Tiga Kiblat Politik Tionghoa Indonesia sebelum perang: Nanking, Den Haag dan Jakarta
Di dalam Prisma no. 9, September 1980 halaman 92-94 dimuat sambutan Dr. Leo Suryadinata atas ulasan saya (Prisma no. 6, Juni 1980 halaman 92-96) tentang bukunya Political Thinking of the Indonesian Chinese 1900-1977 (Singapore University Press, 1979).
Saya harus berkata, bahwa “Dari benturan pendapat terperciklah kebenaran” (Du choc des opinions jaillit la verite). Di dalamnya ada beberapa fakta dan interpretasi saya yang mendapat sorotan dari Dr. Suryadinata. Misalnya tentang bukunya Peranakan Chinese Politics in Java 1917-1942 (1976) yang saya sebut diterbitkan oleh Singapore University Press seharusnya yang benar oleh Institute of Southeast Asian Studies. Koreksi itu saya terima dan saya ucapkan terima kasih. Saya sendiri tak mempunyai buku tersebut dan di perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial dan beberapa perpustakaan milik negara, tempat saya mencari referensi buku itu tak terdapat, sedangkan teman akrab yang mempunyaia sedang pergi ke luarnegeri, hingga saya terpaksa melihat di dalam suatu daftar, yang apa celaka — meleset pula. Tapi tentang saya tidak membahas buku itu, sebab sebenarnya karena saya kuatir ulasan saya akan terlalu panjang di samping tahun terbitnya telah terlalu lama. Tentu saja harus diakui di sini, bahwa buku tersebut akan membantu pembaca buku baru Dr. Suryadinata (1979) kalau didampingkan ketika membaca.
Sebenarnya yang saya harapkan adalah kedar diberikannya suatu ikhtisar agak cukup mengantarkan bunga rampai tulisan-tulisan politik yang saudara kumpulkan. Tak perlu terlalu lengkap. Saran ini saya kemukakan, karena bagi para pengambil keputusan perlu pengetahuan sosio-historik cukup untuk melandasi Chinese policy-nya. Di dalam masalah pembinaan bangsa golongan peranakan Eropa telah menyelesaikan masalah mereka sendiri melalui eksodus massal pada tahun 1955, sedangkan sisanya melalui pemasaran technical skill mereka dan yang wanita melalui pernikahan campuran yang terbuka luas bagi mereka. Peranakan Arab mendapat lapangan luas di bidang tatausaha, tatalaksana, pengajaran agama Islam dan bahasa Arab dan terakhir cukup menonjol di dunia jurnalistik di dalam tradisi Abdurrachman Baswedan dan Abdullah Salim (Asa) Bafagih. Tapi kedudukan keturunan Tionghoa sebagai pedagang cukup sulit. Dahulu banyak antara mereka untuk berdagang menempuh pinjam nama Ali-Ali dan menjadi Ali Baba; sekarang karena kebanyakan mereka sendiri sebagai Baba telah resmi mengganti nama, maka tak sedikit Baba memutar uang berbagai Ali yang punya banyak uang panas. Kalau iklim politik menjadi panas risikonya Baba-Baba yang bekerja untuk Ali-Ali ini menjadi serba salah. Lain dengan pekerja-pekerja ilmiah seperti almarhum dua bersaudara Tjan Tjoe Som dan Tjan Tjoe Siem. Karena mereka tak punya apa-apa (kecuali buku), mereka tak merisaukan keadaan rawan.
Mengenai pendapat saya, bahwa Sin Po didirikan oleh angkatan pertama lulusan THHK, saya kira pokok soalnya adalah oleh orang-orang yang berpendidikan bukan Barat. Di dalam soal Law Giok Lan mungkin ia mendapat pengajaran private Tionghoa dan Melayu, tapi mungkin juga pada usia terlambat kemudian masuk THHK. (Belum tentu kelas I, mungkin juga langsung kelas III). Dari wawancara dengan orang tua-tua seperti almarhum Thio Tek Hong umur masuk sekolah pada awal abad ke-20 ternyata sangat longgar. Kadang-kadang beberapa orang murid sekolah dasar kelas lanjut diam-diam telah menjadi ayah. Adalah menarik hati kalau riwayat tokoh-tokoh itu dapat dicatat, sekalipun -informan-informan telah banyak meninggal dunia, termasuk sahabat saya Tio Ie Soei.
Mengenai Tjoe Bou San mungkin secara formal ia bukan lulusan THHK, tapi ia pun bukan hasil pendidikan Barat. Sebagai orang yang rajin belajar akhirnya ia pandai bahasa Belanda, tapi pengaruh bahasa Inggris masih lebih besar di dalam dialek Melayu Tionghoanya. Meskipun bersekolah Tionghoa, Ang Jan Goan pandai bahasa Belanda. Saya kira pergaulannya di dalam Rotary Club yang ekslusif membantunya mempraktekkan bahasa Belanda.
Mengenai Dr. Kwa Tjoan Sioe, saya ucapkan terimakasih atas informasi Saudara bahwa isterinya Lie Mei kelahiran Jakarta dan lulusan Kaochung (SMA) Jakarta. Dr. Kwa almarhum adalah dokter keluarga kami mulai tahun 1932 sampai ayah-ibu saya dipaksa bermukim di Nederland pada tahun 1937. Almarhumah ibu saya pernah bercerita, bahwa Dr. Kwa bertemu dengan isterinya di Shanghai. (Mungkin Ny. Kwa Tjoan Sioe-Lie belajar di sana?). Hingga saya menarik kesimpulan yang keliru, karena buku sahabat saya Nio Joe Lan memang belum saya baca. Terimakasih atas koreksi Saudara.
Mengenai keikut-sertaan Mr. Ko Kwat Tiong, Mr. Ong Lian Kok dan Liem Koen Hian di dalam konferensi CHH, tidaklah berbicara banyak tentang sikap politik mereka yang positif di kemudian hari. Perkembangan ke arah positif adalah wajar. Sebaliknya bekas pejuang kemerdekaan Indonesia pun ada, yang kemudian menjadi kaki-tangan NICA, Nefis dan IVG. Yang menjadi soal adalah bahwa catatan riwayat politik dan riwayat hidup Kan Hok Hoei (dibelandakan menjadi H.H. Kan) adalah menjijikkan, memuakkan. Dr. Simon L. van der Wal di dalam bukunya mengenai kumpulan dokumen-dokumen resmi pemerintah kolonial Hindia-Belanda jilid II halaman 185-186 mengatakan, bahwa: “Meskipun demikian putusan badan (korps) para pemilih Tionghoa baginya (H.H. Kan) kentara sekali tak menguntungkan. Ia sendiri baru muncul dari kotak suara pada pengocokan yang kedua; Tuan Yo Heng Kam (P.E.B. = Politiek Economische Bond, Persarikatan Ekonomi Politik, yang dijuluki kaum nasionalis sebagai Politik Ekor Babi; catatan saya, SIP) mendahului dia dengan tak kurang dari 42 kartu. Kacung (schildknaap) Tuan Kan, Tuan Loa Sek Hie (anggota tetap) tak terpilih kembali. Sebagai penggantinya tampil orang Semarang Mr. Ko Kwat Tiong, yang dilukiskan sebagai seorang idealis, ketua Partai Tionghoa Indonesia, yang gagasannya sendiri agak mengarah kepada bergabung dengan nasionalisme bumiputera.” (Terjemahan saya, SIP).
H.H. Kan adalah satu-satunya orang Tionghoa yang sebagai colonial bootlicker diper-sen tanda jasa tertinggi Ksatria Ordo Singa Belanda. (Ketika itu sang singa belum ompong!).
Mengenai Mr. Phoa Liong Gie terdapat bahan tentang polemik Dr. Kwa terhadapnya dan sikapnya yang pro-Belanda di dalam S.L. van der Wal II:*
Mengenai berdirinya PTI keikutsertaan Dr. Tjoa Sik Ien, Siauw Giok Tjhan dan Oei Gee Hwat sepanjang keterangan berupa wawancara tokoh-tokoh lama dapat dibenarkan, sekalipun, karena masih berkuliah/bersekolah (SLTA) tak resmi nama mereka dicantumkan sebagai pendiri sesuai dengan kebijaksanaan almarhum Liem Koen Hian supaya mereka dapat menyelesaikan studi mereka dahulu. Menurut almarhum Liem Koen Hian ia ada hubungan surat-menyurat dengan tokoh-tokoh yang masih belajar di negeri Belanda. Mengenai Siauw Giok Tjhan dan Oei Gee Hwat, mereka ketika itu masih bersekolah di Surabaya. Demikianlah tak mengherankan kalau segera setelah selesai sekolah mereka aktif. Di dalam buku saudara sendiri The Chinese Minority in Indonesia (Chopmen Enterprises, Singapore, 1978) halaman 99 Saudara menceritakan bahwa Lien Koen Hian sekalipun namanya hanya tercantum sebagai pembantu tetap, namun menurut pengamat-pengamat sezaman sesungguhnya merupakan pemimpin redaksi Siang Po. Ini memang keadaan khas Indonesia. Pada masa penjajahan Belanda misalnya, ada jabatan redaktur duduk (zitredacteur) yang formal namanya tercantum sebagai redaktur penanggung-jawab penerbitan. Tapi tugasnya yang sebenarnya adalah masuk penjara, menjalani (uitzitten) putusan hukuman pengadilan kolonial, hingga pemimpin redaksi yang sesungguhnya dapat diselamatkan. Sementara ia masuk penjara orang lain menjadi pejabat redaktur duduk. Almarhum Bambang Sindhu, terakhir redaktur Minggu Pagi dan Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta, adalah redaktur duduk untuk penerbitan-penerbitan PNI-Baru. Masih ada lagi yang lain-lain di samping dia. Apakah mustahil adanya ghost-founders bagi PTI? Ini khas Indonesia, Bung!
Demikianlah saya akhiri jawaban saya tentang sikap politik peranakan Tionghoa Indonesia sebelum perang dan tiga kiblatnya: Nanking, Den Haag dan Jakarta.
S.I Poeradisastra
De Volksraad en de Staatkundige Ontwikkeling van Nederlands-Indie Een Bronnenpublicatie tweede Stuk 1927-1942 (J.B. Wolters, groningen, 1965).