Prisma

Laporan Khusus: Adakah Petro Dollar Semanis Buah Kurma?

Pengantar

Hubungan Indonesia-Timur Tengah sudah lama menjadi pembicaraan orang. Di balik harapan akan lebih berkembangnya hubungan itu-terutama dalam perekonomian terdapat beberapa hal yang tetap jadi masalah. Berikut ini Prisma menurunkan sebuah laporan tentang topik itu. Bahan-bahan dikumpulkan lewat wawancara dengan pengusaha yang pernah beroperasi di sana, pekerja yang telah memburuh di Saudi, serta kesan-kesan orang Indonesia yang pernah datang ke Timur Tengah. Team Koordinasi Peningkatan Ekspor ke Timur Tengah membantu pula dengan beberapa bahan. Laporan ini dikerjakan oleh Kelik Paulus Widiyanto, Aswab Mahasin dan Masmimar Mangiang. Redaksi.

Boom minyak di awal 1970-an memandikan negeri-negeri Timur Tengah dengan petro dollar. Arab Saudi, salah satu negeri padang pasir di kawasan ini, memiliki kekayaan minyak bumi yang kini diperkirakan 150 milyar barrel lagi yang belum dikeduk. Minyak yang ditemukan tahun 1938 di negeri itu dan mulai disedot pada tahun 1940-an, pada masa terakhir ini membawa perkembangan luar biasa bagi Saudi. Tahun 1977/1978 yang silam, anggaran belanja negara Raja Khalid bin Abdul-Aziz yang berpenduduk delapan juta jiwa ini, mencapai 30 milyar dollar Amerika Serikat. Ini berarti tiga kali anggaran belanja Indonesia yang berpenduduk sekitar 16 kali jumlah penghuni negeri itu. Saudi bersama Kuwait, Persatuan Emirat Arab dan negara lainnya di Timur Tengah, meniupkan angin yang penuh kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan. Ia mengundang kaum pengusaha dan para pencari kerja dari berbagai pelosok dunia.

“Saudi kini bagaikan bengkel besar,” kata Duta Besar Saudi Arabia di Jakarta, Bakr Abbas Khomais. Negeri tempat diturunkannya ayat suci Al-Qur’an itu tengah membangun. Di mana-mana orang berurusan dengan proyek, dan di mana-mana orang sibuk bekerja. Mereka bukan hanya orang Arab pemilik negeri itu. Berbagai bangsa, dari pengusaha kulit putih Amerika Serikat dan Eropa Barat, pekerja-pekerja kulit hitam dari Afrika, orang-orang bertubuh besar dari Yaman dan Pakistan, sampai pengusaha dan buruh-buruh berkulit kuning dan coklat yang datang dari timur.

Orang Korea Selatan saja-pengusaha dan pekerja nomor wahid di mata Arab-hingga tahun 1978 yang lampau mencapai jumlah 70 ribu di Saudi.

Dan kabar tentang petro dollar, di Indonesia telah mengubah bayangan dan keinginan orang untuk datang ke negeri itu. Kalau dahulu niat untuk berkunjung ke negeri Raja Khalid ini umumnya datang dari para calon jemaah haji, dalam beberapa tahun terakhir ini minat itu meluas menjangkau para pencari kerja yang menemukan langkanya lowongan di dalam negeri. Hingga Oktober 1978, melalui prosedur Antar Kerja Antar Negara (AKAN) tercatat 3.431 orang Indonesia yang bekerja di Saudi, dan 942 lagi di Iran. Tapi berita suratkabar satu bulan kemudian menyebut, jumlah itu telah mencapai 7.000 orang. Selain itu diperkirakan ada 3.000 lagi yang tak melalui prosedur dan tak dilindungi oleh ketentuan AKAN tersebut. Kendatipun begitu, ada pendapat yang mengatakan bahwa Indonesia agak lamban dalam memanfaatkan hubungan dengan Timur Tengah. Dan bentuk hubungan yang mutakhir dengan kawasan ini, nampaknya bukan hanya sekedar apa yang telah dibangun oleh sejarah dunia yang hitungannya telah ratusan tahun.-

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan