Pengantar
Pengumpulan data untuk berbagai masalah dalam skala nasional adalah pekerjaan rumit yang membutuhkan banyak tenaga. Biro Pusat Statistik (BPS), instansi yang menghimpun segenap data tersebut menempatkan “ujung tombak”nya di setiap kecamatan di Indonesia. Ujung tombak ini ialah mantri statistik. Kini jumlahnya 2.350 orang, yang direkrut—paling rendah—dari lulusan sekolah lanjutan atas. Akurasi data statistik antara lain tergantung pada kemampuan, kecermatan dan kejujuran orang-orang ini ketika berhadapan dengan responden di lapangan.
Sekilas, pekerjaan mencatat data, terasa mudah. Tapi kenyataannya tak demikian. Pada suatu ketika, mantri statistik harus mengubah satuan ukuran yang dikenal secara lokal menjadi satuan yang standar: bahu menjadi meter, atau ikat menjadi kilogram. Pada saat yang lain dia juga harus tahu jumlah garam yang dimakan responden dalam jangka waktu tertentu, mulai dari yang berpendidikan tinggi di kota besar sampai penduduk yang tak kenal abjad di pedalaman.
Pekerjaan rumit ini disertai pula oleh berbagai rintangan di lapangan. Buat menemukan data, mantri statistik suatu ketika harus masuk ke daerah terpencil yang sulit dijangkau, ataupun ditutup hutan lebat yang masih rawan. Berbahaya? Memang. Tapi mulai dari tingkat seperti inilah data untuk skala nasional dihimpun, dikirim ke Kantor Statistik Tingkat (KST) II, diolah, diteruskan ke KST I, diolah lagi dan diserahkan ke BPS di tingkat pusat. Hasilnya dipakai untuk telaahan dan jadi bahan pertimbangan para pengambil keputusan dalam pemerintahan.
Tapi para mantri statistik bekerja masih dengan fasilitas yang belum lengkap. Banyak suka-dukanya. Juga banyak masalah yang ketika di lapangan tampak sangat sederhana, bisa menjadi serius dalam pendataan secara nasional. “Laporan Khusus” kali ini mengetengahkan kisah yang ada di belakang data itu: usaha para mantri statistik di lapangan yang dimulai dari tingkat desa. Edward S. Simandjuntak, merangkum bahan yang dia kumpulkan di Sulawesi, yang dikumpulkan Paulus Widiyanto di Jawa dan Bali, bersama yang dari Sumatera oleh Maruto M.D., menjadi “Laporan Khusus” ini. Redaksi.




