Pengantar
Suatu tulisan yang mencoba memberikan suatu gambaran yang menyeluruh mengenai pembagian pendapatan di Indonesia pastilah merupakan percobaan yang terlalu berani. Sebab belum ada suatu penelitian khusus tentang ini yang mencakup seluruh Indonesia. Setidak-tidaknya belum pernah ada yang diumumkan. Apa yang ada hingga kini adalah penelitian sebagian-sebagian, atau perkiraan-perkiraan yang kesemuanya masih harus mencantumkan kata “sementara” pada datanya, analisanya maupun kesimpulannya. Akan tetapi suatu peta kasar tentang medan permasalahannya toh diperlukan sebelum orang memasukinya lebih jauh. Paling tidak bagi mereka yang belum pernah mendengar apa-apa tentang medan. Jadi peta itu harus disusun, dengan menggunakan bahan-bahan seadanya, yang kebanyakannya merupakan peta singkat tentang bagian-bagian medan. Sungguhpun demikian, tulisan ini masih juga terlalu berani. Sebab suatu peta tentang medan—bagimanapun kasarnya—seharusnya datang dari pengamat yang ahli dan berwenang, bukan dari kalangan awam yang secara kebetulan tertarik untuk melakukan pengamatan. Akan tetapi jika pengamat yang ahli dan berwenang tak satupun yang datang untuk melakukan tugas pembuatan peta itu, orang lain toh harus menggantikan. Sebab kebutuhan untuk sebuah peta kasar, atau sketsa selayang pandang tentang pembagian pendapatan di negeri kita, tidak bisa menunggu. Terutama karena kita telah memberanikan diri untuk menyajikan suatu nomor khusus tentang ini. Dalam keterbatasan seperti inilah tulisan ini disajikan.
Pembangunan dan perataan pendapatan
Perkembangan ekonomi modern dan modernisasi sosial yang mengiringinya, menurut Professor Kuznets, adalah semacam “revolusi yang terkontrol”, suatu proses transisi yang sulit, di mana pergeseran-pergeseran dalam kelompok-kelompok kepentingan dan perubahan strukturil berlangsung dengan cepat sekali. Terdapat efek-efek yang cukup menggelisahkan dalam pembagian pendapatan relatif di antara berbagai kelompok yang terkait dalam berbagai sektor produksi, dengan pengangguran teknologis (technological unemployment) yang menandai beberapa dekade dalam masa transisi.1 Sudah sejak tahun 1954 ia mulai menginsyafi adanya hubungan dilematis antara pertumbuhan ekonomi dan pembagian pendapatan. Pola ketidak merataan pendapatan digambarkan sebagai huruf U terbalik, menanjak pada fase-fase pertama pertumbuhan ekonomi, kemudian melandai ke arah kemerataan sesudah beberapa puluh tahun.
* Tulisan ini disiapkan oleh Redaksi untuk menggantikan artikel yang sampai saat terakhir tidak datang dari penulis yang diharapkan memberikan gambaran umum tentang ini. Redaksi menyampaikan terima kasih kepada Dr. Thee Kian-wie, Hendra Esmara dan Dr. Peter D. Weldon atas bahan-bahan, petunjuk-petunjuk dan bantuan yang telah diberikan hingga naskah ini mungkin disajikan. Sekalipun demikian, tanggung jawab atas naskah ini sepenuhnya ada pada Redaksi.
1 Simon Kuznets, Kata Pengantar dalam Laporan Acara dan Kertas Karya (Papers and Proceedings) Seminar tentang Distribusi Pendapatan, Kesempatan Kerja dan Pembangunan Ekonomi Asia Tenggara dan Timur, Vol. I, Juli 1975.