Pangantar
Ketika orang membutuhkan angkutan umum, keinginannya bukan sekedar untuk sampai ke tempat tujuan. Di situ ada kebutuhan akan pelayanan yang baik, keselamatan, dan jika mungkin, kenyamanan. Untuk memenuhi kehendak publik seperti itu dalam angkutan penumpang Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi (Jabotabek), agaknya masih panjang jalan yang harus dilalui.
Siapa kini yang berani menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan seperti itu? Penambahan armada angkutan kota saja misalnya, tak kunjung memecahkan persoalan. Jalan raya yang ada telah terlalu sesak untuk menampung kendaraan. Lebih dari 97% kendaraan yang ada sekarang adalah milik pribadi. Tetapi, tentang kesemrawutan di jalan itu, banyak orang yang menuding angkutan umum sebagai penyebabnya. Penambahan jalan — hingga mencapai ratio yang layak dengan kendaraan — merupakan hal yang lebih pelik. Wilayah kota sudah begitu padat. Untuk itu, kereta api rel listrik merupakan pilihan lain dalam angkutan kota ini. Tetapi, kenyamanan angkutan penumpang Jabotabek, mungkin masih terlalu jauh. Berdesak-desakan dalam angkutan umum masih tak akan terselesaikan dalam 20 tahun mendatang.
“Laporan Khusus” kali ini mencoba menelusuri liku-liku angkutan kota tersebut, setelah penduduk kian padat dan wilayah permukiman menjalar keluar Jakarta. Bahan-bahan dikumpulkan oleh M. Ahmad Soemawisastra bersama-sama dengan Edward S. Simandjuntak yang menulis laporan ini. Redaksi


