Prisma

Laut sebagai Sumber Kedaulatan Pangan

Kinerja ekonomi Indonesia dewasa ini mengalami perlambatan dibanding tahun-tahun sebelumnya disebabkan oleh faktor, antara lain, pelambatan ekonomi global, depresiasi rupiah terhadap dolar AS, penurunan harga minyak internasional, percepatan ekonomi Tiongkok, dan soal kelembagaan. Target pembangunan pun mulai ditinjau ulang dengan lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur serta daerah pinggiran dan pengembangan aspek kemaritiman. Khusus di bidang kemaritiman, penenggelaman kapal yang terlibat illegal fishing dan pembentukan sebuah kementerian koordinator yang menangani urusan kemaritiman dan sumber daya, disambut hangat oleh berbagai kalangan. Di sisi lain, “aksi” penenggelaman kapal-kapal membuat produksi dan hasil tangkapan laut mengalami peningkatan cukup signifikan. Hal tersebut patut diapresiasi dan dijaga kesinambungannya. Karena itu, penting untuk diperhatikan isu-isu strategis yang sedang dan akan dihadapi, sehingga dapat disusun kebijakan pembangunan industri maritim secara lebih komprehensif dan memberi manfaat bagi semua rakyat negeri ini. Lantas, bagaimana keterkaitan industri maritim dengan pelambatan ekonomi global, manajemen kelembagaan dan produksi, serta produktivitas investasi termasuk revaluasi aset? Untuk menjawab soal-soal itu, Elya G Muskitta dan Fachru N Bakarudin dari Prisma mewawancarai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Republik Indonesia Rizal Ramli akhir Desember 2015 di Jakarta.  

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan