Prisma

Mengapa KMB?

Ketika edisi ini tengah dipersiapkan, mendadak kelas menengah jadi rembug hangat di media massa. Tak kurang dari Pangkowilhan II yang memulainya, disambung rentetan tanggapan yang diungkit Kompas dari dedengkot ilmu politik dan ahli-ahli ekonomi politik. Dari segi waktu, tentu ini suatu kebetulan semata; tetapi tidak dari segi relevansi masalahnya sendiri.

Ungkapan Letjen Yogi SM bahwa dinamika keamanan berasal dari lapisan terbawah kelas menengah, cukup menunjukkan relevansi topik kita dengan masalah stabilitas yang selama ini jadi obsesi. Maklum, citra historis kelas ini sering dikaitkan dengan ideologi dan pembaruan politik, setidaknya jika kita memakai reproduksi lensa lama tentang kaum borjuis dan “Golongan Ketiga” dari sejarah Perancis. Mungkin beberapa babak penting dalam sejarah kita membawa asosiasi ke sana. Mereka yang muncul di sekitar gejolak proklamasi, atau pada arak-arakan tahun 1966 dan kejadian-kejadian hangat lainnya, sering dinisbahkan orang dengan kelas ini. Betul tidaknya, para arif-bijaksana yang maklum.

Hanya saja, model yang kita ambil dari sejarah negara-negara tua itu mungkin tidak cukup lagi. Dengan itu, kita seperti mencari letak suatu titik dari berbagai koordinat, dalam keadaan statika; atau paling jauh, dengan velocity yang rendah sekali. Dihadapkan kepada realitas yang begitu dinamis dari negara muda, kita akan beroleh kesulitan menentukan letak titik itu. Dan dalam keadaan bingung, obyek telaah itu lantas kita sebut saja ‘bukan titik’ atau ‘kuasi titik’.

Negara kita muda, struktur kependudukan kita muda, dan lapisan-lapisan sosial yang terbentuk pun hampir selalu merupakan lapisan baru. Kita suka bicara tentang Tracee Baru, Format Politik Baru, Orde Baru, Orang Kaya Baru, dan kelas menengah kita, kalau ada, merupakan kelas menengah baru (KMB). Hanya tanah air dan kemiskinan saja yang tua-renta.

Keadaan kita mungkin menyerupai onggokan lapisan lempung di atas batu karang tua itu, yang mencoba mengukuhkan tempat hinggap di sekitar sumbu aksis negara. Begitulah dari proses ini lahir raja-raja industri baru, yang semula hanya importir kecil, penimbun palawija, atau pemilik restoran. Kalaupun mereka disebut kapitalis, tidaklah lebih dari kapitalis instan, yang menjadi demikian karena terbukanya akses secara tiba-tiba terhadap sumber atau pasar besar dari negara. Kelas menengah yang mendukungnya juga ditarik secara tiba-tiba. Barangkali karena itu ia sering lembek, mudah goyah, dan senantiasa terengah-engah merebut peluang sempit yang tiba-tiba muncul di ujung karang tua itu.

Susunan yang demikian memang rapuh dan rawan. Sebab bukan saja lapisan itu muda dan lembek, tetapi juga berumur pendek. Sekali terjadi eksplosi, lapisan yang baru terbentuk itu nyaris hilang tanpa bekas. Formasi baru lalu mengambil alih semuanya. Lagi-lagi muncullah dinasti baru, industrialis baru, orang kaya dan kelas menengah yang semuanya baru. Partikel-partikel lapisan itu seolah-olah bergerak dengan kecepatan cahaya. Dan dalam keadaan begitu—untuk mengutip nukilan Einstein yang penuh teka-teki—ruang menjadi nol, waktu menjadi keabadian, dan materi (ini yang penting) membesar dalam ukuran tak berhingga.

Namun imajinasi manusia jauh lebih besar lagi. Dalam keadaan serba goyah dan percepatan yang luar biasa itu, kecenderungannya lantas bergegas dan mumpung. Kesempatan diperjudikan, tetapi resiko ditampik. Dan kapitalis yang muncul kemudian adalah dari jenis rentenir, yang lebih suka memetik bunga daripada bersimbah peluh. Motif laba mengatasi efisiensi dan produktivitas, dan jalan pintasnya ialah monopoli. Dan karena itu hanya diperoleh dengan berkah negara, maka kelekatan kepada sumbu aksis itu harus dijaga dengan sikap waspada. Sebab sekali terjadi guncangan, kiamat mungkin menunggu di seberang jalan.

Buat KMB yang terjebak dalam situasi serupa itu, idealisme memang lebih menarik untuk digadaikan. Dan jika itu terjadi, sobat, KMB memang tinggal sebuah gaya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan