Prisma

PENGANTAR REDAKSI

DALAM perspektif sejarah Indonesia modern, nasionalisme semula dipahami sebagai manifestasi patriotisme radikal melawan kolonialisme dan imperialisme. Bung Karno dan para tokoh pergerakan nasional lainnya, misalnya, yakin bahwa semangat nasionalisme telah membangun rasa percaya diri untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Keyakinan seperti itu, jelas lebih memperluas dan mempertegas makna nasionalisme seperti yang dikemukakan oleh Hans Kohn dalam The Idea of Nationalism. Kohn melihat nasionalisme sebagai sikap mental di mana loyalitas seseorang adalah untuk negara nasional serta proses integrasi massa rakyat dalam kebersamaan politik, sementara para protagonis ideologi nasionalisme di Indonesia pada zaman pra-kemerdekaan melihat nasionalisme adalah renaissance bangsa-bangsa Timur, atau non-Barat dan yang terjajah, untuk bangkit memerdekakan diri. Kesadaran intelektual dan sikap politik seperti itu ternyata memberikan hasil dengan adanya proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Tetapi sebagai produk dari kekuatan-kekuatan yang hidup dalam sejarah, nasionalisme suatu bangsa secara dialektis akan selalu dihadapkan pada perubahan dan tantangan baru yang ada dalam masyarakat. Kenyataan ini juga dialami oleh nasionalisme kita.

Dalam tahapan mengisi kemerdekaan, di samping melakukan konsolidasi, para tokoh pergerakan nasional yang duduk dalam pemerintahan kemudian mengatur penyelenggaraan organisasi negara. Mereka membenahi kekuatan-kekuatan rakyat yang kurang terorganisir dalam tahun-tahun revolusi fisik. Rakyat kemudian juga ditarik dalam gerakan-gerakan politik — dengan cara yang menimbulkan harapan-harapan — hingga mereka merasa berhak atas suatu kehidupan yang lebih pantas, dan menjadi peserta aktif cita ideal (das Sollen) dari nasionalisme yang diharapkan bisa membangun hari depan yang lebih baik. Mobilisasi tenaga-tenaga rakyat dilakukan sementara negara menempuh sistem Demokrasi Parlementer. Negara juga mencoba menyempurnakan konstitusi, mengembangkan kehidupan kepartaian bahkan menyelenggarakan pemilihan umum yang demokratis. Sayangnya, kata Herbert Feith, eksperimen itu tidak menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Pada tahun 1950-an kabinet-kabinet berjatuhan; seringkali sebelum mereka berbuat banyak dalam melaksanakan programnya. Apa boleh buat, das Sein tidak sesuai dengan das Sollen. Demokrasi Terpimpin akhirnya muncul sebagai akibat dari kabinet-kabinet koalisi yang sering jatuh dan pertentangan yang semakin kompleks. Kekuatan-kekuatan rakyat dibatasi, sementara kekuasaan pemerintah semakin besar. Nasionalisme kembali digelorakan, tapi dengan romantisme “revolusi belum selesai”. Akibatnya, meletuslah pemberontakan G 30 S/PKI.

Orde Baru lahir dengan mencoba memberikan alternatif Demokrasi Pancasila, yang bertujuan mengembalikan nilai-nilai Pancasila secara murni dan konsekuen. Dalam era Orde Baru, terdapat kecenderungan nasionalisme tidak diidealisasikan dalam semangat ideologis, tapi diletakkan dalam parameter “partisipasi dalam pembangunan”. Nasionalisme, dengan demikian lebih berdimensi pragmatis, sebaliknya pembangunan berkembang menjadi semacam “ideologi”.

Zaman berubah, musim berganti. Setiap generasi mempunyai masalah dan tantangan nya sendiri. Dalam lintasan dunia yang makin global, relevankah mempersoalkan dan menilai kembali perjalanan nasionalisme Indonesia? Almarhum Soedjatmoko memberikan jawaban yang menyejukkan: “Saya justeru melihat perjalanan nasionalisme kita sebagai proses belajar (learning process) masyarakat Indonesia . . . ” Dengan kata lain, Bung Koko mengajak kita untuk tidak menghakimi sejarah, tetapi mencoba memahaminya secara lebih cerdas dan arif. Nasionalisme memang bukan sekedar soal semangat dan loyalitas pada negara, tetapi memerlukan sikap kenegarawanan. Dan mereka yang menulis serta diwawancarai Prisma nomor ini, yakni Sutan Takdir Alisjahbana, Moerdiono, Rachmat Witoelar, Fadel Muhammad serta almarhum Soedjatmoko sendiri; serta Sritua Arief, Mochtar Pabottingi, dan Juwono Sudarsono tampaknya telah menyuarakan aspirasi dan posisinya masing-masing tentang mosaik perjalanan nasionalisme kita.

Prisma edisi “Nasionalisme” kali ini dipersiapkan dan digarap oleh Redaktur Tamu — M. Syafi’i Anwar.

Redaksi

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan