Pengantar
Sampai sekarang masih banyak penduduk yang belum memiliki rumah sendiri. Di kota, hampir sepertiga dari jumlah keluarga tinggal di rumah dinas, kontrakan, sewa dan lain-lain. Tingkat penghasilan penduduk yang pada umumnya rendah menyulitkan mereka untuk mendapatkan tempat tinggal. Rumah-rumah sederhana yang ditawarkan kepada mereka masih jauh dari jangkauan. Kemungkinan untuk memiliki rumah baru terwujud setelah diberi kredit dari lembaga-lembaga keuangan.
Di desa jumlah penduduk yang punya rumah sendiri relatif lebih banyak, namun kondisi tempat tinggal itu pada umumnya tak memenuhi syarat kesehatan. Pemugaran rumah desa — suatu program perumahan bagi masyarakat pedesaan — tampaknya masih belum begitu berkembang, mengingat jumlah rumah yang perlu dibenahi sangatlah besar.
Rencana membangun 300 ribu unit rumah pada Pelita IV juga terasa sulit terealisasi, apalagi persyaratan bagi kredit pemilikan rumah semakin berat, tanpa dibarengi kenaikan dayabeli masyarakat. Kalau hal ini terjadi, tampaknya antrian peminat rumah akan makin panjang. Secara nasional persentase pemilik rumah sendiri bukannya meningkat, malahan berkurang bila dibandingkan data Sensus Penduduk 1971 dan 1980.
Penghimpunan data dan wawancara mengenai ini dilakukan oleh M. Ahmad Soemawisastra (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi), Mursidi Musa (Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Madiun dan Mojokerto), Paulus Widiyanto (Palembang, Medan, Pontianak, dan Singkawang) dan Maruto MD (Surabaya, Denpasar, Negara dan Ujung Pandang). Laporan khusus ini ditulis oleh Paulus Widiyanto. Redaksi








