Jumlah orang-orang yang berpindah dari daerah-daerah di Jawa dalam satu tahun sangat rendah; tingkat emigrasi tahun 1970 bergerak antara 0,11% untuk Jawa Timur dan 0,72% untuk Yogyakarta.1 McNicoll, dalam pembicaraannya di tahun 1968 tentang perpindahan penduduk di Indonesia, justru menunjuk kepada stabilitas seluruh populasi.2 Sangat rendahnya tingkat perpindahan penduduk itu, dapat diterangkan oleh kuatnya keterikatan orang-orang Jawa kepada desa-desa mereka, suatu keterikatan baik kepada anggota-anggota keluarga, kepada keenakan suatu lingkungan sosial dan kepada kuatnya perasaan-perasaan rohani, yang berhubungan dengan obyek-obyek fisik di dalam desa. Karena orang Jawa lebih menyenangi tempat di mana kekuatan-kekuatan sosial dan kosmis berada dalam harmoni (cocok) daripada suatu pusat-kota di mana kekuatan-kekuatan mengalami diskordansi dan menyebabkan seseorang kacau dan bingung, mereka, untuk sebagian besar, enggan dan menolak untuk meninggalkan desa-desanya.
Akan tetapi, kalau daya-tarik kehidupan desa demikian kuatnya, mengapa ada orang yang mau meninggalkan desanya? Bahwa banyak juga yang berpindah tempat, dapat ditunjuk dengan baik oleh sensus penduduk tahun 1930 dan 1971. Maka persoalannya adalah: tenaga atau kekuatan-kekuatan manakah yang memisahkan orang-orang Jawa yang berpindah tempat dari separuh lain yang memutuskan untuk tetap tinggal? Suatu studi empiris tentang tingkah laku migrasi tiap pendatang di Jakarta3, cukup mengisyaratkan bahwa orang akan berpindah ke kota-kota kalau ada harapan bahwa pendapatan akan lebih tinggi di sana daripada di desa-desa mereka; studi itupun menunjuk bahwa perbedaan ini pada dasarnya disebabkan oleh suatu perasaan intuitif bahwa di desa kerja kurang dapat diharapkan dan karena itupun pendapatan akan tidak mencukupi. Dengan demikian, persoalannya bukanlah: mengapa penduduk berpindah tempat, tetapi: manakah sifat hakiki daripada proses di desa-desa Jawa yang memungkinkan seseorang mendapat pekerjaan dan karena itu memperoleh pendapatan sesungguhnya?
Untuk memahami sistem alokasi pekerjaan yang sekarang, saya akan menyelusuri perkembangan hubungan-hubungan produksi di desa-desa Jawa sejak abad 19. Model teoritis yang ada sekarang ini, meskipun konsisten dengan data-data mikro dari studi tentang para pendatang Jawa di Jakarta, tidaklah berasal dari riset tingkat desa, yang merupakan satu-satunya jenis riset yang secara syah dapat menguji model tersebut. Sebelum ada studi tentang desa-desa, maka teori yang dipakai di sini, dapat dianjurkan sebagai suatu penjelasan tentang gejala-gejala sekarang, yang cukup konsisten ke dalam (internally consistent), untuk menerangkan pengangguran di desa yang semakin bertambah dan perpindahan penduduk ke kota-kota, seperti terlihat di Jawa sekarang.
* Artikel ini merupakan terjemahan dari kertas karya untuk Seri Seminar tentang Pembangunan dan Persamaan (Development and Equality Series), pada Research School for Pacific Studies, Australian National University, Canberra, Desember 1975.
1 Sensus Penduduk Indonesia 1971, tabel-tabel pendahuluan, Biro Pusat Statistik, Jakarta, Indonesia
2 Geoffrey McNicoll, “Migrasi Internal di Indonesia: Catatan Deskriptif”, Indonesia, April 1968, hal. 36.
3 Gordon Temple, “Migration to Jakarta”, BIES, Maret 1975, hal. 76-81.
