Indonesia telah mengupayakan tercapainya proses industrialisasi sejak negeri ini merdeka. Namun, hingga kini tantangan tersebut belum terjawab. Apa yang terjadi justru sebaliknya persoalan ekonomi masih terus berulang dan bahkan ada kecenderungan semakin dalam. Misalnya, tingkat pertumbuhan yang persisten relatif rendah, tingkat kemiskinan, ketimpangan, produktivitas yang rendah dan sebagainya. Padahal, negeri ini kaya akan sumber daya alam bukan hanya di darat, tetapi juga di lautan; karakteristik yang belum tentu dimiliki negeri lain di dunia. Mengapa industrialisasi penting? Karena ia dapat menjawab persoalan ekonomi tersebut mulai dari penyerapan tenaga kerja, fondasi ekonomi domestik yang kuat, hingga pengembangan teknologi yang dapat dijual. Hal tersebut tentu penting seiring dengan perkembangan zaman. Yang kini sedang terjadi Indonesia dapat saja dikatakan deindustrialisasi atau mungkin reindustrialisasi, namun perlu dipahami lebih dahulu apa yang dimaksud dengan industrialisasi sebelum menyusun sebuah kebijakan. Kerap kali kebijakan dibuat demi kepentingan jangka pendek dengan mengabaikan industrialisasi. Membuat tercapainya industrialisasi tentu memerlukan waktu karena berkait dengan teknologi dan konsolidasi sektor, sehingga tidak mungkin direalisasikan dengan kebijakan sesaat, seperti membuat atau menjual pisang goreng. Industrialisasi juga memerlukan pengembangan keterampilan yang dapat disediakan oleh balai riset yang selama ini makin terabaikan. Balai riset dapat menciptakan teknologi yang dapat menghasilkan lisensi untuk kemudian dijual. Teknologi tersebut tentunya sesuai dengan kebutuhan sektor. Dengan demikian, pengembangan sektor sebagai pilar ekonomi domestik menjadi penting. Pengabaian atas sektor berarti pengabaian terhadap ekonomi domestik. Sebagai negeri kelautan, sektor apa yang dinilai makin penting dan menentukan serta teknologi seperti apa yang dapat menyatukan? Untuk itu, Redaktur Ekonomi Jurnal Prisma Fachru Nofrian Bakarudin mewawancarai Saswinadi Sasmojo, Senior Research Advisor pada Center for Energy Policy Studies, berbincang soal penegasan kembali Indonesia sebagai negeri kelautan dan relevansinya dengan proses industrialisasi. Berikut sebagian petikannya

Saswinadi Sasmojo adalah anggota Akademi Ilmu Pengetahhuan Indonesia (AIPI) di Komisi Ilmu Rekayasa sejak 2002. Profesor Emeritus Bidang Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kelahiran Pati, Jawa Tengah, 14 Oktober 1937 itu, lulus sebagai Sarjana Teknik Kimia (Januari 1963) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan diangkat menjadi asisten ahli di Departemen Teknik Kimia ITB yang dijalaninya selama 6 bulan. Melanjutkan studi dan meraih gelar MSc Chemical Engineering (1965), dari University of Wisconsin, Madison, AS. Gelar PhD Chemical Engineering (1969) diperolehnya dari The Ohio State University, Columbus, AS. Pengajar di ITB (1993-2002) ini mengakhiri karier sebagai pengajar dengan jabatan Guru Besar Bidang Teknik Kimia. Pernah ditunjuk menjadi Project Team Leader di Kementerian Keuangan untuk Information System Development Program (1970-1972). Setelah pumabakti sebagai pengajar di 1TB, aktivitas dan arah perhatian utamanya tertuju pada upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas nasional dalam ilmu-pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan pemfungsian ilmu-pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan masyarakat. Pernah menjadi Direktur di DEL Politeknik Informatika (2004-2008) dan Research Advisor di Center for Energy Policy Studies (sejak 2010).