Prisma

Olahragawan: Yang Malang dan Yang Mujur

Pengantar

Dalam “Dialog” kali ini tampil olahragawan yang sudah “turun panggung.”

Dua di antaranya adalah atlit periode 1950-an, I Gusti Putu Okamona dan Maridjo. Yang seorang lagi, Judo Hadijanto, kiper nasional yang menjaga gawang PSSI selama 16 tahun. Mereka adalah tiga di antara sekian banyak olahragawan kita, yang dahulu sering mengambil perhatian, namun kini tak lagi diingat orang. Emosi publik, dahulu sangat dekat dengan mereka, disanjung atau dicela, dan mungkin pula dielu-elukan atau disesali. Kini setelah popularitas lenyap mereka pun luput dari semuanya itu.

Okamona kini menjadi Kepala Bagian Pembinaan Olahraga pada Kanwil P dan K Bali. Maridjo sekarang jadi pegawai pada Korem 072 Pamungkas Yogyakarta, sebagai pegawai sipil Angkatan Darat golongan I/B, juru muda tingkat I dan Judo menjadi karyawan Pertamina. Mereka bercerita banyak tentang dirinya masing-masing.

Karena hobby sejalan dengan karirnya, Okamona menyebut dirinya beruntung. Tetapi Maridjo tidak seperti itu, dan rupanya dia agak kecewa. Dengan satu isteri dan empat anak, bekas atlit pelompat tinggi itu kini menempati rumah gedeg dengan hak magersari (hak pakai) di Yogyakarta. Medali-medali yang diperolehnya ketika berjaya dulu, kini tersimpan dalam besek. Namun Judo, selain mendapat mobil dinas dari Pertamina, juga punya rumah di Pasar Rebo dan mengusahakan restoran kecil di Jalan Asia Afrika, Jakarta. Baginya, semuanya itu adalah “hasil sepakbola.”

Ada bekas olahragawan yang lebih beruntung dari Okamona dan bernasib lebih baik dari Judo. Tapi, mungkin ada pula yang kurang beruntung dibandingkan Maridjo. Di samping beberapa pandangan tentang olahraga, “nasib” olahragawan setelah “pensiun” itulah yang dibicarakan lewat “Dialog” kita ini. Redaksi.

Ratakan anggaran dan perhatian, I Gusti Putu Okamona, Kepala Bagian Pembinaan Olahraga Kanwil P dan K Propinsi Bali, bekas juara nasional untuk lompat tinggi.

Saya lahir 48 tahun yang lalu, 26 Agustus 1930, dan masuk sekolah menengah pada zaman pendudukan sesudah proklamasi kemerdekaan. Di Bali pada masa itu ada dua jenis sekolah: yang dibuka oleh pemerintah pendudukan dan yang diusahakan pemerintah republik. Kedua jenis sekolah ini bersaing. Saya belajar pada Sekolah Lanjutan Umum yang dibuka oleh republik. Dan jika ada pertandingan olahraga, dengan dorongan guru-guru, kami selalu ingin menunjukkan bahwa sekolah kami lebih baik. Ini terjadi sekitar tahun 1946 dan 1947.

Sebenarnya keberhasilan saya di bidang olahraga, pada mulanya diawali oleh kesenangan saya sendiri. Saya suka pada sepakbola dan senang dengan atletik. Akhirnya, tahun 1956 saya memecahkan rekor nasional untuk lompat tinggi dalam seleksi PASI di Yogyakarta untuk Olympiade Melbourne. Lompatan saya 1,96 meter. Rekor ini bertahan selama 19 tahun, sampai ia ditumbangkan orang lain dengan lompatan 1,97 meter pada tahun 1975 dan naik menjadi 1,98 meter pada tahun 1976.

Ketika akan ke Melbourne itu, dengan tinggi badan 1,80 meter, berat saya 70 kilogram. Kini 83 kilogram. Kesenangan akan olahraga telah memberikan beberapa keuntungan buat saya.

“Saya ingin ditransmigrasikan” Maridjo, Pegawai sipil AD, anggota pendidikan jasmani cabang Korem 072 Yogyakarta, bekas atlit 1950-an

T: Bagaimana rasanya pernah jadi atlit terkenal?

J: Cukup puas. Dulu saya sering ke luar negeri. Ke Australia, Tokyo. Terlebih lagi kalau saya gondol medali. Begitu juga dalam perlombaan atletik di dalam negeri mewakili daerah. Saya sangat terkesan dan puas, terutama ketika ikut Olympiade XVI di Melbourne, Australia tahun 1956. Waktu akan berangkat, bersama teman-teman atlit lainnya diundang makan di Istana oleh Pak Karno. Dan ketika di Australia saya dapat nomor 12 dari 16 peserta, saya diangkat teman-teman dari negara lain dan difoto. Senang sekali. Saya ikut mengibarkan bendera merah putih. Juga di Tokyo, sewaktu Asian Games III 1958. Saya betul-betul puas.

T: Sejak kapan terjun ke dunia atletik?

J: Mulanya awur-awuran saja. Saya memang senang olahraga. Ketika masih kecil saya senang sepakbola meskipun kampungan. Pernah juga ikut seleksi PSIM Yogya. Kemudian latihan lari dan lompat di bawah Pak Kadarisman. Karena prestasi agak lumayan, saya diikutkan dalam training centre. Saya lupa tahunnya. Prestasi saya yang menonjol adalah lompat tinggi dan dasalomba.

Manfaatkan “nama” dan “relasi”, Judo Hadijanto, karyawan Pertamina, penjaga gawang PSSI (1960-1976)

Makna pepatah “habis manis sepah dibuang” masih berlaku dalam dunia olahraga kita. Ini harus diakui. Karena itu, setiap atlit harus bisa membagi waktu, antara usaha meningkatkan prestasi di bidang sport dengan usaha mempersiapkan masa depan. Agar tidak menemui masa suram setelah prestasi merosot dan tak terpakai lagi harus kita pergunakan “keahlian”. Semuanya memang melalui suatu perjuangan. Dan ini tentunya banyak tergantung pada pembawaan masing-masing orang.

Jika berhasil menjadi atlit yang ternama, sebenarnya kita dapat mencari relasi buat bekerja. Relasi ini harus dimanfaatkan dengan cara-cara yang wajar dan dengan jalan yang benar. Approach yang dilakukan harus baik. Sekali-kali jangan mau enak sendiri mentang-mentang kita jadi atlit ternama.

Olahraga memang belum mungkin menghidupi dan memberikan jaminan buat atlit. Apalagi tidak semua cabang olahraga yang bisa memberikan jaminan bagus selama kita berprestasi baik. Mungkin sepakbola dan bulutangkis di negeri kita tergolong “gemuk,” tetapi tidak demikian dengan cabang-cabang yang lain. Karena jaminan itu tidak bisa diberikan oleh olahraga, kita harus mencari jaminan tersebut lewat “hasil lain” yang diciptakan oleh prestasi kita dalam sport.

Kawan-kawan saya bekas anggota kesebelasan nasional rata-rata bernasib baik. Jika ada satu-dua orang yang kurang beruntung, tentu disebabkan oleh pribadinya sendiri. Mungkin dia boros. Atau mungkin karena gangguan lain: misalnya patah,hati, dan sebagainya.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan