan umum tersebut, dan ketika DPRGR tidak dipilih tetapi diangkat, kita tidak lagi punya dasar perbandingan yang konsisten. Namun bila pengangkatan-pengangkatan itu mau dipertimbangkan, maka konsep generasi menjadi sama sekali tidak berperan, karena di sana jelas-jelas bermain faktor lain seperti kesetiaan ideologis, perimbangan kekuasaan dalam bentuk perimbangan antar kelompok politik, agama dan lain sebagainya. Satu-satunya kemungkinan yang tersedia dan siap pakai adalah kedua periode pemilihan umum tersebut.

● Anda boleh jadi benar bahwa tidak mungkin melihat proses pergantian generasi dalam jangka waktu 6 tahun. Namun juga tidak benar bahwa harus ditunggu 30 tahun. Angka 15 tahun (Ortega Y Gasset), atau 30 tahun (Guiseppe Ferrari) adalah bikinan oleh setiap ahli tersebut. Akan tetapi harus diingat bahwa dalam konsep regenerasi pun ada yang disebut dengan proses peremajaan yang konstan (Mannheim). Tulisan ini justeru mengatakan bahwa teori Mannheim tidak berlaku di sini. Bukti baliknya dilukiskan dengan jelas dalam proses pergantian anggota DPR yang menyebabkan struktur umur DPR hasil pemilihan umum 1977 malah menjadi jauh lebih tua daripada DPR hasil pemilihan umum 1971. Hal ini berarti ada faktor lain di luar konsep generasi yang mampu menjelaskannya. Tambahan pula bukan umur itu yang terpenting, tetapi lokasi sosial dan dari sana karakter suatu generasi yang berhubungan dengan umur. Dan membeberkan karakter bukanlah melampiaskan “uneg-uneg”.

● Dalam hubungan itu maka regenerasi yang digembar-gemborkan akan berlangsung di tahun 1980-an sangat boleh jadi merupakan mitos dan truisme. Mitos, karena ternyata bahwa sirkulasi elite bukanlah disebabkan oleh kesediaan satu generasi untuk diganti oleh generasi yang lain, tetapi di sana bermain faktor kekuasaan yaitu merebut dan mempertahankan kekuasaan, kepentingan dan lain-lain sebagainya, sehingga sia-sia mempergunakan generasi sebagai alat analisa. Truisme, karena bila terpaku pada konsep generasi maka harus ditunggu sampai yang tua mati baru terjadi regenerasi.

Daniel Dhakidae

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan