“Emas hitam” sekali lagi mengundang banyak perhatian dan kekhawatiran akhir-akhir ini. Kelangkaan suplai karena meletusnya revolusi Iran yang diikuti dengan melonjaknya harga minyak di pasar bebas, kemudian pengumuman kenaikan harga patokan OPEC dan KTT tujuh negara konsumen minyak terkaya di Tokyo bulan Juni yang lalu, merupakan rentetan kejadian, yang mengingatkan kita akan kerawanan masalah minyak dunia. Masalahnya, seperti sekarang disadari, adalah masalah ketimpangan kebutuhan dan persediaan jangka panjang. Peristiwa yang sedikit saja mengganggu arus aliran suplai minyak dunia mengakibatkan sesuatu yang mendekati keadaan “krisis”. Dan bisa diharapkan bahwa “krisis-krisis” semacam itu akan muncul di hadapan kita dari waktu ke waktu selama dasawarsa mendatang ini dan bahkan sesudahnya, sampai sumber energi baru yang bisa menggantikan peranan minyak telah dikembangkan dan dipergunakan secara besar-besaran.
Bagaimanakah pengaruh kelangkaan minyak ini terhadap pola perekonomian dunia dalam dasawarsa mendatang? Apakah implikasi dari konstelasi keadaan tersebut bagi negara kita? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat penting untuk dikaji dan dicari jawabannya, karena menyangkut kelangsungan program pembangunan dan bahkan mungkin juga survival kita sebagai suatu bangsa di arena politik dan perekonomian dunia.
Karangan singkat ini tidak berpretensi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang besar dan penting ini. Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut secara mantap dan tuntas, perlu pengkajian fakta dan masalah secara lebih mendalam daripada apa yang bisa disajikan di dalam makalah “semi-populer” seperti karangan ini. Yang ingin disajikan adalah suatu “skenario” masa depan yang mungkin terjadi dan kemudian menarik beberapa pelajaran dan kesimpulan yang relevan bagi tindakan-tindakan kita untuk beberapa tahun mendatang ini.
Skenario adalah bukan ramalan. Beberapa pembaca (dan Herman Kahn) akan menjumpai skenario ini mencerminkan pesimisme yang berlebihan. Namun, yang perlu diingat adalah bahwa kemungkinan terjadinya skenario ini, tak bisa diabaikan begitu saja. Tujuan karangan ini adalah untuk sekali lagi menggugah kita bahwa masa depan itu tidak selalu penuh dengan bunga mawar, dan bersantai-santai sekarang (selagi minyak ada pada kita) bisa memiliki konsekuensi yang serius di masa depan.
Perekonomian dunia tahun 1980-an
Skenario ini diawali dengan mengingatkan diri kita pada suatu fakta dasar, yaitu bahwa hampir semua ramalan mengenai minyak dunia, mulai dari yang dibuat OECD, MIT, CIA, maupun oleh OPEC sendiri dan banyak badan-badan lain, menunjukkan akan timbulnya kekurangan minyak secara global menjelang akhir dasawarsa 80-an. Kelangkaan ini bersifat mendasar (dan lebih serius) dibanding dengan kelangkaan sementara yang disebabkan oleh embargo atau revolusi Iran. Setelah pertengahan 1980-an, sudah tidak cukup lagi minyak di dalam bumi yang tersedia untuk ditambang untuk memenuhi kebutuhan dunia. Jadi, dengan atau tanpa embargo, atau OPEC, minyak tidak akan lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan dunia. Lebih dari itu, kekurangan minyak ini akan tetap timbul meskipun kita memasukkan kemungkinan yang realistis mengenai penggantian minyak dengan sumber energi lain, terutama nuklir, batubara, gas alam dan tenaga air. Hasil studi oleh grup MIT menunjukkan bahwa bahkan setelah dimasukkannya kemungkinan penggantian sumber tenaga minyak dengan non-minyak, minyak bumi masih harus memenuhi sekitar separuh dari kebutuhan energi total dunia dan terutama sekali akan dipergunakan untuk sektor transportasi dan industri petrokimia, di mana peranan minyak sulit untuk diganti oleh sumber-sumber energi lain. Diperkirakan bahwa 1985 adalah tahun kritis dari situasi minyak dunia dan menjelang tahun 2000 kekurangan minyak bisa mencapai 30 persen dari produksi total dunia di luar grup komunis. Apakah arti dari ini semua? Apakah implikasi dari ramalan ini bagi konstelasi perekonomian dunia?