Pengantar
Bagaikan pisau bermata dua, selain menghasilkan kemajuan dan keuntungan yang dinikmati sebagian anggota masyarakat, ternyata pembangunan ekonomi, politik dan sosial juga menimbulkan dampak negatif pada sebagian masyarakat lainnya. Tersungkur dan tersingkirnya beberapa kelompok masyarakat – sebagai contoh – akibat pembangunan ini, membangkitkan persoalan yang cukup serius dan dapat membahayakan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Korban dalam pembangunan mungkin sebuah konsekuensi yang tak terelakkan, karena pembangunan adalah juga perjuangan yang selalu menuntut pengorbanan.
Tetapi tersisihnya sebagian kelompok masyarakat atau massa periferal ini, dalam pandangan S.S. Lumy, disebabkan oleh struktur kehidupan manusia yang lebih luas daripada sekedar pembangunan ekonomi dan politik suatu negara. Sekitar 80 persen masyarakat manusia, katanya, saat ini dalam keadaan terjepit dan menjadi bulan-bulanan 20 persen kelompok penguasa dan pengusaha. Sistem sosial, politik dan ekonomi masyarakat yang disusun penguasa dan pengusaha menciptakan ketergantungan rakyat jelata kepadanya.
Hubungan manusia dengan sesamanya, menurut pendeta kaum gelandangan itu, telah berkembang menjadi benturan antara subyek dan obyek. Bagaikan serigala, manusia yang satu ingin menerkam manusia lain. Manusia berlomba memperebutkan bumi dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya. Mereka yang kuat akan hidup, dan yang lemah akan mati. Yang kaya makin kaya, dan yang miskin tetap miskin. Di Indonesia, situasi pertarungan yang keras antar manusia telah mewarnai kehidupan masyarakat. Rakyat di desa tertekan hidupnya dan jeritannya tak dapat didengar lagi, apalagi peran mereka telah terabaikan sama sekali.
Bagi seorang penyanyi yang sebagian lagu-lagunya menyuarakan pahit-getirnya kehidupan rakyat kecil, H. Rhoma Irama, boleh saja rakyat menjadi korban pembangunan asalkan pengorbanan itu tertuju bagi kepentingan rakyat sendiri, bukan untuk sekelompok orang yang mengorbankan rakyat. Memang rakyat miskin tak punya materi dan kepandaian untuk berbuat sesuatu, tapi sebetulnya kekuatan doa mereka merupakan partisipasi yang besar artinya. Untuk itulah pembangunan sekarang harus memperhatikan keseimbangan antara pembangunan fisik dan rohani, kata Rhoma Irama.
Keresahan sosial di kota besar menurut penilaian Sutopo Juwono, Sekretaris Jenderal Departemen Tenaga Kerja RI, perlu dilihat dari sudut pandangan nilai-nilai masyarakat yang telah berubah. Tuntutan keadilan dan pemerataan kini sudah menjadi milik manusia. Bekas Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) ini juga mengingatkan adanya keresahan di kalangan anak muda akibat persaingan mencari lapangan kerja. Situasi ketenagakerjaan pada Pelita IV sangat mengkhawatirkan. Optimalisasi penerimaan tenagakerja di sektor-sektor formal memang sangat diharapkan. Tapi peranan sektor informal dalam menyelamatkan soal ketenagakerjaan, kata Sutopo Juwono, merupakan kenyataan yang patut mendapat acungan jempol.
“Dialog” Prisma kali ini membahas masalah massa periferal dalam proses pembangunan ini, peranan sektor informal, penanggulangan kaum gelandangan dihubungkan dengan soal ketenagakerjaan yang tetap rawan. Redaksi
Sektor Informal: “Sang Penyelamat”, Sutopo Juwono, Sekretaris Jenderal Departemen Tenaga Kerja RI
Masalah pokok ketenagakerjaan pada Pelita IV berkaitan erat dengan masalah pertumbuhan ekonomi nasional yang masih rendah, dan laju pertambahan penduduk yang tetap tinggi. Target pertumbuhan ekonomi 5 persen setahun sulit tercapai dengan kondisi investasi yang masih serba terbatas. Pertumbuhan ekonomi tahun 1983/84 berada di bawah 5 persen. Sementara itu keadaan tahun 1985 amat memprihatinkan. Karena pertumbuhan ekonomi tidak begitu maju, maka pertambahan kesempatan kerja pun tidak banyak.

Mereka Membutuhkan Kasih dan Kehormatan, S.S. Lumy, Pendeta kaum gelandangan dan Pengurus Yayasan Kampus Diakoneia Moderen di Jakarta. Pengalaman menangani kaum gelandangan dan penganggur di Jakarta selama ini memberikan kesan kuat bagi saya, bahwa orang-orang ini tersisih bukan hanya disebabkan oleh pembangunan ekonomi dan politik suatu negara, melainkan menjadi korban suatu struktur kehidupan yang lebih luas lagi. Saya melihat, masyarakat manusia saat ini terbagi dalam tiga golongan. Dua golongan, yaitu penguasa dan pengusaha berjumlah masing-masing 10 persen. Kelompok minoritas ini menjepit kelompok ketiga yang berada di tengahnya. Kelompok mayoritas sebesar 80 persen ini terdiri dari rakyat jelata yang terus-menerus menjadi bulan-bulanan minoritas kanan-kiri itu. Sistem sosial, ekonomi dan politik seluruh masyarakat manusia diciptakan oleh kelompok minoritas. Dengan demikian mereka mampu menguasai mayoritas kelompoktengah yang memang selalu akan tergantung pada kelompok minoritas.

Doa Orang Miskin Itu Makbul, H. Rhoma Irama, penyanyi
Pembangunan adalah perjuangan. Setiap perjuangan, apa pun bentuknya, pasti menuntut korban dan membutuhkan pengorbanan. Itu sudah menjadi hukum Allah. Tapi, pengorbanan itu haruslah seimbang dengan kemajuan yang dicapai. Ia harus sesuai dengan pembangunan yang ada. Perjuangan itu pun haruslah aspiratif. Artinya, dalam suatu negara, yang berdaulat itu adalah rakyat. Sekiranya ada rakyat yang menjadi korban, pengorbanan itu haruslah untuk kepentingan mereka sendiri. Ini adalah munasabah, sesuatu yang wajar. Boleh saja rakyat jadi korban, jika pembangunan itu atau jika perjuangan itu adalah untuk rakyat sendiri – bukan sekelompok orang yang mengorbankan rakyat.
