MEMBICARAKAN kebudayaan berarti bercermin ke peradaban. Tapi siapa peduli dengan peradaban, kecuali para seniman, cerdik cendekia, arsitek, perancang industri, perancang mikro chip, ahli fisika dan genetika, perencana kota, teknokrat, dan lain sebagainya; pendeknya semua yang dianggap ahli atau white collar dalam pembagian kerja kapitalis? Tapi siapa yang membangun kapitalisme? Siapa yang mengubah alam menjadi peradaban? Siapa yang menciptakan barang-barang kebutuhan hidup? Siapa yang mengeluarkan tenaga dan mengubahnya menjadi kerja? Tentu bukan hanya mereka yang dianggap sebagai pekerja putih, seniman dan budayaawan. Ada sejenis ras manusia yang dilupakan, disingkirkan, yakni mereka yang berada pada mata rantai paling pinggir dalam proses kerja industri. Mereka yang mengubah bahan-bahan menjadi komoditi, tapi tidak memiliki kontrol terhadap proses kerja, tidak menguasai sarana produksi, hanya memiliki tenaga untuk dijual ke pemodal, ke pasar tenaga kerja, dan sebagai imbalan kerjanya cuma menerima upah. Mereka adalah labor, jantung penggerak kapitalisme sejak revolusi industri di abad ke-18.
Kiranya, itulah yang dimaksud jika kita hendak menyimpulkan bahwa “tak bisa dibuat sebuah disain besar kebudayaan”, apalagi mencoba-coba dengan model perekayasaan. Karena bukan hanya ada begitu banyak pekerja dan pekerjaan yang harus terlibat dan dilihatkan dalam menciptakan peradaban industri kita, dengan kelimpahan sekaligus kemiskinannya, kemajuan sekaligus keterbelakangan; melainkan juga karena mayoritas manusia pekerja hanya dihargai melalui sistem upah. Mereka tidak diakui sebagai seniman, karena yang mereka ciptakan dianggap bukan karya seni tapi komoditi. Mereka bukan termasuk budaya-wan, karena dianggap tidak berbudaya adiluhung (lihatlah tubuh-pakaian mereka: dekil dan kumal, lihatlah omongan mereka: kasar dan jorok). Mereka juga bukan sastrawan, karena di percetakan mereka dianggap cuma menggerakkan otot untuk mesin-mesin huruf dan cetak, tanpa otak. Mereka juga bukan perencana atau perancang, karena mereka dianggap tak berpandangan luas ke depan, hanya memikirkan hidup untuk sekedar makan hari ini. Mereka juga bukan pemusik, karena gemuruh dan desing suara mesin yang mereka ngani seolah tak berirama, tak berharmoni. Mereka juga bukan arsitek, karena dianggap hanya mampu menyusun batu bata dan mendirikan kuda-kuda.
Tetapi, jika semua anggapan tersebut coba dihapuskan, demi humanisme misalnya dengan memunculkan anggapan baru: “semua orang adalah pencipta kebudayaan” atau mengganti istilah “buruh” dengan “karyawan”, apakah serta merta mereka akan naik kelas menjadi pencipta peradaban? Jawabannya akan mustahil, jika pandangan kita pun tentang sejarah manusia dan kebudayaannya belum beranjak dari tahap pra-kapitalis, jika kita hanya mau menerima dunia seperti apa adanya kini: terbagi antara pemodal dan pekerja, pekerja otak dan para pekerja tangan, antara “kerja konkret” dan “kerja abstrak” — tanpa mengubahnya dengan tangan-tangan sekaligus otak kita untuk menciptakan masyarakat baru. Redaksi
Pemimpin Umum: Arsenal Harahap; Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad; Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, Ismid Hadad, M. Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz, Paulus Widyanto; Redaktor Pelaksana: Paulus Widyanto; Staf Redaksi: Nur Iman Subono, E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo; Sekretaris Redaksi: Tri Wijayati; Pemimpin Perusahaan: Maruto MD; Wakil Pemimpin Perusahaan: Arys Sutarman; Sirkulasi: M. Sholeh, Sukandar; Iklan: Arys Sutarman; Tata Usaha: Nina Herliana, Sunarwanto; Produksi: Awan Dewangga, Suradi Suprapto, Yahya Sukaria.
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301 – 6269. SIIPP: No. 072/SK/MENPEN/SIUP/P/D.1/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420; Telepon: 5663525, 5663527 (direct), 5667139, 5667141, 597211; Kotak Pos 6275/11062, Jakarta 11062. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta, Nomor Rekening 004.0010.5; Pencetak: PT. Temprint.