Di permukaan, masalah lingkungan hidup kelihatannya sederhana saja: itu adalah soal sampah, buangan industri dan berbagai bentuk pencemaran alam lainnya. Ada pula soal pemeliharaan kelestarian sumberdaya alam, seperti tampak dalam soal penghijauan dan penghutanan kembali. Akan tetapi direntang lebih dalam, soal lingkungan ternyata tidak sesederhana itu. Ia hampir-hampir merupakan bagian dari sebuah pandangan hidup. Ia merupakan kritik terhadap pemujaan teknologi, pengurasan energi, pengejaran “pertumbuhan” optimal dan konsumsi maksimal. Bahwa ia lahir sebagai sebuah kritik, bisa dilihat dari kenyataan bahwa himbauan ini terdengar pertama kali di negara maju, yang sudah mengalami suka-duka teknologi tinggi, urbanisasi dan revolusi industri. Teknologi adalah lambang penaklukan manusia terhadap alam, dan urbanisasi dalam kenyataannya memang telah menceraikan manusia dari keakrabannya dengan alam. Revolusi industri merangkum keduanya dan menyediakan suatu dunia baru yang artifisial, yang tidak alami, yang hiruk pikuk, serba batu, semen dan besi.
Di tengah dunia buatan ini, gerakan lingkungan menghimbau manusia buat kembali kepada alam. Bukan dalam bentuk kehidupan primitif purba, tetapi kepada dunia moderen yang lebih hormat, lebih akrab, dan lebih sayang kepada alam. Ini adalah sebuah pandangan hidup yang melihat manusia tidak sebagai makhluk terkecil yang setiap kali harus berperang dengan alam, tetapi sebagai bagian daripadanya. Perhatian terhadap lingkungan hidup digalakkan dengan warta tentang malapetaka dunia. Sumber-sumber alam akan habis dalam waktu tak lama lagi, jika terus dikuras pada tingkat kecepatan dan volume sekarang-demikian dipesankan oleh Limits to Growth yang terbit di awal tahun 70-an. Tentu, himbauan ini mulai diperdengarkan di negara-negara maju yang telah begitu lama bergelimang dalam kenikmatan dengan menguras habis-habisan sumberdaya planet kita bersama. Kebisingan jutaan mobil, deru pabrik dan lampu-lampu iklan yang gemerlapan di pemukiman manusia moderen-megalopolis-semuanya menguras energi. Kejutan harga minyak telah menggoncangkan sendi-sendi megalopolis itu; dan mulailah berkembang kesadaran, bahwa segala bentuk kemakmuran dan kemewahan yang gegap gempita ini, harus dibayar mahal. Bayaran itu malahan bisa mahal sekali-sebab kehancuran bisa saja terjadi-jika tiada lagi batas. Maka, dalam garis kewangsaan ekonomi, yang diangkat jadi nenek moyang gerakan ini bukan lagi Adam Smith yang mengajarkan efisiensi kerja di sebuah pabrik peniti, tetapi David Ricardo, yang mengajarkan hukum kenaikan hasil yang berkurang. Ada batas buat produktivitas alam, pengurasan sumberdaya, dan pengejaran kemakmuran.
Juga peradaban manusia mengenal titik habis. Itu terjadi di Roma, terjadi di Mesopotamia dan mungkin sekali di megalopolis kita. Ada fajar buat peradaban, ada tengah hari, tetapi ada juga rembang petang-suatu gejala yang didengungkan kembali dari Spengler dan Toynbee, walaupun berbeda tentang sebab musababnya. Perhatian terhadap kelestarian lingkungan barangkali merupakan bagian dari sebuah pandangan keprihatinan. Ia merupakan kritik terhadap over optimisme tahun 1960-an yang mencanangkan satu dasawarsa pembangunan yang serba gilang-gemilang. Ia merupakan sebuah pandangan hidup yang prihatin, mawas diri dan berbau nestapa dari sebuah peradaban yang mulai merasa tua. Barangkali itulah sebabnya banyak bangsa-bangsa muda kurang tertarik kepadanya. Beberapa negara yang sedang memulai industrialisasi-seperti Brazil misalnya-konon secara lantang pernah menantang: “Kami mengundang pencemaran”. Dan teresenyumlah yang tua, termasuk yang muda-muda yang mau belajar dari pengalaman mereka yang telah “banyak makan garam”. Dan kita? Rasanya masih ada akar-akar pandangan lama tentang kemanunggalan manusia-alam raya, juga tradisi mawasdiri, keprihatinan dan kesederhanaan. Tetapi seberapa jauh semua itu tahan terhadap godaan lomba kemakmuran yang gemerlapan?