Pengantar
Bila di tahun-tahun 1950-an 10 orang pria mengeluarkan rokok dari sakunya, hampir dapat dipastikan bahwa 9 di antaranya sigaret putih, dan cuma satu yang sigaret kretek. Waktu itu rokok kretek bukan hanya tertinggal dalam jumlah peminat, tetapi juga dalam penampilannya.
Kini, lebih 20 tahun kemudian, jumlah penghisap rokok putih terus menciut sementara mereka yang menghisap rokok kretek semakin banyak. Menurut pengamat, para produsen rokok, keadaan itu bisa terjadi karena perubahan selera masyarakat konsumen. Kretek dengan penampilannya yang baru bukanlah lagi cuma milik abang becak, tetapi sudah sampai kepada mereka di kalangan atas.
Penampilan sigaret kretek yang sophisticated sekarang ini merupakan hasil kerja mesin. Diberi berfilter dengan bungkus kartun, penampilan sigaret kretek tak lagi kalah dengan rokok putih produksi dalam negeri maupun impor.
Rokok kretek berhasil memukul rokok putih di negeri kita. Tetapi akibat lain dari masuknya mesin dalam proses produksi rokok kretek adalah menciutnya jumlah pengusaha rokok kretek, terutama yang masih mengandalkan kerja tradisional dengan menggunakan tangan. Persaingan antara industri moderen yang menggunakan mesin dengan industri yang tradisional jadi tidak berimbang. Pun penumpukan modal, dan kekuatan merebut pasar hanya terkonsentrasi pada beberapa perusahaan saja.
Melaporkan bagaimana perkembangan industri rokok di Indonesia dewasa ini, Paulus Widiyanto dan Edward Soaloon Simandjuntak mengadakan wawancara, dan pengumpulan bahan tertulis dari Nganjuk, Kudus, Solo, Semarang, Malang, Kediri dan Surabaya serta Jakarta. Penulisan laporan ini dilakukan oleh Edward Soaloon Simandjuntak. Red.


