Apa yang membedakan bangsa maju dengan bangsa terbelakang? Di mana perbedaan negara berkembang dengan negara sedang berkembang? Hampir semua literatur, para ahli dan negarawan, ternyata menunjuk pada tingkat industrialisasi, terutama perkembangan industri manufaktur, sebagai jawaban atas pertanyaan di atas. Demikian pentingnya anggapan dan besarnya harapan akan kemajuan industri itu, hingga masa depan rakyat dari negara-negara sedang berkembang juga dikaitkan dengan tahap “lepas landas” yang bisa dicapai sektor industri negara tersebut.
Tapi apa sebenarnya yang mendorong pertumbuhan suatu industri hingga mampu menumpang kejayaan suatu bangsa? Ada banyak faktor, namun yang terpenting di antaranya ialah teknik produksi atau disebut juga “teknologi” yang digunakan industri yang bersangkutan. Pilihan jenis dan penerapan teknologi tertentu akan menentukan tingkat efisiensi dan produktivitas serta “nilai tambah” barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu industri. Penemuan teknologi baru di bidang usaha manufaktur di Inggeris telah melahirkan ‘revolusi industri’ yang melanda Eropa Barat dan AS sejak abad XIX. Berkat teknologi baru dan revolusi industri itu pulalah masyarakat Dunia Ketiga sekarang ikut menikmati segala macam barang dan jasa yang semakin meningkat mutu dan jumlahnya, hingga amat memudahkan kehidupan manusia di abad mutakhir ini. Di samping membawa kenikmatan dan kemudahan bagi banyak khalayak, kenyataannya teknologi pengganti tenaga manusia itu juga yang telah membawa pengangguran massal dan berbagai kesengsaraan bagi masyarakat miskin dan kurang terdidik yang merupakan mayoritas penghuni bumi kita sekarang. Bahkan, bom nuklir, persenjataan moderen dan peperangan yang terus berkecamuk dan merenggut jutaan nyawa tak berdosa, adalah juga produk dari teknologi baru tadi.
Sesungguhnyalah tidak ada teknologi yang netral. Ia buatan manusia dan tak mungkin dipisahkan dari budaya dan kepentingan manusia penciptanya. Apalagi teknologi industri buatan Barat yang semakin banyak diimpor negara sedang berkembang adalah teknologi yang diciptakan untuk melayani permintaan pasar, khususnya pasar skala global. Hukum ekonomi pasar dunia tentu saja hanya memenangkan mereka yang kuat modal dan mampu bayar mahal, dan sama sekali tak peduli pada lapisan massa di pedesaan dan kampung-kampung kota karena mereka tak punya apa-apa kecuali belenggu kemelaratannya. Dan selama masyarakat bangsa di bumi ini masih saja dibiarkan terbagi-bagi antara yang serba-kuasa dan yang tuna-kuasa, antara yang kaya-raya dan yang hina-papa, antara si elite dan massa rakyat jelata, selama itu pula teknologi dan industri moderen hanya akan efektif digunakan untuk melayani kepentingan kelompok kecil kaum berada dengan mengorbankan kepentingan umat yang lebih besar. Dalam konteks itu, industri dengan teknologi moderen tidak dengan sendirinya mendatangkan pemerataan kesejahteraan rakyat.
Untuk persiapan “lepas landas”, jelas kita perlu memacu pembangunan industri. Tapi haruskah itu dilakukan dengan segala cara dan asal bisa meningkatkan ‘nilai tambah’ dan GNP? Agaknya, dari sekarang sudah perlu direncanakan “lepas landas” itu untuk siapa, dan menuju ke mana, karena kendala utama kita bukanlah soal modal dan biaya investasi yang besar. Bukan pula kurangnya peralatan, keterampilan ataupun kemampuan mengelola proyek industri berteknologi tinggi. Hambatan terbesar yang kita hadapi justeru terletak pada struktur dan sistem masyarakat kita sendiri yang tak selalu disadari oleh para perencana dan pengambil keputusan. Dalam sistem perekonomian yang masih dualistis dan struktur masyarakat yang mengandung banyak kesenjangan, suatu investasi modal skala besar dengan teknologi tinggi akan mudah sekali dimanfaatkan oleh mereka yang sudah mapan untuk mengeruk keuntungan, menguras sumber-sumber daya, tanpa peduli kelestarian lingkungan hidup maupun nasib massa rakyat yang tersingkir.