Prisma

Kritik & Komentar

Koreksi untuk Ridwan Saidi

Saya sangat tertarik dengan majalah Prisma, khususnya nomor 1 dan nomor 2, tahun 1980.

Sehubungan dengan itu saya ingin memberikan beberapa koreksi terhadap artikel Saudara Ridwan Saidi, “Catatan di Sekitar Regenerasi dalam Kelompok Islam”, Prisma No. 1/Januari 1980. Faktor usia tidak begitu penting dalam prinsip generasi di kalangan umat Islam atau Ittiba’ fil Rasul, yang penting adalah kematangan Aqidah dan Risalah Islamiyah itu sendiri serta kemampuannya untuk mengemban misi Rasulullah SAW, tak soal apakah dia berumur sepuluh tahun ataukah 50 tahun.

Koreksi lain perlu diberikan untuk tulisan di halaman 26, yaitu yang menyangkut diri almarhum H.M. Junus Anis:

  1. Bila yang dimaksudkan Saudara Ridwan Saidi adalah Junus Anis bekas Sekretaris PP Muhammadiyah di Yogyakarta, maka kekeliruan anda adalah beliau itu bernama H.M. Junus Anis putra H. Anis. Selain itu, H. Anis tidak pernah jadi tokoh pergerakan Islam kaliber nasional/regional.
  2. H.M. Junus Anis, Sekretaris eks-PP Muhammadiyah itu meninggal dunia pada tahun 1979 bukan tahun 1972, dan bukan putra dari K.H.E. Abdurrachman yang saudara maksudkan itu. Setelah kami adakan penelitian dan wawancara dengan tokoh-tokoh PP Muhammadiyah di Yogyakarta ternyata beliau (Almarhum H.M. Junus Anis) tidak pernah menjadi Sekjen Persatuan Islam, bahkan jadi anggotayapun tidak pernah. Ini perlu kami koreksi untuk memperjelas permasalahannya dan kami harapkan untuk selanjutnya saudara agar lebih hati-hati dalam mengungkapkan pribadi dan sejarah perjuangan tokoh-tokoh Islam dan organisasinya sehingga tidak mengacaukan para pencinta sejarah Islam di Indonesia khususnya.
  3. Kami tidak ingin berpolemik dengan Saudara Ridwan Saidi sebab sangatlah mudah saudara menjawabnya dengan satu kata saja yaitu “bukan yang dimaksud pada butir nomor 1 di atas” selesai bukan? Itu kami anggap tidak tepat sebab belum pernah kami baca, dengar, ketahui bahwa ada Junus Anis lain yang setaraf dengan beliau tersebut di atas.

Bahwa masalah regenerasi itu bukan orangnya saja yang berubah dari tua kepada orang muda, tetapi wataknyapun haruslah tepat dan memang pantas untuk dipercaya oleh bangsa dan terutama umat Islam yang diwakili itu. Untuk apa regenerasi kita perjuangkan bila yang menggantikannya sama saja wataknya dengan yang dia gantikan. Sebagai contoh; orang tua dianggap tidak ahli, korup, pelacur politik dan ideologi maka perlu digantikan oleh yang muda tetapi ternyata yang muda itupun setali tiga uang dengan yang terdahulu.

Kita inginkan regenerasi itu benar-benar murni, alamiah dan melalui proses yang benar dan adil serta mendapat dukungan kuat dari orang yang dia wakili atau mengatasnamakan serta memperjuangkan segala aspirasi dan tujuan perjuangan yang dianutnya itu dengan konsekuen.

Tengku Hasballah Puteh Jalan Pemali I/41 Semarang

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan