Tahun 1950-an, di sebuah sekolah menengah di Solo; pak guru menyuruh murid-muridnya menghafal sebuah sajak Ali Hasjmy yang berjudul “Pengemis”:
Beri hamba sedekah, o tuan,
Belum makan dari pagi,
Tolonglah patik, wahai tuan,
Seteguk air, sesuap nasi.
Lihatlah, tuan, nasib kami, Tiada sanak, tiada saudara, Pakaian di badan tidak terbeli, Sepanjang jalan meminta-minta.
Lihatlah, tuan, untung kami, Pondok tiada, huma tiada, Bermandi hujan, berpanas hari, Di tengah jalan terlunta-lunta.
Bukan salah bunda mengandung, Buruk suratan tangan sendiri, Sudah nasib, sudah untung, Hidup malang hari ke hari.
O, tuan, jangan kami dicibirkan, Jika sedekah tidak diberi, Cukup sudah sengsara badan,1 Jangan lagi ditusuk hati …
Seorang demi seorang kemudian disuruh maju ke muka kelas untuk mendeklamasikan sajak yang ditulis pada zaman penjajahan Belanda itu; Guru Menilai. Dengan gaya masing-masing mereka meniru-niru gaya pengemis sambil mengucapkan sajak itu keras-keras. Pak guru mengangguk-angguk puas kalau ada muridnya yang berhasil bergaya persis pengemis, dan murid-murid tertawa kalau ada teman yang cara membawakannya lucu. Relatif mudah bagi mereka untuk meniru gaya pengemis (menjiwainya), sebab memang setiap hari para remaja itu berjumpa pengemis. Dan patut dicatat bahwa sajak itu dihafal bukan dalam rangka peningkatan kesadaran sosial, tetapi dalam pelajaran bahasa Indonesia.
Sajak itu bukan merupakan satu-satunya karya sastra kita yang menunjukkan simpati sastrawan terhadap kaum miskin; malah dalam hubungannya dengan perhatian ini, kita boleh bangga akan sastra Indonesia modern yang padat dengan pengemis, gelandangan, kere, orang buangan, yang tak bertanah, dan makhluk Tuhan yang papa. Dua baris sajak saduran Chairil Anwar, “Kepada Peminta-minta”, terbaca sebagai berikut:
Nanah meleleh dari luka Sambil berjalan kau usap juga.2
Dan kira-kira sepuluh tahun setelah negeri ini merdeka, penyair Toto Sudarto Bachtiar menulis sajak “Kepada Si Miskin”; dua di antara bait-baitnya berbunyi:
Saudara-saudaraku, seibu sebapa Kita orang-orang tersisih Terluput dari takdir dan jalan besar
Barangkali kubur-kubur bagi kami telah menganga Tetapi apa kubur bagi kita Kita terkubur, sebelum sempat berkata Kepada Pemimpin.3
1 Di muat dalam H.B. Jassin (ed.), Pudjangga Baru, (Djakarta: Gunung Agung, 1963), hal. 210.
2 H.B. Jassin, Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, (Djakarta: Gunung Agung, 1956), hal. 62.
3 H.B. Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei II, (Djakarta: Gunung Agung, 1962), hal. 55.