Pengantar Laporan khusus ini—yang seharusnya dimuat pada Prisma nomor 9/1978—ingin mengungkapkan “apa yang dicari orang dalam bekerja dan bagaimana orang melihat pekerjaannya sendiri.” Untuk itu dipilih berbagai jenis profesi. Pengumpulan bahan serta wawancara dilakukan oleh Wahyu Sardono, Wikrama Iryans Abidin dan Kelik Paulus Widiyanto. Redaksi.
Orang-orang yang membutuhkan bantuan dokter syaraf, hampir setiap hari berkerumun di sebuah rumah di Jl. Prapanca, Kebayoran Baru, Jakarta. Ada yang duduk menunggu dengan sabar, ada pula yang menonton televisi, dan jika malam makin larut, ada yang pulas tertidur di mobilnya. Si tuan rumah memberikan bantuan yang mereka harapkan, dan buat orang-orang serupa, bantuan yang sama dia berikan pula ketika berada di rumahsakit. Walaupun masih punya tempo untuk golf dan main kartu, waktu si tuan rumah ini disita pasien yang datang itu sejak pukul 14.30 hingga dekat dinihari. Dia adalah Priguna Sidharta, dokter ahli syarat lulusan Rijks Universiteit, Leiden, Negeri Belanda. Sidharta bagaikan dijerat kepentingan pasien serta pekerjaannya. Untuk apa dia lakukan semua? Jawabannya, “Untuk kepuasan, bahwa saya punya arti bagi sesama manusia.” Kalau untuk “arti bagi sesama manusia” yang disebut dokter Sidharta itu dia menunda waktu istirahatnya hingga dinihari, paginya kadang-kadang dokter syaraf ini tak bisa menunda saat bangkit dari tempat tidur karena mahasiswa menunggu kuliah yang harus dia berikan. Tidur siang sudah bertahun-tahun tak pernah ia lakukan. Mungkinkah hanya dokter Sidharta yang dijerat pekerjaannya? Dan kalau ada yang lain, apakah juga untuk manfaat sesama manusia?
Beberapa bulan yang lalu, di kampus Universitas Indonesia, Salemba, ada seorang laki-laki bernama Haironi. Kehadirannya di kampus ini bukanlah sebagai tuan rumah seperti dokter Sidharta di Jl. Prapanca. Di sini pun Haironi jauh dari kerumunan pasien yang datang membawa uang balas jasa. Lelaki yang datang dari Cidongkol-desa kecil di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat-ini, di kampus itu bekerja mengangkat batu, pasir, menggali lubang atau memikul kayu. Dia bekerja sebagai kuli bangunan. Isteri beserta lima anaknya yang dia tinggalkan di Cidongkol, dia hidup di Jakarta. Selama lima tahun menjajakan tenaga di Ibukota, Haironi berpindah tidur dari satu bangunan ke bangunan lain, dan mengisi perut dari warung ke warung di pinggir jalan. Untuk apa itu semua? “Untuk isteri dan anak-anak saya,” katanya. Keperluan isteri dan anak-anaknya itukah yang menjerat Haironi? Dan bagi mereka yang lain yang juga dijerat pekerjaan, yang juga repot karena kesibukan serta diburu-buru waktu, barangkali ada sesuatu yang lain. Begitu pula dengan Putu Wijaya.





