Pernikahan: Pembuktian menuju cinta Psikis
Salut kepada Prisma yang telah mau membuka mata kita terhadap kenyataan-kenyataan yang hidup di dalam masyarakat, termasuk kenyataan mengenai sex yang begitu kompleks dan peka. “Sex itu lumrah, wajar untuk dibicarakan,” kata Irma Hardisurya (Prisma 5-Juni 1976). Saya sependapat dengan Irma, sehingga saya tertegun sejenak ketika membaca awal dari Pengantar Redaksi, yang merasa khawatir bahwa pembaca akan menjadi heran atau gusar atas penyajian masalah sex ini di dalam jurnal yang selama ini dibanggakan mereka. Mengapa penyajian mengenai sex harus dianggap untuk sebuah jurnal seperti Prisma ini. Laupun ada yang bisa dianggap “menurunkan” derajat Prisma, saya rasa hanyalah pemutaan beberapa gambar, terutama pada halaman 40 dan 74. Itu saja.
Menanggapi penjelasan Menteri Penerangan Mashuri, kita merasa gembira bahwa Pemerintah dalam mengatasi pornografi akan bersikap lebih dewasa, yakni tidak menutup mata terhadap perubahan dan perkembangan nilai-nilai yang terdapat di dalam masyarakat. Pemerintah menyadari bahwa tidaklah dapat diberikan kriteria atau patokan yang final mengenai pornografi ini; melainkan akan tetap dibuka kesempatan untuk memperluas kriteria tersebut. Hanya menurut pendapat saya dalam menangani masalah pornografi dalam pers kita, diperlukan adanya kontinuitas serta intensitas, sehingga tidak lagi hanya bersifat hangat-hangat tahi ayam (ma’af saya tidak dapat menemukan istilah yang lebih baik), di mana ada musim pemberidolan dan ada pula musim bebas merdeka, serta adanya penerbitan-penerbitan yang diberi peringatan atau ditindak, sementara penerbitan lain dengan isi yang sama didiamkan saja.
Dalam penjelasannya Menteri Mashuri memberikan komentar mengenai film Cinta, di mana beliau berpendapat bahwa penyajian adegan-adegan tertentu di dalam film tersebut memang sesuai dengan tuntutan cerita dan mengandung cita rasa artistik. Saya tak sependapat dengan beliau dalam hal ini, karena bagi saya yang mengurangi kebagusan mutu film tersebut justru adanya adegan-ranj ang yang terlalu banyak dan
Foto (hal. 40) dan vignet (hal. 74) Prisma 5/Juni 1976
“begitu tidak ilmiah”? Ilmiah atau tidaknya sesuatu tulisan tergantung kepada cara penyajiannya, bukan dari masalah yang dibahas. Bisa saja tulisan mengenai kehidupan tumbuh-tumbuhan menjadi tulisan yang jorok bila penulisnya memang menghendaki demikian. Sebaliknya tulisan mengenai kehidupan para pelacur bisa menjadi sebuah karya ilmiah atau artistik.
Mengenai penyajian Prisma edisi bulan Juni 1976 tersebut, saya pribadi berpendapat bahwa penulis-penulis yang mengisinya tidak berniat untuk menjadikan jurnal kita ini sebuah penerbitan yang bersifat pornografi, walaupun gaya penulisan MAW Brouwer misalnya, terasa agak terlalu pop
panjang. Adegan tempat tidur antara tokoh Sarah dan David—yang dilakukan sebelum pernikahan mereka—tidakkah itu mengotori kesucian cinta mereka dan menyebabkan sia-sianya usaha Sarah sebelumnya untuk menjaga kesucian dirinya? Di sini terasa sekali adanya pemaksaan dalam penyajian adegan dalam film tersebut. Saya jadi teringat kembali kepada sebuah film Perancis berjudul Belle de Jour. Film itu sangat halus, walaupun ceritanya mengisahkan kehidupan seorang pelacur. Tapi sama sekali tanpa adegan ranjang dan kita tidak merasa adanya sesuatu yang kurang dalam keseluruhan penyajiannya. Sehubungan dengan masalah film ini, saya ingin memintakan perhatian Pemerintah terhadap pemutaran film-film pada hari Minggu pagi (matinee show), yang biasanya disediakan untuk konsumsi anak-anak. Apakah pantas bila film-film a la James Bond yang penuh adegan kererasan dan sex itu dihidangkan untuk anak-anak di bawah umur?.
Mengenai pre-marital sex, saya sangat terkesan akan pendapat Dr. H. Ali Akbar, di mana beliau mengatakan bahwa cinta yang mendasari hubungan sex sebelum atau di luar perkawinan barulah mencapai tingkat cinta fisik. Sedangkan cinta yang dalam dan tulus adalah cinta psikis, yang bisa dicapai setelah melewati perkawinan. Kesediaan untuk mengorbankan kebebasan (sebagai bujang dan gadis), setelah melalui pula berbagai prosedur dan upacara pernikahan, saya nilai sebagai sebagian pembuktian daripada peningkatan cinta fisik menuju kepada cinta psikis itu.
Hal terakhir yang ingin saya tanggapi di sini adalah mengenai free sex. Kalau hal berubah karena orang-orang melakukan (di Indonesia) hanya sekedar agar dianggap modern sebagai manusia dikonstati oleh Irma Hardisurya, maka saya jadi berfikir: “Betapa mahalnya harga suatu modernisasi di negeri ini”. Saya lebih suka berpegang kepada batasan yang diberikan oleh Pitocelli.
mengenai orang modern, yang berbunyi antara lain: “Being modern meant being able to stand-up to those in power and see them for what they are”.
NY. INA RATNA MARIANI. S. Jl. Gondangdia Lama No. 3 Jakarta.
Prisma dan Istilah asing
Di dalam tulisan-tulisan yang dimuat Prisma, betapa banyaknya dijumpai kata-kata dan istilah-istilah asing yang di-Indonesia-kan. Menurut hemat saya ini mungkin saja dapat menimbulkan ke-kurang-mengerti-an atau menimbulkan interpretasi yang kurang tepat terhadap maksud istilah/kata tersebut pada sementara kalangan pembaca. Kami berpendapat alangkah baiknya jika Prisma diberi tambahan semacam vocabulary, yang kalau dapat dimuat pada halaman khusus untuk itu. Atau dengan jalan memanfaatkan halaman-halaman kosong di setiap akhir sebuah tulisan. Ini didasarkan akan dapat dapat membantu meringankan pembaca untuk lebih mudah mencermakan kadar ilmiah yang dikandung oleh Prisma. Sehingga jurnal ini akan bertambah nyata fungsinya sebagai media informasi ilmiah yang isinya semakin dapat difahami oleh masyarakat luas.
Hal ini saya kemukakan, kalau memang sekiranya dipandang tidak akan sampai menurunkan martabat dan bobot Prisma sebagai suatu jurnal yang berwibawa, serta sebagai forum pembahasan tulisan-tulisan ilmiah yang segar. Dalam kenyataannya jurnal ini bukan semata-mata hanya untuk orang-orang yang berpendikat intelek/ilmiahwan saja.
ACHMAD ALY WAFA S.M.
Departemen Ekonomi-Umum
FKIS—IKIP Malang