Prisma

Lahan Baru

PREDIKAT yang telah menjadi mitos menyebutkan Indonesia adalah negara agraris dan tropis. Sebagian terbesar rakyat hidup dan berkubang di sektor pertanian dan tinggal di kawasan yang dilintasi garis katulistiwa dan bermusim ganda: hujan dan kemarau. Kondisi lingkungan alam demikian adalah tetap. Secara turun temurun masyarakat Indonesia senantiasa memperhitungkan faktor musim bila mereka akan turun ke sawah. Salah menentukan saat yang tepat untuk bercocok tanam, pasti akan berakibat fatal. Panen gagal, berarti sengsaralah hidup mereka dan keluarganya. Dan kesengsaraan itu bisa bersifat nasional apabila seluruh petani Indonesia keliru menentukan waktu.

Kekeringan atau kemarau panjang pun sebenarnya sudah seringkali menjadi perhitungan kaum tani. Masyarakat Jawa — bagian terbesar dari petani Indonesia — tahu persis kapan masa itu tiba. Dengan tata cara perhitungan sederhana mereka telah diajar oleh nenek moyang dan alam. Perhitungan sekaligus pengalaman mereka pada umumnya tepat. Dan ketepatan memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi di sektor pertanian seharusnya lebih baik lagi mengingat pendekatan modern dapat meramal cuaca di negara kita pada waktu mendatang. Kekeringan pada tahun 1991 ini sebetulnya telah diramalkan beberapa tahun yang lalu dan masih akan berlanjut pada tahun 1992 nanti.

Kemarau panjang 1991 — orang Jawa mempercayai sebagai tahun angka bolak-balik yang rawan — telah menurunkan produksi beras secara nasional. Diperkirakan produksi padi 1991 hanya mencapai 44 juta ton gabah kering giling setara 28 juta ton beras. Terjadi penurunan sebesar 2,33 persen dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya. Kesulitan pangan telah melanda beberapa tempat sehingga pemerintah terpaksa turun tangan. BULOG pun sudah melakukan operasi pasar untuk menekan harga beras. Turunnya jumlah produksi padi di satu pihak, dan naiknya jumlah penduduk di pihak lain, secara otomatis akan menyulitkan stok beras nasional. Upaya mengimpor beras untuk memenuhi konsumsi dalam negeri merupakan salah satu langkah darurat. Ini berarti jeholnya pertahanan kita setelah berhasil menyatakan diri sebagai negara swasembada beras pada tahun 1984. Kita kembali menjadi pengimpor beras seperti semula meskipun hanya sementara.

Mencetak sawah sekitar 100 ribu hektar selama tahun 1992-93 merupakan kebijaksanaan baru. Langkah ini tampaknya cukup kontroversial sebab tugas pencetakan lahan baru dibebankan kepada konglomerat. Kredit bank diberikan kepada mereka sebagai “petani berdasi” meskipun barangkali dana itu dapat berasal dari offshore loan. Tetapi pinjaman dari luar negeri oleh swasta juga tidak segampang dulu mengingat Tim Pengelola Hutang Luar Negeri pimpinan Menko Ekuin tentu harus dimintai persetujuannya. Keterkaitan sektoral juga cukup besar sebab pencetakan sawah harus memperhatikan aspek kewilayahan dan kependudukan. Di provinsi mana sawah baru akan dicetak, berapa puluh ribu transmigran yang akan ditampung, jenis teknologi apa yang akan diterapkan dan masalah lain. Hal-hal ini patut diperhatikan dengan harapan kegagalan tidak bakal menimpa langkah pencetakan lahan baru terutama mengingat ramalan cuaca tahun 1992 cukup mengkhawatirkan. Kemarau panjang atau pun kekeringan bukanlah kambing hitam yang mesti dipersalahkan apabila program pencetakan sawah belum membuahkan hasil. Redaksi


Pemimpin Umum: Arsenal Harahap; Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad; Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, Ismid Hadad, M. Dawam Haradjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz, Paulus Widiyanto; Redaktor Pelaksana: Paulus Widiyanto; Staf Redaksi: Nur Iman Subono, E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo; Sekretaris Redaksi: Tri Wijayati; Pemimpin Perusahaan: Maruto MD; Wakil Pemimpin Perusahaan: Arys Sutarman; Sirkulasi: M. Sholeh, Sukandar; Iklan: Arys Sutarman; Tata Usaha: Nina Herliana, Sunarwanto; Produksi: Awan Dewangga, Suradi Suprapto, Yahya Sukaria.

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269. SIIPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420; Telepon: 5663525, 5663527 (direct), 5667139, 5667141, 597211; Kotak Pos 6275/11062, Jakarta 11062. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.0010.5; Penetak: PT. Temprint.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan