1
Sebenarnya tidaklah tepat untuk membatasi pengertian tentang mesianisme dalam Islam hanya pada Mahdiisme belaka. Tetapi keterbatasan ruang menghendaki pembatasan pembicaraan seperti itu, walaupun Mahdiisme bukanlah satu-satunya jenis gerakan mesianistis dalam Islam.1 Pembatasan pokok pembicaraan hanya pada Mahdiisme adalah disebabkan oleh sifatnya sebagai manifestasi utama dari mesianisme Islam, sehingga ia seringkali justru dianggap sebagai mesianisme Islam itu sendiri.2 Penyamaan tersebut sering melupakan kenyataan, bahwa Mahdiisme sebenarnya adalah gerakan mesianistis terkecil dalam luas-lingkup pemikirannya dan terdangkal tradisinya di antara gerakan-gerakan mesianistis utama dari agama-agama besar di dunia.3 Dengan demikian, pembicaraan tentang Mahdiisme perlu diletakkan dalam perspektif tertentu yang akan memagari hakekat dirinya dari penyamarataan dengan gerakan-gerakan mesianis lainnya. Perspektif tersebut diperlukan pula bagi pengenalan Mahdiisme sebagai manifestasi berwajah banyak dari fenomena yang satu.4
Mahdiisme semula berasal dari protes politik yang timbul dari pergolakan merebut kekuasaan pemerintahan antara sekian banyak kelompok yang saling bermusuhan pada permulaan sejarah Islam.5 Ia bermula dari kegagalan menyedihkan dari serangkaian pemberontakan bersenjata yang dilancarkan oleh sekte Syi’ah yang berjalan dua abad lamanya, menentang pemerintahan dinasti Umayyah dan kemudian dinasti ‘Abbasiyah. Kegagalan berturut-turut itu, yang umumnya harus dibayar sangat mahal dengan darah dan air mata, akhirnya menumbuhkan semacam kepercayaan di kalangan sekte Syi’ah tentang akan menghilangnya imam terakhir mereka secara ajaib, untuk menunggu masa munculnya kembali di muka bumi sebagai Mahdi (“ia yang memperoleh petunjuk yang benar”) guna menegakkan kembali kebenaran dalam Islam.6 Keyakinan akan munculnya juru selamat (messiah, bahasa Arab: al-masih) berupa Mahdi ini dengan demikian berakar pada dan dengan sendirinya memiliki perwatakan politis. Perwatakan ini tetap lekat pada doktrin tentang Mahdi hingga sekarang ini, walaupun kemudian doktrin itu sendiri berkembang menjadi doktrin teologis yang bersifat eskatologis.7
1 Contoh dari mesianisme non-Mahdi dalam Islam dapat ditemukan dalam kepercayaan sekte Druz di Libanon tentang terangkatnya khalifah dinasti Fatimiyah di Mesir al-Hakim Billah ke langit, untuk kemudian akan turun kembali ke bumi sebagai juru selamat. Tidak terserapnya doktrin Mahdiisme dalam mesianisme Druz ini kemungkinan besar karena perwatakan sektarianistis yang dimilikinya, sedangkan Mahdiisme bagaimanapun juga masih memiliki perwatakan univer silyang diterima oleh berbagai fihak.
2 Frank Gaynor, (ed.), Kamus Mistisisme, (Perpustakaan Filsafat London, 1974), hal. 105. Lebih jelas lagi dalam artikel “Messianism” oleh Hans Kohn dalam Encyclopaedia of Social Sciences (selanjutnya disebut ESS), diedit oleh Edwin Seligman dengan editor pembantu Alvin Johnson, New York; Macmillan, jil. X hal. 363.
3 Ibid.
4 Cara pemagaran dalam memahami pengertian Mahdiisme ini antara lain dapat dilihat dalam artikel “Al-Mahdi” dalam M. Farid Wajdy (ed.), Da’irat Ma’arif al-Qarn al-‘Isyrin, (Beirut; Dar al-Ma’arif, 1971), hal. 476-81. Hal ini perlu dilakukan, karena centang-perentangnya materi yang terdapat tentang Mahdi dalam literatur kuno Islam, seperti karya al-Sya’rani yang beredar luas di kalangan pesantren di negeri kita, Tadzkirat al-Qurtuby (cetak ulang berkali-kali oleh berbagai penerbit. Edisi Dari Ihya’ ‘Ulum al-Din, (Kairo, tanpa tahun,) hal. 132-35).
5 Artikel “Mahdi” dalam H.A.R. Gibb dan J.H. Kramers (eds.), Shorter Encyclopaedia of Islam, cetak ulang foto mekanistis, 1974, hal. 310 (selanjutnya disebut SEI).
6 Artikel “Islam” oleh Joseph Schacht dalam ESS jil. VIII hal. 335-36. Keyakinan akan “kemahdi-an” imam terakhir ini sama-sama dimiliki oleh dua di antara ketiga kelompok utama Syi’ah, yaitu kelompok Imamiyah yang memiliki dua belas imam dan kelompok Isma’iliyah yang memiliki tujuh imam. Tentang perincian persamaan dan perbedaan kepercayaan kedua kelompok itu tentang doktrin Mahdi, lihat Irfan ‘Abd al-Hamid, Dirasat fi al-Firaq wa al-‘Aqa’id al-Islamiyah, (Baghdad: al-Irsyad, 1967).
7 Schacht, op. cit., hal. 336. Montgomery Watt dalam What Is Islam?, (London-Beirut, Longmans-Libraire du Liban, 1968), bahkan menunjuk kepada tahun pemberontakan al-Mukhtar dari sekte Syi’ah (tahun 685 M) sebagai titik mula berkembangnya doktrin Mahdiisme yang bersifat politis.
