Prisma

MEMILIH ALTERNATIF

Kemadjuan, modernisasi, pembangunan: kita sudah lama berbitjara mengandjur-andjurkan hal-hal itu, tapi nampaknja kini kita harus merenungkan kembali. Gagasan-gagasan kemadjuan jang di Indonesia dikenal sedjak dasawarsa-dasawarsa abad ke—XX tengah diudji oleh perkembangan kenjataan-kenjataan mendjelang achir abad. Seperti jang mungkin sudah dapat anda duga, dengan mengatakan demikian saja tentu sadja ingin ikut-ikut berbitjara tentang kegalauan jang sekarang terdjadi di negara-negara industri: antjaman runtuhnja keseimbangan ekologis — satu hal jang sudah sering dikemukakan, baik di kalangan PBB maupun di madjalah Playboy, baik di Universitas Tokyo maupun di Universitas Padjadjaran. Ini bisa sadja dianggap sebagai kegemaran baru intelektuil. Betapapun djuga, seraja merasa terhenjak oleh projeksi malapetaka para sardjana M.I.T. The Limits of Growth, jang djadi buahbibir di mana-mana itu, dewasa ini orang diingatkan kembali kepada kata-kata Pascal: “Jang mendjadi matang melalui kemadjuan, musnah oleh kemadjuan”.

Padahal, kemadjuan itulah salah satu hasrat pokok orang-orang terkemuka Indonesia semendjak mereka mentjita-tjitakan lahirnja negeri ini. Bagi kebanjakan mereka, angan-angan atau antjar-antjar Indonesia-jang-akan-datang kurang lebih bersamaan dengan bentuk-bentuk negara industri jang ada: Djepang (Djepang selalu mendjadi tjontoh sedjak awal abad ke—XX), Eropah, Amerika Serikat, Uni Sovjet. Pada mulanja gambaran dunia modern hanjalah terbatas pada pengertian “Barat”, seperti jang bisa kita lihat pada fikiran-fikiran Kartini, beberapa tokoh Jong Sumatra dan para intelektuil madjalah Poedjangga Baroe. Pentjampur-adukan pengertian tentang dunia modern dengan masjarakat-masjarakat kapitalis ini, jang njata sekali terutama dalam pemikiran kebudajaan sebelum perang, memang telah menimbulkan banjak kontroversi jang berkisar pada soal setudju atau tak setudju “Barat”. Kita ingat akan apa jang kemudian disebut “polemik kebudajaan”, perdebatan gagasan tentang alternatif-alternatif jang sebaiknja dipilih Indonesia antara tahun 1935—1939.1 Membatja tulisan-tulisan itu tak dapat saja elakkan kesan, bahwa baik jang menginginkan kemadjuan Indonesia dengan semangat Renaissance Eropah, chususnja S. Takdir Alisjahbana, maupun jang meragukan djalan tersebut, kedua-duanja sama-sama berangkat dari anggapan tentang kemadjuan sebagai hasil nilai-nilai borjuis.


1 Disusun oleh Achdiat K. Mihardja, dalam Polemik Kebudajaan, Djakarta, 1954 (tjetakan kedua).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan