Prisma

Lingkungan Asuhan Anak: Sebuah Kesan Pengantar

Pendahuluan

Tulisan ini hanya merupakan kesan-kesan umum yang diolah dari pembacaan atas 23 naskah para peserta sayembara mengenai pola asuhan anak Indonesia, yang diselenggarakan oleh Yayasan Masdani dan LP3ES baru-baru ini. Jumlah itu dipilih dari 101 naskah biografi yang disisihkan oleh Redaksi Prisma dalam rangka melakukan pra-seleksi terhadap 307 karangan yang masuk. Pemilihan itu didasarkan atas menariknya kasus-kasus yang dikemukakan, banyaknya informasi tentang asuhan yang bisa digali daripadanya dan kemungkinan pengolahannya dalam batas waktu yang telah ditentukan.

Hanya 9 naskah pemenang yang diambil untuk penyusunan tulisan itu, selebihnya sebagian dimuat secara utuh dalam nomor ini dan karenanya tak diulas lagi di sini. Untuk lebih melengkapi informasi, sejumlah naskah bukan pemenang (14 naskah) justeru banyak digunakan dalam penelaahan ini.

Bagian besar penulis naskah itu dilahirkan di desa (15 orang, 65%) tetapi kemudian hampir seluruhnya bermukim di kota (20 orang, 87%). Bagian besar adalah anak pegawai (10 orang, 43%) dan sekitar sepertiga berasal dari keluarga Jawa (8 orang, 35%). Agama mayoritas mereka adalah Islam (18 orang, 78%) dan lainnya beragama Kristen/Katolik (5 orang, 22%). Hanya 3 orang (13%) berjenis kelamin wanita, selebihnya adalah kaum pria belaka (87%). Pendidikan mereka adalah perguruan tinggi (14 orang, 63%), SLA (4 orang, 17%) sedang selebihnya tidak jelas.

Dengan sendirinya tulisan ini tidak mewakili seluruh naskah yang masuk, yang kesemuanya pun barangkali belum mewakili semua anak yang dibesarkan keanekaragaman pola asuhan yang berlaku di Indonesia. Tulisan ini hanya sanggup menggambarkan secara umum lingkungan asuhan yang dilewati anak-anak ini, tanpa menutup kemungkinan adanya persamaan yang besar dengan lingkungan asuhan anak-anak lain yang hampir sama cirinya.

Lingkungan keluarga para tokoh-nya

Lingkungan keluarga di mana anak-anak diasuh, ternyata jauh lebih luas dari keluarga inti. Mayoritas anak-anak ini pernah mengalami pindah asuhan di antara keluarga besar-nya (14 orang, 63%) dan hanya 9 orang (39%) yang secara terus menerus diasuh oleh orangtuanya sendiri. Tetapi bahkan di kalangan mereka yang diasuh orangtuanya sendiri itu, ikatan dan perasaan sebagai anggota keluarga besar dari pihak ayah atau ibu masih sangat kuat. Kesan-kesan tentang tokoh-tokoh di samping ayah-ibu bisa juga sangat mendalam, juga bagi mereka yang dibesarkan oleh orang tuanya sendiri.

Ibu, sebagaimana dapat diduga, senantiasa dikenangkan sebagai tokoh yang hampir suci, pusat kedamaian dan kasih-sayang yang bahkan pada kasus-kasus tertentu tampak sebagai sumber semangat hidup. “Ibu-ku hanya satu. Tapi wajahnya nampak di mana-mana” demikian tulis seorang anak yang dilahirkan di wilayah Sungai Serayu yang kemudian mengembara ke Arizona.1


1 Imam Budijdarmawan Pr., “Merden bukan Casa Grande”. Nama penulis pada catatankaki ini, dan juga catatankaki-catatankaki berikutnya adalah nama samaran.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan