Prisma

Laporan Khusus | Ke Binatu, Bukan Lagi Buat Mencuci

Pengantar

Di daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara, orang tidak lagi hanya mengantarkan pakaian ke rumah binatu. Banyak di antaranya kini yang membawa cincin emas, radio, tape recorder dan bahkan lemari ke rumah tempat mencuci pakaian itu. Ia terjadi karena mereka membutuhkan uang pinjaman, dan barang-barang itu digadaikan.

Pegadaian gelap yang memiliki izin usaha sebagai binatu itu-bahkan ada yang tak punya izin-menetapkan bunga sekitar 35 persen per bulan. Barang yang digadaikan hilang jika dalam dua bulan tak ditebus. Tetapi rumah binatu seperti itu tetap ramai “pengunjungnya.” Penduduk menyebutkan, mereka perlu uang bukan untuk apa-apa, tetapi buat makan. Di tiga kecamatan yang meliputi 16 kelurahan di daerah itu, mayoritas warganya adalah para pekerja kecil: pegawai tingkat bawah, buruh dan nelayan. Merekalah yang jadi “langganan”, dan mereka adalah para “pemegang surat-surat binatu.”

“Laporan Khusus” kali ini adalah tentang urusan gadai-menggadai di daerah Jakarta Utara itu. Bahan-bahan dikumpulkan Arie Supomo dan ditulis oleh Masmimar Mangiang. Redaksi.-

Jika orang di daerah Tanjung Priok, Jakarta Utara, pergi ke rumah binatu, belum berarti dia hendak mencucikan pakaiannya. Sejak beberapa tahun terakhir ini banyak penduduk yang pergi ke tempat itu mencari uang pinjaman dan menyerahkan pakaian sebagai jaminan. Untuk kebutuhan mendesak seribu-duaribu rupiah, mereka harus membayar bunga 35 persen sebulan. Kalau dalam dua bulan pakaian itu tak ditebus, jangan diharap dapat diambil. Ia dianggap hilang dan para pedagang pakaian bekas siap menampungnya dari si pemberi pinjaman. Ada sekitar 150 rumah binatu di tiga kecamatan di Jakarta Utara sekarang yang berpraktek sebagai pegadaian gelap dengan bunga tinggi itu. Langganan mereka adalah kaum pekerja: buruh, nelayan serta ribuan orang lainnya yang tergolong tak berpunya. Operasi anti-rentenir konon belum sampai ke daerah itu.

Pakaian: jalan satu-satunya

Seorang buruh pelabuhan kelahiran Tangerang, Hasan, 41 tahun, mengaku banyak menyimpan surat binatu. Itu berarti Hasan sudah sangat sering menggadaikan pakaiannya karena didesak kebutuhan uang. Salah satu keperluan yang sulit dia tawar adalah untuk sekolah anak-anaknya. Hutang pada tetangga, kata Hasan, cukup banyak. Satu-satunya jalan menurut dia hanya menggadaikan pakaian.

Awal Juni yang lewat, di suatu sore ketika baru pulang bekerja, Hasan ditemui di rumahnya di Blok F, Kelurahan Semper, Kecamatan Cilincing. Hari itu untuk keluarganya dia pulang dengan hasil nihil. Lelaki bertubuh tinggi memperlihatkan otot-otot kekar itu menyebutkan, sudah limabelas sore dia kembali ke rumah tanpa apa-apa. Sebagai buruh lepas, dia mengatakan pekerjaannya tidak menentu. “Seminggu kerja, seminggu tidak. Sepuluh hari kerja, dua minggu menganggur.”

Rumah-rumah binatu itu menjalankan usahanya di tengah-tengah penduduk yang hidupnya tak jauh berbeda dengan Hasan. Di Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja saja, di mana 20 binatu seperti itu beroperasi, 75 persen dari 51 ribu penduduk tercatat bermatapencaharian sebagai buruh. Pegawai negeri di kelurahan itu hanya 15 persen, pedagang 5 persen dan 2,5 persen lainnya adalah nelayan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan