Dilahirkan sesudah merdeka, memang suatu karunia. Zaman telah kembali normal, kegaduhan dan huru-hara telah reda. Kutuk telah diangkat, dan penjajahan, penindasan serta persabungan nyawa telah usai. Si Buyung bisa pergi ke sekolah dengan damai, dan si Upik yang dulu bertabur abu kini duduk apik sebangku. Paman yang dulu ditembak Belanda telah beroleh makam di Taman Pahlawan, dan pak de yang digebuk Kenpetai kini membuka warung sate. Ayah masih pergi ke sawah, walaupun produksi sudah melimpah. Sedangkan ibu, karena anaknya sudah tujuh, jadi juru penerang KB yang ampuh. Pendeknya, tak kurang sesuatu apa — yang berarti normal-normal saja.