Panggung Sejarah Orde Baru
MENGGAMBARKAN kembali seperempat abad perjalanan Orde Baru dengan tokoh-tokoh yang berperan dalam sejarah itu, merupakan usaha yang patut mendapat penghargaan. Sejarah mempunyai arti yang besar khususnya bagi generasi yang akan datang, karena walaupun tidak mengalaminya, namun mereka dapat mengetahui apa yang telah terjadi dan siapa yang mempunyai peran dalam peristiwa bersejarah itu. Dari sini kita mulai belajar dari sejarah bangsa sendiri dan dalam membawakan peran masing-masing akan disadari, bahwa semua usaha dan kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian mata rantai yang menghubungkan masa lalu dengan hari ini menuju hari esok yang lebih baik.
Pengelompokkan para tokoh dalam tiga kelompok yang mewakili generasi yang berbeda, memudahkan kita dalam mempelajari dan menyelami peran masing-masing. Dari tokoh-tokoh yang diangkat ke panggung sejarah Orde Baru ini, walaupun secara bersama-sama mereka telah mengalami sebagai pelaku berbagai peristiwa penting seperti penghancuran pemberontakan G-30-S beserta kekuatan PKI dan organisasi pendukungnya, kegiatan kesatuan-kesatuan aksi sampai dengan penggusuran dan penggantian Presiden Soekarno serta penyelenggaraan pembangunan Nasional 25 tahun pertama, ternyata mereka pun belum mempunyai persepsi yang sama tentang apa yang dikenal degan Orde Baru.
Edisi khusus Prisma kali ini terbit pada waktu yang tepat dengan judul yang tepat pula, karena ia menyertai kita pada tahap akhir pembangunan jangka panjang pertama (PJP I) dan mengantarkan kita ke pesta demokrasi Pemilu 1992 menjelang pembangunan jangka panjang ke dua (PJP II).
Sebagai abiturien kursus reguler angkatan ke-5 (KRA V) Seskoad 1967, saya pertama membaca tulisan Hidayat Mukmin, sebagai salah seorang dosen Sospol kita, di samping Prof. Harsoyo. Saya tertarik pada ungkapannya pada bagian “dari trace baru ke Orde Baru” (hal. 133) di mana tertulis: “kurang diketahui secara jelas dari sumber asli mana istilah orde baru mula-mula dilahirkan.”
Kemudian dalam tulisan Frans M. Parera, saya menemukan ungkapan dengan nada yang serupa (hal. 41-42): “Sejak kapan Orde Baru dimulai? Bila orde baru itu mengandung konsep perubahan kehidupan kemasyarakatan, maka manakah nilai-nilai kehidupan kemasyarakatan yang merupakan pewarisan (kontinuitas) dari orde lama? Manakah nilai-nilai baru (aspek inovatif dan proses diskontinuitas) ciptaan sistem masyarakat baru?