Prisma

Pembangunan Berkelanjutan

Strategi Alternatif dalam Pembangunan Dekade Sembilan Puluhan*

Pembangunan Ekonomi yang berjalan dewasa ini, sering disebut dengan pola Pembangunan Konvensional, harus diakui pernah terbukti meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di negara-negara industri maju. Dapat dipahami jika dunia ketiga, termasuk Indonesia berupaya untuk meniru pola tersebut. Namun demikian, tulis Emil Salim saat ini pola tersebut sudah usang dan bahkan menimbulkan dampak yang negatif, sehingga pola alternatif perlu diajukan; ini kemudian dikenal dengan pola Pembangunan Berkelanjutan.

PEMBANGUNAN Indonesia banyak ditopang oleh kebijakan-kebijakan yang memperhitungkan ilmu ekonomi pembangunan. Ilmu ini senantiasa tumbuh dan praktis pada setiap dasawarsa memberi tekanan pada salah satu arahan tertentu.

Tahun sembilan-puluhan ini diramalkan menjadi dasawarsa dengan tekanan pada pola pembangunan berkelanjutan, sehingga berbagai kelayakan perlu disesuaikan dengan pola pembangunan ini.

Uraian ini bermaksud mengkaji pola pembangunan berkelanjutan untuk ditelusuri makna pengaruhnya bagi pembangunan Indonesia.

Mengapa Pembangunan Berkelanjutan?

Pola pembangunan berkelanjutan akhir-akhir ini semakin banyak diterima sebagai koreksi terhadap pola pembangunan yang konvensional. Semakin banyak orang merasa bahwa pola pembangunan konvensional telah melampaui batas kegunaannya dan bahkan sekarang ke jurusan yang merugikan manusia.


* Tulisan ini merupakan hasil gabungan dua buah makalah Emil Salim berjudul “Pola Pembangunan Berkelanjutan Dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia Jangka Panjang Kedua” dan “Peningkatan Pengelolaan Sumberdaya Alam Berdasarkan Asas Manfaat Maksimal dan Lestari untuk Sebesar-besarnya Kemakmuran dan Kesejahteraan Rakyat Banyak”.


Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan